Saat Hujan Lebat Tiba

Saat Hujan Lebat Tiba

Pada satu hari hujan yang lebat membuat sejumlah orang terjebak di dalam pusat perbelanjaan. Sejumlah orang menggerombol di dekat pintu keluar sambil terus memandangi hujan yang turun dengan deras. Mereka rata-rata diam karena tidak banyak yang saling mengenal satu sama lain. Tiba-tiba ada seorang anak kecil mungil dengan licahnya berlari dari dalam, menerobos kerumunan orang dan dikejar oleh sangi ibunya sambil kerepotan membawa barang belanjaan untuk kebutuhan sehari-hari.

Menjelang pintu keluar, tangan anak ini ketangkap oleh ibunya sambil berusaha membujuk, “Jangan nak, masih hujan!,,” perintah sang ibu “Kita tunggu dulu biar hujannya sedikir mereda,” kata sang ibu.

Si anak terus berontak, “Tidak Umi, kita harus pulang sekarang, hujan tidak apa-apa, kita bisa berlari melewatinya…” paksa si Anak.

Dialog sang ibu dan anak ini mendapatkan perhatian orang-orang yang menyaksikannya, yang tadinya pandangan mereka kearah luar menunggu hujan turu, hampir seluruh mata tertuju padanya, menyaksikan perdebatan sang anak dan sang ibu ini.

Sang Umi pun berusaha terus menjelaskan pada anaknya, “Nanti kita bisa sakit nak,” ucap ibu dengan lirih, “Terus siapa yang merawat kita bila kita juga ikutan sakit,” lanjut sang ibu.

Si anak yang masih balita ini kemudian berusa memberikan jawabannya, “Umi bilang, kalau kita bisa melalui ini, kita akan bisa melalui apa saja..!!”.

Uminya terkejut, “Kapan nak Umi bilang demikian?”

Si anak menjelaskan “Tadi pagi ketika kita meninggalkan Abi dirumah, umi bilang ke abi bahwa ‘kalau kita bisa melalui ini kita bisa melalui apa saja” jawab sang anak.

Si Umi jadi ingat, tadi pagi ketika berangkat berbelanja kepada suaminya yang lagi sakit keras di rumah dia memang berbicara demikian. Persis yang ditirukan anaknya. Akan tetapi yang ia maksud sebenarnya, menyemangati suaminya melawan penyakit yang dengan dahsyat menggerogoti tubuhnya.

Si Umi sadar bahwa yang disampaikan anaknya memang betul, hujan bukan apa-apa dibandingkan dengan apa yang tehan dialami oleh suaminya di rumah. Sambil tersenyum akhirnya dia menuruti keinginan anaknya, “Baik nak, kita akan berlari hujan-hujanan sekarang,” ucap sang ibu, sambil memegang erat tangan si anak itu.

Anak yang tidak sabar, kini menarik tangan ibunya sambil berlari gembira di tengah hujan yang lebat.

Oarng –orang yang sempat tertegun menyaksikan dialog antara ibu dan anaknya tadi mulai terpengaruh. Satu demi satu ikut berlari sambil gembira di tengah hujan lebat yang memang tidak kunjung reda. Barangkali di hati orng-orang yang ikut berlari ini juga tumbuh perasaan yang sama dengan ibu dan anak tadi. Ini hanya air hujan, bila mereka bisa melalui ini, mereka bisa melalui apa saja!

Dalam kondisi basah kuyup, ibu dan anak tersebut akhirnya sampai di rumah. Mereka menjumpai suami dan ayah anak ini semakin parah kondisinya dan si Umi merasakan waktu kepergian suaminya akan segera tiba. Sang Abi kemudian melambaikan tangannya agar istrinya mendekat, sambil tersenyum kepada istrinya dia berbisik, “Umi, aku sudah mencium harumnya bau surga…”

Sambil menangis sedih karena hendak ditinggal suaminya, namun juga gembira karena nampak tanda-tanda khusnul khatimah suaminya, sang istri pun berbisik, “Ajak kami ya bi…”

Sang Abi masih sempat menjawab sekali lagi, “Bukan hanya umi dan anak anak, abi ingin megajak semua orang yang abi kenal…” setelah itu dari mulutnya lirih keluar kalimat La Ilaha Illallah, kemudian sambil tersenyum menutup dan tidak membuka lagi untuk selamanya…

Pecahlah suasana haru dalam keluarga itu… semua perasaan tercampur aduk,

***

Hari itu pun hujan tidaklah mereda, , maka jenazah si Abi dimandikan sampai dimakamkan dalam kondisi hujan yang terus turun. Si Umi yang menunggu di rumah sambil memeluk anaknya, terus meneteskan air mata karena tidak mudah untuk menghilangkan kesedihannya itu. Namun hatinya juga penuh syukur tentang tanda-tanda khusnul khatimah suaminya, tentang semangat yang dibangkitkan oleh anaknya menemani akhir hayat suaminya bisa berlari dalam kondisi hujan. Dia juga ikut bahagia, tadi ketika melihat banyaknya orang yang ikut berlari melewati hujan menirukan apa yang dia dan anaknya lakukan.

Hujan adalah anugrah, banyak rahmat Allah yang kebanyakan kita masih salah memahami hujan ini. Tidak sedikit orang yang sering mengumpat datangnya hujan. Saat hujan datang, banjir pun tiba, itu akibat ulah manusia. Namun alam yang selalu kena getahnya.

Bila kita pelajari dengan benar, kita atasi dampak buruk yang bisa ditimbulkannya, bukan karena hujannya sendiri, tetapi karena kesalahan kita juga, maka insya Allah kita akan bisa mengambil berkahnya.

Betapa banyak di antara kita baik di dalam individu mau pun negara, yang seperti kerumunan orang di pusat perbelanjaan tadi. Kita hanya memelototi hujan yang turun dan menunggunya reda. Betapa banyak kesempatan emas yang bisa jadi adalah satu satunya kesempatan, kita lewatkan dengan sikap “menunggu hujan berhenti”. Si Umi tidak mendapatkan kabar harumnya bau surga bila dia tidak berlari menerobos hujan, maka kini waktunya bagi kita untuk mulai mau berlari ‘mengelola’ hujan. Siapa tahu ‘kabar dari surga’ pun sedang menunggu kita.

Lestarikan alam sekarang juga, janganlah berbuat kerusakan di muka bumi ini, manusia diciptakan untuk memimpin alam jagad raya ini, tapi jangan kau hancurkan sendiri, mudah-mudahan kita dimudahkan untuk senantiasa berbuat dalam kebaikan, Amiin..

3,163 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Menulis adalah Proses Kreatif yang Terus Menerus

Menulis adalah Proses Kreatif yang Terus Menerus

Menulis adalah persoalan pilihan eksistensi, yaitu kesadaran untuk berproses secara aktif-kreatif yang terus menerus. Inilah yang harus disadari mahasiswa, bahwa menulis ini membutuhkan proses yang panjang, tidak bisa secara instan, Bukankah kalau kita masak mie instan saja butuh proses? Selain itu menurut Howard dan Barton, sebagaimana dikutip oleh Etty Indriati, bahwa menulis pada dasarnya adalah kegiatan berfikir, selain berkomunikasi.

Janganlah ketiadaan ide dijadikan sebagai pembenaran untuk tidak menulis. Karena sebenarnya ide ada dimana-mana. Tinggal bagaimana kepekaan kita menangkap ide itu, dan menjadikannya sebuah karya. Beberapa tips tentang cara menumbukan ide (bab sebelumnya) bisa dijadikan referensi buat kita. Setelah itu mulailah menulis, menulis, dan menulis.

Menulis itu mengasyikan, setidaknya itulah gambaran dari kalimat motivasi yang penulis kutip dari penulis novel remaja. “Ketika menulis, kamu menggunakan berbagai otak yang berbeda. Saat proses terjadi, kamu tidak menyadarinya. Kamu tidak mengetahui dari mana asal tulisanmu. Sewaktu membacanya kemudian,  “Wow! Akukah yang menulisnya?” Itu bagaikan sebuah kejutan yang mengasyikan”. (Judi Blume, penulis novel remaja dan anak-anak).

1,954 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini