16 Tahun Berlalu, Bagaimana Kabar Terkini F4 Meteor Garden?

16 Tahun Berlalu, Bagaimana Kabar Terkini F4 Meteor Garden?

Anda masih ingat Drama yang meledak ke seluruh Asia pada tahun 2001? Ya Meteor Garden, Gak ada anak generasi 90-an yang gak kenal drama Taiwan Meteor Garden ini! Drama yang meledak ke seluruh Asia pada tahun 2001 ini memang melegenda banget, menciptakan fenomena di mana kala itu jutaan wanita dari berbagai negara menggandrungi sosok cowok-cowok ganteng yang tergabung di geng F4.

Soal foto diatas itu bukanlah personil Meteor Garden, sama sekali tidak ada hubungannya. Ya bahkan jauh sekali. Itu hanya foto para mahasiswa Magister Prodi Komunikasi Penyiaran Islam, yang sekarang sudah lulus dan berkarir sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Ya sebut saja, yang paling kanan namanya Aan Herdiana, dia anak sunda yang sudah lama tinggal di Purwokerto, teman sejak kuliah S1, sampai S2 selalu bersama, bahkan kita sering bercerita dan gendu-gendu rasa menyoal nasib bangsa ini. haha.

Sebelah kiri Aan ada pak Sholeh, ia merupakan bapak muda yang keren, meskipun pekerjaan setiap harinya menjadi penhulu, yang selalu memotivasi kita para anak muda untuk segera menikah.

Sementara yang di tengah ini adalah pak Hanif, siapa yang tak kenal dengan sosok ini, beliau yang ramah, sopan dan selalu positif ini selain dosen saya waktu S1 dulu, juga sebagai praktisi di RRI Purwokerto.

Sementara yang berjenggot belakang saya ini adalah bapak Ridho, ini sosok yang pemberani, cerdas dan mendunia. Selain sebagai aktivis mahasiswa ia juga berdinas di Rumah Sakit Umum Daerah di Purbalingga, sementara yang terakhir, belakang saya ini lebih fenomenal, ya, namanya bapak Rokhis, orangnya keren, pengusaha, politisi juga, banyak pengalaman dalam dunia lapangan dan lain sebaganya.

Oke, kita balik lagi di Kabar Terkini F4 Meteor Garden, ya Indonesia juga gak ketinggalan termasuk satu negara yang menjadi ‘korban’ meledaknya popularitas Meteor Garden. Bahkan beberapa bulan yang lalu, generasi 90-an seolah terserang sindrom ‘kangen mendadak’ ke F4. Gara-gara ramainya pemberitaan satu band lokal yang disebut-sebut punya lagu baru yang lirik reff-nya agak mirip dengan lagu F4, Liu Xing Yu, seperti dilansir dari popmagz.com.

Meski pemberitaan band lokal yang memplagiat lagu F4 tersebut dibantah, kemudian mereda dengan sendirinya, namun sejumlah anak-anak muda generasi 90-an akhirnya memanfaatkan momen ini buat nostalgia seputar F4. Kalau kamu cek video lagu-lagu F4 di akun F4VEVO di Youtube, kamu pasti melihat bahwa video-video tersebut dibanjiri komentar dari netizen Indonesia selama 2 bulan terakhir. Bukti kalau generasi 90-an Indonesia kangen F4!

Lantas setelah 16 tahun berlalu sejak drama Meteor Garden tamat, seperti apa sih kabar Dao Ming Si dkk sekarang? !@#$%^

3,140 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Produk Olahan Pepaya

Produk Olahan Pepaya

tegarroli.com

Kelompok Wanita Tani (KWT) Sri Rejeki Desa Pengadegan, Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga mulai mengembangkan produk olahan dari buah pepaya. Buah pepaya yang tumbuh subur di Desa Pengadegan dimanfaatkan oleh KWT Sri Rejeki untuk dibuat olahan makanan.

Pepaya yang ada tidak hanya dijual langsung dalam bentuk buah namun diinovasikan menjadi olahan makanan seperti keripik pepaya, dodol pepaya  dan manisan pepaya.Produk olahan pepaya ini memang baru dikembangkan oleh KWT Sri Rejeki namun pengembangan inipun ternyata masih menuai kendala yakni pada peralatan.

Sri Haryanti dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Pengadegan mengatakan untuk pemasaran aneka olahan pepaya ini masih dalam skala kecil dan sesuai pesanan. Kemasannya pun masih sangat sederhana dan belum ada label produknya.

“Rencana mau saya buatkan label produk, sama plastik kemasannya perlu agak tebal,” kata Sri Haryanti saat dihubungi, Rabu (31/7).

Ia menerangkan terkait dengan produk olahan pepaya yang sedang dikembangkan oleh KWT Sri Rejeki juga belum mengantongi izin Produk Industri Rumah Tangga (PIRT). Menurutnya, pihaknya akan membantu secara bertahap mulai dari mengurus izin PIRT, perbaikan produk, keamanan produk dan kemasan.

“Rencananya kami akan konsultasikan terlebih dulu dengan dosen Unsoed untuk komposisi dalam produk olahan pepaya ini,” ujarnya.

Sri Haryanti menjelaskan untuk membuat dodol pepaya dibutuhkan pepaya yang sudah matang, untuk manisan pepaya dibutuhkan pepaya yang setengah matang atau gemading dan untuk keripik pepaya menggunakan pepaya yang masih muda.

“Sehari KWT Sri Rejeki ini membuat 5 kg dodol, 3 kg keripik dan 2 kg manisan tergantung pesanan tapi setiap hari pasti ada peningkatan olahan yang dibuat,” kata Sri Haryanti.

Pepaya yang digunakan untuk produk olahan yakni menggunakan pepaya California yang banyak dijumpai di Desa Pengadegan. Di Kecamatan Pengadegan sendiri luas kebun pepaya sekitar 12 hektar sedangkan di Desa Pengadegan sekitar 3,5 hektar.

“Produksi per hektar rata-rata 4-5 ton tergantung pemeliharaan tanaman juga, produksi paling bagus tahun pertama sampai kedua, tahun ketiga biasanya sudah ada penurunan produksi,” ujarnya.

Musim rupanya juga mempengaruhi hasil panen dari pepaya, sebelum memasuki musim kemarau panen bisa dilakukan satu minggu atau dua minggu sekali. Sedangkan musim kemarau panen pepaya hanya satu bulan sekali.

“Walaupun kering alhamdulillah banyak yang membudidayakan cuma kalau pas terang kaya sekarang panennya jadi lebih lama,” imbuh Sri Haryanti.

Untuk harga buah pepaya 1 kg diambil di lahan sebesar Rp 1800,- di petani tapi harga fluktuatif pernah 1000/kg sampai 2000/kg. Sedangkan untuk harga dodol pepaya per kg dijual seharga Rp 30 ribu, manisan Rp 27 ribu/kg dan keripik pepaya dijual Rp 80 ribu/kg.

“Rencana selanjutnya juga mau membuat roti manis isi selai pepaya, jadi sekarang lagi proses juga membuat selai pepaya,” pungkasnya. (PI-7)

2,986 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini