Purbalingga Gelar Gowes Nusantara 2019

Purbalingga Gelar Gowes Nusantara 2019

tegarroli.com – Pemerintah Kabupaten Purbalingga bekerjasama dengan Kementerian Pemuda Olah Raga (Kemenpora) akan menggelar sepeda santai bertajuk Gowes Nusantara 2019, Hari Minggu 1 September 2019.

Kemenpora setidaknya menggelar acara serupa di 50 kabupaten kota di Indonesia. Di Jawa Tengah sendiri ada empat kabupaten terpilih, salah satunya Kabupaten Purbalingga.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Purbalingga Ir Prayitno, M.Si mengatakan, Gowes Nusantara kali ini bertajuk ‘Kita Semua Bersaudara’. Melalui tema ini diharapkan dapat mempererat tali persaudaraan khususnya bagi warga masyarakat Purbalingga dan bagi seluruh rakyat Indonesia, apa pun sukunya, bahasa dan agamanya.

“Pemkab Purbalingga ingin masyarakat hidup aktif, hidup sehat, hidup bugar dengan cara gowes nusantara,” kata Prayitno, Kamis (22/8).

Dikatakan Prayitno, tema ‘Kita Semua Bersaudara’ itu selaras dengan dinamika sekarang yang mungkin masih banyak hal-hal yang menyangkut merapuhkan keutuhan kita, dan kita satukan lewat sepeda,” jelasnya.

Rute yang ditempuh, lanjut Prayitno, sekitar 12 kilometer. Peserta tidak dipungut biaya apapun, dan bagi peserta beruntung akan mendapat kaos seragam dari Kemenpora. Setidaknya disiapkan 1.000 kaos untuk peserta.  Panitia juga memberikan kesempatan bagi penyandang difabel untuk ikut serta dalam gowes ini. Rute tentunya tidak sejauh peserta umum, hanya 3,16 kilometer.

Hadiah yang dibagikan  sangat menarik, dengan hadiah utama sepeda motor, kemudian sepeda gunung, kulkas, televisi, dan ratusan doorprice menarik seperti setrika. “Panitia setidaknya menyiapkan 7.000 tiket, dan setiap tiket dapat digunakan untuk masuk waterpark Owabong, Golaga (Goa Lawa Purbalingga) dan Sanggaluri Park dengan diskon 50 persen,” kata Prayitno.

Prayitno menambahkan, usai pengibaran bendera star Gowes Nusantara oleh Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi, juga digelar lomba sepeda hias ‘Merdeka’ dengan total hadiah puluhan juta rupiah. Rute yang ditempuh hanya di seputaran kota Purbalingga. (y)

4,533 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Batik Ciprat Karya Mulyono

Batik Ciprat Karya Mulyono

tegarroli.com – Ada satu lagi teknik batik dari yang lazim kita ketahui selama ini selain cap dan tulis yaitu teknik ciprat. Seperti yang dikembangkan oleh Mulyono, Warga Dusun Karangklesem Desa Karangtalun Kecamatan Bobotsari, batik hasil karyanya mampu menembus pasar yang luar biasa dengan harga yang begitu mahal namun diminati oleh banyak konsumen.

Ditemui Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi (Tiwi) dalam rangkaian acara Gebrak (Gerakan Bersama Rakyat) gotong royong, Kamis (22/8/2019) di kediamannya, Mulyono mengaku batik hasil karyanya banyak memadukan teknik dalam kesenian khususnya seni rupa. Namun, yang paling unik adalah pengerjaan batik dengan cara menyipratkan tinta malam ke kain putih hingga membentuk motif dan pola yang indah.

“Ini caranya diciprat-cipratkan ke kain putihnya. Jadi kuasnya dicelupkan ke malam (tinta), lalu dikebas-kebaskan dengan tidak begitu keras. Nanti motif bisa kita arahkan sesuai dengan yang kita inginkan,” kata Mulyono.

Dari kerajinan batik ciprat khas Karangtalun tersebut, Mulyono bisa mempekerjakan sekitar puluhan wanita sehingga kualitas ekonomi wanita-wanita tersebut bisa ikut menopang kesejahteraan keluarga. Tidak berlebihan, harga yang dipatok oleh Mulyono berkisar di angka Rp 250 ribu hingga Rp 250 juta tergantung dengan lama dan tingkat kesulitan batik yang dikerjakan.

“Harganya mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 250 juta tergantung dari lama pengerjaan dan kesulitannya,” ujarnya.

Batik motif wayang dan relief candi Borobudur adalah andalan Mulyono. Dibantu anaknya, batik motif relief candi Borobudur dibanderol dengan harga Rp 20 juta. Batik-batik hasil karya Mulyono dipasarkan di Pekalongan namun sudah dikenal pula di berbagai daerah. Saat disinggung apakah motif batik dan idenya akan dipatenkan, dirinya tak ingin melakukan hal tersebut. Dia mengaku sebagai seniman yang ikhlas berkarya dan mempersilahkan pengrajin lainnya untuk menggunakan teknik dan motif serupa.

“Saya hanyalah seniman yang ikhlas jadi tidak akan mematenkannya. Silahkan untuk pengrajin lain jika ingin mengerjakan batik dengan teknik dan ide semacam ini,” tutur Mulyono.

Bupati Tiwi yang meninjau pengerjaan batik tersebut siap untuk mempromosikan produk batik milik Mulyono. Lewat acara-acara kenegaraan baik di Purbalingga maupun di tempat lain yang berskala nasional, Tiwi akan memperkenalkan batik milik Mulyono kepada para pejabat maupun kolega. Menurut Tiwi, hal itu penting guna mengembangkan kemajuan UMKM Purbalingga termasuk batik milik Mulyono.

“Untuk pak Mulyono, nanti kita pasarkan di acara-acara kenegaraan resmi sehingga batiknya bisa cepat dan terus dikenal,” pungkasnya. (KP-4).

2,925 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Tanamkan Nilai Perjuangan

Tanamkan Nilai Perjuangan

tegarroli.com – Guna menanamkan nilai perjuangan pada generasi muda, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga mengadakan lomba Unisono atau lomba lagu-lagu perjuangan untuk siswa SMP/MTs se Kabupaten Purbalingga. Hal tersebut disampaikan Rien Anggraeni, Kabid Kebudayaan Dindikbud Purbalingga saat menyampaikan laporan kegiatan lomba, Rabu (21/8/2019).

Rien mengatakan, jiwa nasionalisme harus distimulus dengan berbagai cara termasuk dengan lagu-lagu perjuangan yang sarat akan nilai pembangkit nasionalisme. Menurutnya, generasi muda perlu diingatkan dan dikenalkan nilai perjuangan para pahlawan dan dalam tataran pelajar, lagu perjuangan adalah sarana yang tepat untuk hal tersebut.

“Tujuan dari diadakannya lomba ini adalah untuk membangkitkan dan mengenalkan nilai nasionalisme yang diwariskan oleh pahlawan kepada para pelajar,” kata Rien.

Dia menambahkan, tujuan lain adalah untuk memasyarakatkan lagu-lagu perjuangan yang telah diciptakan oleh para komponis dalam rangka membakar semangat perjuangan para pejuang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hal itu dinilainya penting karena nilai kejuangan melalui lagu-lagu perjuangan mulai dilupakan oleh generasi muda Indonesia.

“Tujuan lain adalah untuk memasyarakatkan lagu perjuangan yang dulu digunakan untuk membakar para pejuang agar tidak dilupakan oleh generasi muda,” imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dindikbud Purbalingga, Setiyadi yang hadir mewakili Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi. Dia menuturkan, nilai nasionalisme bisa dilakukan lewat berbagai bidang termsauk kesenian. Melalui ajang tersebut, selain kreativitas juga bisa menumbuhkan rasa memiliki Negara bagi generasi muda. Dirinya berharap agar lagu-lagu perjuangan tetap dikenang oleh setiap warga Negara Indonesia termasuk para pelajar.

“Selain kreativitas, lomba ini juga sebagai sarana terpeliharanya jiwa nasionalisme bagi pelajar serta membangkitkan rasa memiliki Negara kita yang tercinta ini,” tuturnya.

Lomba tersebut diikuti 30 sekolah baik SMP maupun MTs di Kabupaten Purbalingga dengan menampilkan lagu wajib dan lagu pilihan. Hingga berita ini diturunkan, loma masih berjalan dengan beberapa kriteria penilaian yang telah ditentukan oleh juri. (KP-4).

2,574 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini