Bagaimana Jadinya Saat Anak Desa Tanalum Kompetisi Menata Batu

Bagaimana Jadinya Saat Anak Desa Tanalum Kompetisi Menata Batu

tegarroli.com– Ratusan anak-anak dari Desa Tanalum beramai-ramai mengikuti kompetisi menata batu atau rock balancing. Kegiatan menata batu ini digelar bertepatan dengan acara Tanalum Culture Festival, Minggu (4/8) di Sungai Kalikarang, Desa Tanalum, Kecamatan Rembang.

Ketua Pokdarwis Desa Tanalum, M. Fatah mengatakan kompetisi menata batu diikuti oleh anak-anak usia 15 tahun ke bawah. Yang dinilai dari kompetisi tersebut adalah keunikan batu yang telah tertata dan tingkat kesulitan untuk menata batu.

“Kemarin ada ratusan anak yang mengikuti rock balancing dan ini adalah kompetisi dengan sistem penilaian meliputi keunikan, tingkat kesulitan dan lain-lain,” kata M.Fatah saat dihubungi, Senin (5/8).

Ia menjelaskan adanya kegiatan menata batu ini bermula karena dulu sungai Kalikarang yang sering digunakan untuk beraktivitas seperti mencuci, mandi, bermain bahkan mencari nafkah. Karena sering digunakan untuk berkegiatan bahkan bermain ada yang kemudian menata batu-batu sungai hingga banyak bertebaran di area sungai.

“Dan itu kelihatan indah seperti sebuah karya seni, melihat itu kami jadi punya ide untuk dibuatkan suatu event dan kompetisi,” ujarnya.

Kegiatan menata batu ini rupanya tidak hanya dijumpai dalam rangkaian kegiatan Tanalum Culture Festival. Terkadang pengunjung yang datang ke Curug Karang melihat banyaknya batu yang tertata rapi juga ikut menata batu.

“Selain di event tahunan, masih banyak yang suka menata batu, kadang pengunjung juga ikutan,” terang M.Fatah.

Berkaitan dengan debit air di Sungai Karang tidak berpengaruh pada aktivitas menata batu karena lokasinya bisa disesuaikan. Di saat musim kemarau seperti ini justru aktivitas menata batu ini bisa dilakukan dimana saja karena area yang tersedia dan bahan baku tersebar luas di area sungai tersebut.

“Kalau pas musim kemarau kaya saat ini areanya bisa luas banget jadi anak-anak yang menata batu itu bisa leluasa untuk memilih tempatnya,” kata M.Fatah.

Ia menuturkan kegiatan menata batu seperti ini baru diselenggarakan selama dua kali yakni pada tahun lalu (2018,Red) dan tahun ini (2019, Red). Ia berencana akan menjadikan rock balancing ini sebagai salah satu kegiatan di event tahunan yakni Tanalum Culture Festival.

“Sehingga harapannya nanti rock balancing ini bisa diikuti tidak hanya warga desa setempat tetapi juga wisatawan baik wisatawan lokal maupun wisatawan manca negara,” harapnya. (PI-7)

1,966 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini