PDA Aisyiah Pemalang Gelar Seminar Membina Keluarga Sakinah

Tegarroli.com – Pemalang-kriteria keluarga sakinah antara lain keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat hidup spiritual dan material secara layak dan seimbang, suasana kasih sayang antara anggota keluarga lingkungannya dengan selaras dan serasi serta mengamalkan, menghayati dan memperdalam nilai-nilai keimanan ketaqwaan dan akhlak mulia hal ini disampaikan oleh Drs.H. Fajarin.M.Pd dalam acara Seminar Pendidikan PRA Nikah,Sabtu (13/07/2019).

Drs.H.Fajarin.M.Pd menambahkan Menuju keluarga sakinah perlu adanya kuliah pra nikah dengan maksud dan tujuan memberikan bekal pengetahuan tentang seluk beluk perkawinan kepada calon pengantin sebelum memasuki masa perkawinan dalam mempersiapkan terbentuknya keluarga sakinah mawaddah warohmah. Jadi calon pengantin akan tahu hak dan kewajiban dalam membina keluarga. Setelah menikah juga perlu diadakan pengajian membina keluarga sakinah baik dilakukan organisasi islam maupun di lingkungan sekitar kita.

Dra. HJ.Amiroh yang juga ketua Aisyiah Pemalang Pernikahan diharapkan sesuai dengan tujuannya yaitu terbentuk nya keluarga Sakinah mawaddah dan rahmat, oleh karena itu perlu sekali adanya kuliah pra nikah bagi calon pengantin. Mengingat kondisi saat ini maraknya perceraian yang semakin meningkat, suami-istri kurang memahami peran dan tanggung jawab, kurang nya efektivitas pembekalan pra nikah usia remaja dan lembaga yang menyelenggarakan pendidikan pra nikah yang terbatas. Oleh karena itu Aisyah ambil peran dan membantu untuk optimalisasi bimbingan pra nikah.

Allah SWT tegaskan dalam alquran akan tujuan dari pernikahan bahwa Allah menciptakan makhluk nya dalam pasang agar mereka merasa tenteram (sakinah), menumbuhkan perasaan cinta dan kasih sayang diantara mereka ma wadah dan rahmah. Aisyiah akan membentuk kader tiap cabang untuk menjadi konsultan tempat konsultasi kuliah pra nikah dan permasalahan problematika dalam menjaga harmonisasi keluarga ungkap Dra.HJ.Amiroh M.Ag

Acara seminar Pendidikan Keluarga Sakinah digelar oleh Pimpinan Aisyiah Daerah Pemalang bekerja sama dengan Kementerian Agama dan STIT Pemalang yang digelar di aula kampus STIT Pemalang dengan narasumber HJ Amiroh M.Ag dan Drs.H.Fajari.M.Pd. Kegiatan ini di ikuti oleh Mahasiswa STIT Pemalang, Pimpinan cabang Aisyah Se Kabupaten Pemalang.(Kaka)

799 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tradisi Literasi Muhammadiyah

Tradisi Literasi Muhammadiyah

Muhammadiyah, selain bergerak dibidang social, pendidikan, dan kesehatan, juga di media (informasi). Suara Muhammadiyah (SM), dalam catatan sejarah persuratkaaran Islam di Indonesia sesungguhnya bukan yang petama lahir.

Setidaknya, sejauh penelusuran, SM merupakan media cetak Islam yang lahir kedua di tanah Air setelah Al Munir yang terbit pada 1911 di Sumatra Barat.

Al Munir merupakan majalah dakwah yang dikelola para ulama di Minangkabau dan dipipin Abdullah  Ahmad, murid Syekh Ahmad Khaib Minangkabau majalahnya yang hanya terbit beberapa tahun ini memiliki oplah 1.000 eksemplar dan menyebar hingga Jawad an Semenanjung Malaysia.

Sebenarnya, ada juga yang memasukkan media dakwah lain, seperti Al Imam sebelum lahirnya Al Munir, Al Imam terbit pada 1906 di Singapura yang notabene pada saat itu masih tanah Melayu yang sama dengan nusantara.

Media ini digagas Syekh Tahir Jalaluddin yang baru pulang dari Kairo, Mesir beserta Haji Abbas bin Muhammad Taha daru Aceh. Al Imam merupakan media dakwah pertama di tanah Melayu-nusantara (sebelum ada nama Indonesia, Singapura dan Malaysia).

Setelah Al Munir, belum ada lagi media cetak Islam yang terbit, hingga akhirnya pada 1915, SM lahir. Jadi, terang sesungguhnya SM bukanlah media Islam yang pertama lahir. SM merupakan mdia cetak Islam paling tua yang masih terbit hingga detik ini.

Sebelum dan setelah SM, ada media massa Islam, tapi usianya rata-rata tidak panjang. Tidak ada media cetak di Indonesia saat ini yang usianya sampai satu abad seperti SM.

Tradisi Literasi

Sebagai organisasi Islam modern yang gandrung dengan kemajuan ilmu pengetahuan, di tubuh Muhammadiyah sudah mengurat-mengakar sebuah tradisi literasi.

Jika kini kita masih menyaksikan kehadiran SM dan Suara Aisyiyah,  dalam catatan sejarah media yang pernah dilahirkan oleh ‘tubuh’ Muhammadiyah sesungguhnya lebih banyak lagi.

Dalam Katalog Majalah terbitan Indonesia yang dikoleksi Perpustakaan Nasional misalnya, di antara rentang 1779-1980 saha, sedikitnya ada 31 media yang diterbitkan Muhammadiyah. Sebagai penerbitnya ada yang langsung oleh PP Muhammadiyah, Majelis Taman Pusaka, serta wilayah juga ortom Muhamadiyah.

Rentang waktu yag ckup judul dalam peadaban bangsa ini, Muhammadiyah sangat agresif dalam tradisi jurnalistik. Peran dakwah Muhammadiyah benar-benar dikibarkan lewat media massa sebagai sarana penyampaian pesan.

Namun lagi-lagi kebanyakan media itu bertumbangan sebelum besar sehingga tidak bisa bertahan lama.

Diantara media yang pernah diterbitkan Muhammadiyah, seperti Al Fach, Annida, Arabic Monthly Paper, Bahteramasa, Berita, Berita (beda tahu dan penerbit), Menara Ngampel, Miratoel Miehammadijah, Moehammadi, Penerangan Islam, Penjiar Islam, Perikatan, Poestaka Moehammadijah Dairah Banjoemas, Sinar Islam, Soeara Miehamadijah, Suara Aisjijah, Suara Aisyah (Penyesuaian Ejaan), Suara Muhammadijah (penyesuaian ejaan), Suara Muhammadiyah (penyesuaian ejaan), Suluh Pendidikan Muhammadiyah, Tacawoeff Islam, Tjahaja.

Di luar yang disebutkan di atas, diduga kuat masih banyak media massa Islam yang diterbitkan bukan oleh tokoh-tokoh atau personal Muhammadiyah , tanpa menyebutkan Muhammadiyah.

Setidaknya gambaran sekilas ini menyiratkan betapa kepedulian Muhammadiyah dan para anggotanya dalam mengibarkan semangat literasi sejak dulu hingga kini, terlebih pascatahun 1980 yang belum terhitung berapa banyak jumlahnya.

Yang lebi menarik lagi sebenarnya jika kita mendiskusikan aspek pesan dari SM yang sudah mengalami beberapa kali perubahan karakter kontennya.

 

2,808 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini