5 Cara Menumbuhkan Ide Menulis

5 Cara Menumbuhkan Ide Menulis

Seorang penulis, baik itu jurnalis, novelis, cerpenis, ataupun kolomnis harus kaya akan ide-ide yang fresh, kreatif, inovatif, dan lainnya. Karenanya ide harus mutlak selalu ada dalam benak penulis. Bagaimana caranya kita menemukan ide tersebut lalu mengembangkannya menjadi sebuah tulisan yang renyah dan enak dibaca? Setidaknya ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan ide, antara lain:

  1. Rajin membaca buku.

Ini harga mati bagi siapapun yang ingin bercita-cita jadi penulis. Kenapa membaca buku? Setidaknya menurut Heru dan Sutardi ada tiga alasan mengapa kita harus membaca buku. Pertama, apa yang kita tuliskan adalah pengetahuan atau imajinasi, maka kekayaan pengetahuan menjadi syarat mutlak untuk menjadi penulis yang baik. Kedua, dengan membaca pengetahuan kosakata lebih banyak dan bervariatif. Dan ketiga, dengan membaca juga membuat kita kreatif untuk menemukan ide-ide baru.

Karena sejatinya apa yang kita tulis adalah representasi dari apa yang kita rasakan dan kita pikirkan. Jika tulisan kita “jelek” maka itu pasti berhubungan dengan pengetahuan kita yang terbatas. Jadi, sudah jelas kiranya bahwa modal menulis adalah membaca. Pepatah bijak pun mengatakan, “sebelum menjadi penulis yang baik, harus menjadi pembaca yang baik dulu”.

  1. Membaca Fenomena

Lebih lanjut, menurut Heru dan Sutardi, selain membaca buku, hal yang tidak kalah penting adalah membaca fenomena. Jika membaca buku itu untuk ilmu pengetahuan dan imajinasi (intelektual), maka membaca fenomena itu untuk kepekaan rasa (emosional) penulis.

  1. Banyak silaturahmi

Ya, untuk yang satu ini memang banyak sekali manfaatnya. Selain mendapatkan ide, juga bisa memperpanjang umur dan menambah rezeki. Dengan bersilaturahmi kita belajar banyak tentang pengalaman dan pengetahuan. Tidak jarang ide-ide segar dan kreatif muncul, hadir ketika kita berbincang-bincang dengan orang yang lebih berpengalaman dan lebih ahli dibidangnya.

  1. Berdiskusi

Untuk yang satu ini adalah hal yang biasa dilakukan mahasiswa. Bertukar pendapat, saling adu argument, mempertahankan argument, dan belajar dewasa adalah tujuan dari diskusi. Oleh karenanya sangat dianjurkan kepada penulis pemula untuk mempunyai komunitas, sebagai tempat untuk berdiskusi. Keempat adalah jalan-jalan. Setelah seharian disibukkan dengan aktifitas  yang melelahkan, tidak salah kiranya jika kita jalan-jalan di waktu sore hari untuk merefreshkan pikiran yang penat oleh kesibukan. Tidak jarang dalam jalan-jalan itu kita menemukan sesuatu yang unik untuk dijadikan ide dalam tulisan. Jadi, jalan-jalan sore yang lebih bernilai dan bermanfaat, tidak hanya hanya sebatas cuci mata belaka.

  1. Merenung

Merenung disini bukan maksdunya melamun tidak jelas. Tetapi mengajak diri kita untuk berdialog. Ini penting, karena hal sederhana ini sering dilupakan. Dengan merenung, kita bisa intropeksi diri tentang ide, cita-cita, harapan, dan lain-lain dalam menjalani kehidupan.

Selain cara-cara tersebut, Joni L. Efendi juga menjelaskan bagaimana cara mendapatkan ide.  Menurut Efendi, ide bisa didapat dari pengalaman hidup, penghayatan religius, kekayaan intelektual, pengalaman beribadah (spiritual), penderitaan, kerinduan pada kekasih, kesepian, kejengkelan pada dunia sekitar, kepekaan sosial dan politik, pandangan kritis terhadap tradisi dan modernisasi, dan apa saja yang bergejolak dalam hati seorang penulis serta reaksi batinnya terhadap berbagai fenomena di sekitar lingkungannya adalah lahan subur lahirnya sebuah ide. Dilahan itulah ide-ide bertebaran bebas. Tinggal bagaimana kepekaan (efek rasa) seorang penulis untuk mendapatkan dan mengembangkannya menjadi sebuah karya.

Setelah kita mengetahui cara atau metode dalam mendapatkan dan menumbuhkan ide, sekarang saatnya menulis. Sesuatu yang sia-sia kiranya, jika kita sudah mendapatkan ide tidak lantas ditulis. Karena pada dasarnya, pikiran dan ide yang memenuhi kepala kita, itu laksana kuda liar yang siap berlari kea rah mana saja. Karena itu, ikatlah kuda liat yang bernama ide dan gagasan itu dengan sebuah tali kuat yang bernama tulisan.

                [1] Heru Kurniawan dan Sutardi, hal 9

                [2] Joni L. Efendi, Writing Donuts… (Yogyakarta: Buku Biru) hal 92

                [3] Bramma Aji, Menembus Koran, hal. 6

1,490 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share/Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *