Setia  Pada Jurnalisme

Setia Pada Jurnalisme

Belum lama ini, Nielsen telah melakukan survey dan menyebutkan bahwa media cetak sampai sekarang masih dipilih karena beritanya dapat dipercaya dan cukup menggembirakan. Meski demikian, terlepas dari segala macam alasan, media tidak akan pernah sedikitpun untuk ditinggalkan jika tetap setia dan teguh hati pada inti jurnalisme.

Dalam Surveynya dipaparkan Nielsen menyebutkan, media cetak pada 2016 hingga 2017 terhadap 17.000 responden di 11 kota di Indonesia. Hasilnya, media cetak masih memiliki penetrasi sebesar 8 persen atau sekitar 4,5 juta orang. Artinya populasi di 11 kota mencapai 54 juta orang di atas usia 10 tahun.

Sementara pengguna media internet dan digital untuk membaca berita cukup tinggi. Disebutkan dalam Surveynya hingga triwulan III 2017, jumlah pembaca versi digital mencapai 6 juta orang dengan penetrasi 11 persen. Kondisi ini menunjukan minat baca yang tidak pernah menurun.

Jika dilihat dari profil pembaca, media cetak di Indonesia cenderung dikonsumsi oleh konsumen berusia 20 – 49 tahun (74 persen), memiliki pekerjaan sebagai karyawan (32 persen), dan mayoritas pembaca berasal dari kalangan atas (54 persen)

Sementara alasan utama pembaca masih memiliki media cetak karena nilai betianya yang didapat dipercaya dan tak mengandung unsur hoaxs atau berita palsu. Unsur kepercayaan ini tentu berpengaruh pada iklan di media cetak tersebut.

Media cetak masih akan tetap betahan lama karena pengiklan masih nyaman belanja iklan di media cetak dibandingkan media online. Kita tahu banyak iklan yang mengalir ke media online, kecuali ke beberapa media online yang sudah eksis sudah lama.

Saat ini masih saja terus mulai bermunculan media-media online dengan produksi konten mandalam dan koperehensif. Sayangnya, media-media online tersebut belum banyak mendapatkan dukungan dari industry pemasang iklan.

Hingga Saat ini Media Cetak Tetap Menjadi Pilihan

Hingga saat ini media cetak tetap masih menjadi pilihan para pembaca. Media cetak dipilih sebagai sumber informasi karena beritanya dapat dipercaya. Sebagian besar konsumen utama media cetak adalah kalangan atas.

Mengapa responden membaca media cetak, karena beritanya dapat dipercaya. Industri media cetak perlu tetap mengampanyekan atau memprmosikan bahwa mereka memiliki berita yang dapat dipercaya dan tidak mengandung unsur hoaxs atau informasi palsu.

Akan berbahaya jika media cetak sudah tidak lagi dipercaya. Terlepas kepentingan-kepentingan, sosial, ekonomi dan budaya. Namun, ramalan bahwa usia media cetak masih panjang juga sulit dipastikan kebenarannya. Rasa nyaman dan optimis yang terlalu berlebihan akan membuat pemilik media cetak tak cepat bersiap-siap menghadapi perubahan.

Memasuki generasi milenial atau era 5G (teknologi jaringan seluler generasi kelima), lompatan besar teknologi akan terjadi, kecepatan berlipat, dan video akan langsung ditemukan dengan cepat begitu di-klik. Mau tidak mau, generasi tua dipaksa akrab dengan teknologi digital.

Teknologi dan media boleh saja berubah, tetapi inti jurnalisme tetap tak akan berubah. Hanya kesetiaan dan keteguhan hati kepada inti jurnalismelah yang akan menjadikan media konvensional tetap bisa bertahan dan dipercaya.

Media cetak harus mempertahankan cara-cara penulisan berita yang sesuai dengan standar jurnalistik, termasuk ketika nanti terpaksa harus berpindah ke media baru atau New Media. Pada akhirnya orang-orang berpendidikan tinggi akan mengalami perubahan selera membaca. Mereka merasa bosan dan tidak merasa tercukupi dengan tulisan pendek dan sekedar sensasional.

Mereka akhirnya mencari berita panjang, serius, mendalam dan tidak sensasional. Atau bisa diistilahkan orang akan lebih suka mencium harumnya kertas dibanding menyentuh mulusnya layar kaca.

Sementara itu, hal lain yang akan menyelamatkan media cetak adalah masyarakat local di daerah. Meski membaca berita dering, mereka tetap setia membaca koran daerah.

Tantangan Jurnalisme pada New Media

Public barangkali masih ingat berbagai peristiwa penting terkait dinamika media dalam satu dekade terakhir. Jelang pemilihan umum 2014, misalnya, kita melihat bagaimana sejumlah media tampil bias dan tidak konsisten. Alih-alih mereka lebih mengedpankan isu-isu penting publik, media justru menunjukan keberpihakannya kepada calon presiden tertentu. Orang juga mungkin belum lupa bagaimana dia menyita frekuensi publik dengan menampilkan kehidupan pribadi selebritas yang diekspos berlebihan. Pertanyaan yang muncul kemudian, sebetulnya media mewakili kepentingan siapa.?

Pesatnya kemajuan teknologi informasi yang ditandai dengan menjamurnya media daring pun seharusnya tidak mengubah sifat yang harus dimiliki media, yaitu media yang dipercaya public. Para pelaku media di era digital atau New Media harus sadar akan dampak berita dalam jaringan atau online yang lebih besar dibandingkan media cetak karena kecepatan dan jangkauannya. Tidak boleh asal cepat, akurasi, verifikasi, cover all side, juga konteks peristiwa, tetap punya makna penting bagi khalayak. Media harus tetap menjadi pedoman bagi public.

Pedoman Mencari dan Menyiapkan Kebenaran

Tumbangnya rezim orde baru pada 1998 dan kemajuan teknologi informasi telah membawa jurnalise di tanah air dewasa ini tampil berbeda. Kini, sedikitnya ada ratusan media cetak dan radio, puluhan stasiun televisi serta kemunculan media baru (New media). Meski demikian, kita melihat jurnalisme di era digital bagaikan bola liar yang bergulir tanpa arah yang jelas. Banyaknya media massa yang muncul tidak serta merta diikuti dengan mutu pemberitaan yang baik. Hal itu diperkuat data statistic yang menunjukan dari masyarakat.

Zulkarimein Nasution, dalam bukunya yang bertajuk Etika jurnalisme: prinsip-pinsip Dasar (Rajawali Pers, 2015), mengatakan bahwa pelanggaran yang dilakukan media massa disebabkan ketidakpahaman para jurnalis akan etika jurnalisme. Padahal, etika jurnalisme dianalogikan seperti sebuah kompas di sebuah kapal. Media dan para jurnalis layaknya nakhoda yang membutuhkan navigasi agar tidak tersesat dalam melaksanakan misinya yang mulia: mencari dan menyampaikan kebenaran

Oleh : Tegar Roli A., M. Sos

Praktisi Media & Humas Universitas Muhammadiyah Purwokerto

1,196 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Konstruksi Realitas Pemberitaan

Konstruksi Realitas Pemberitaan

Berita adalah hasil konstruksi sosial di mana selalu melibatkan pandangan, ideologi, dan nilai-nilai dari wartawan atau media. Dengan demikian, berita yang kita baca adalah hasil dari konstruksi kerja jurnalistik. Menurut pandangan konstruksionis, berita bersifat subjektif. Hal ini dikarenakan opini tidak bisa dihilangkan karena ketika meliput, wartawan melihat dengan perspektif dan pertimbangan subjektif. Maka, media bukan merupakan saluran bebas, media mengonstruksi realitas sesuai dengan pandangan tertentu, bias, dan unsur pemihakkan. Pandangan konstruksionis memandang media sebagai agen konstruksi sosial yang mendefinisikan realitas. Dengan demikian, berita tidaklah dibentuk dalam ruang hampa.

Ekternalisasi sebagai bagian dari penyesuaian dari dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia, sedangkan obyektivasi sebagai interaksi sosial dalam dunia intersubyektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi dan internalisasi merupakan upaya individu mengidentifikasikan diri dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggota.

Pasca reformasi, media massa memegang peranan penting dalam kehidupan politik di Indonesia. Kekuasaan media dalam menyajikan atau melaporkan peristiwa-peristiwa politik dalam bentuk berita sering memberi dampak signifikan bagi perkembangan politik di tanah air. Media massa bukan saja sebagai sumber informasi politik, tetapi menjadi faktor pemicu terjadinya perubahan politik. Hal ini mengingat kemampuan dan kekuasaan media massa dalam mempengaruhi masyarakat atau khalayak dalam hal ini adalah pemirsa lewat pembentukan opini dan wacana yang diwartakan.[1]

Sejak diundangkannya Undang Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, penyiaran tidak lagi menjadi monopoli Pusat. Sebagai konsekuensinya lahir televisi lokal di berbagai daerah yang merupakan media penyiaran lokal dengan jangkauan terbatas pada wilayah dan target pemirsa lokal di tempat stasiun televisi lokal bersiaran.

Kontruksi realitas pada dasarnya adalah menceritakan, mengonseptualisasikan peristiwa, keadaan tertentu.[2] Tiap aktor sosial berperan dalam proses konstruksi realitas ini, termasuk media televisi lokal. Lebih-lebih bila objek pemberitaan atau peristiwa yang terjadi adalah masalah yang kontroversial, dan menjadi ajang pemikiran/ ideologi serta kelompok tertentu. Karena begitu banyak realitas, media harus melakukan proses filtering, mana yang akan ditampilkan dan mana yang tidak. Begitu juga dengan penayangan berita di televisi lokal, sebelum ditayangkan selalu di edit di bagian editor, mana yang akan ditampilkan dan mana yang tidak dapat ditampilkan. Setelah melalui pengeditan barulah berita itu ditampilkan di media televisi.

Proses konstruksi realitas dalam media massa dimulai dengan adanya realitas pertama berupa keadaan, benda, pikiran, orang, peristiwa, dan sebagainya.[3] Secara umum sistem komunikasi adalah faktor yang mempengaruhi seseorang dalam membuat wacana. Secara tidak langsung, dinamika internal dan eksternal sangat mempengaruhi proses konstruksi. Hal ini juga menunjukan bahwa pembentukan wacana tidak berada pada ruang vakum.

Pengaruh tersebut bisa datang dari pribadi dalam bentuk kepentingan idealis, ideologis, dan sebagainya maupun dari kepentingan eksternal dari khalayak sasaran sebagai pasar, sponsor, dan sebagainya.

Adapun fungsi dan peranan pers Berdasarkan ketentuan pasal 33 UU No. 40 tahun 1999 tentang pers, fungsi pers ialah sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial.[4] Sementara Pasal 6 UU Pers menegaskan bahwa pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut: memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui menegakkkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinekaan mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benarmelakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Berdasarkan fungsi dan peranan pers yang demikian, lembaga pers sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi (the fourth estate) setelah lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif , serta pembentuk opini publik yang paling potensial dan efektif. Fungsi peranan pers itu baru dapat dijalankan secra optimal apabila terdapat jaminan kebebasan pers dari pemerintah. Menurut tokoh pers, Jakob Oetama, kebebsan pers menjadi syarat mutlak agar pers secara optimal dapat melakukan peranannya. Sulit dibayangkan bagaiman peranan pers tersebut dapat dijalankan apabila tidak ada jaminan terhadap kebebasan pers. Pemerintah orde baru di Indonesia sebagai rezim pemerintahn yang sangat membatasi kebebasan pers. Hal satu ini terlihat, dengan keluarnya Peraturna Menteri Penerangan No. 1 tahun 1984 tentang Surat Izn Usaha penerbitan Pers (SIUPP), yang dalam praktiknya ternyata menjadi senjata ampuh untuk mengontrol isi redaksional pers dan pembredelan.[5]

Dalam membuat liputan berita politik atau kebijakan pemerintah yang memiliki dimensi pembentukan opini publik. Media massa umumnya melakukan tiga kegiatan sekaligus yang dipakai untuk mengkonstruksi realitas. Pertama, menggunakan simbol-simbol politik (langue of politic), kedua, melaksanakan strategi pengemasan pesan (framing strategies), ketiga, melakukan fungsi agenda setting media (agenda setting function). Ketika tiga tindakan dilakukan oleh sebuah media dipengaruhi oleh berbagai faktor internal berupa kebijakan redaksional tertentu mengenai suatu kekuatan politik, kepentingan politik para pengelola media, relasi media dengan sebuah kekuatan politik tertentu, dan faktor eksternal seperti tekanan pasar pembaca atau pemirsa, sistem politik yang berlaku, dan kekuatan-kekuatan luar lainnya. Dengan demikian boleh jadi satu peristiwa politik bisa menimbulkan opini publik yang berbeda-beda tergantung dari cara masing masing media mengkonstruksi berita dari kebijakan pemerintah.[6]

Menurut Fishman ada dua kecenderungan bagaimana proses produksi berita dilihat. Pandangan pertama sering disebut sebagai pandangan seleksi berita (selectivity of news). Seleksi ini dari wartawan di lapangan yang akan memilih mana yang penting dan mana yang tidak penting.

Setelah berita itu masuk ke redaktur, akan diseleksi lagi dan disunting dengan menekankan bagian mana yang perlu ditambah. Pandangan ini mengandaikan seolah-olah ada realitas yang benar-benar riil yang ada di luar diri wartawan. Realitas yang riil itulah yang akan diseleksi oleh wartawan kemudian dibentuk dalam sebuah berita.

Pendekatan kedua yakni pendekatan pembentukan berita (creation of news). Dalam perspekif ini, peristiwa bukan diseleksi melainkan dibentuk. Wartawanlah yang membentuk peristiwa.

Menurut kaum konstruktivis, berita adalah hasil konstruksi sosial di mana selalu melibatkan pandangan, ideologi, dan nilai-nilai dari wartawan atau media. Berita yang kita baca adalah hasil dari konstruksi kerja jurnalistik. Menurut pandangan konstruksionis, berita bersifat subjektif. Ini dikarenakan opini tidak bisa dihilangkan karena ketika meliput, wartawan melihat dengan perspektif dan pertimbangan subjektif.[7]

Penyampaian sebuah berita ternyata menyimpan subjektivitas penulis. Bagi masyarakat biasa, pesan dari sebuah berita akan dinilai apa adanya. Berita akan dipandang sebagai barang suci yang penuh dengan objektivitas. Tapi, berbeda dengan kalangan tertentu yang memahami betul gerak pers. Mereka akan menilai lebih dalam terhadap pemberitaan, yaitu dalam setiap penulisan berita menyimpan ideologis/ latar belakang seorang penulis.

Tegar Roli A.

*Humas UMP dan Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (MPI PDM) Banyumas

[1] Wisnu Martha Adiputra, Berkawan dengan Meida, (Yogyakarta: Yayasan TiFA dan Pusat Kajian Media dan Budaya Populer Yogyakarta, 2009) hal. 105

[2] Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Meida Massa, (Jakarta: PT Fajar Interpratama Mandiri, 2008), hal. 13

[3] Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Meida Massa, hal. 25

[4]Askurifai Baksin, Jurnalistik Televisi Teori dan Praktik, (Bandung : Simbiosa Rekatama Media, 2016) hal 47

[5] Ibnu Hamad, Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa : Sebuah Study Critical Discourse Analysis Terhadap Berita-berita Politik, (Jakarta: Granit, 2004), hlm. 38

[6] Ibnu Hamad, Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa : Sebuah Study Critical Discourse Analysis Terhadap Berita-berita Politik, (Jakarta: Granit, 2004), hlm. 2 – 3

[7] Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Meida Massa, (Jakarta: PT Fajar Interpratama Mandiri, 2008), hal. 11

404 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

KEINGINAN ADALAH SUBER PENDERITAAN

KEINGINAN ADALAH SUBER PENDERITAAN

Hawa nafsu merupakan suatu kewajaran karena manusia tercipta dengan membawanya. Akan tetapi jika hawa nafsu tidak dikendali dengan baik maka ia akan terbalik mengendalikan manusia. Hawa nafsu sering kali disamakan dengan keinginan atau hasrat. Sebagai manusia, kita pun mempunyai aneka keinginan, terutama keinginan yang bersifat duniawi.

Kita ingin hidup dengan berlimpah harta. Kita ingin mempunyai pasangan yang cantik. Kita ingin mempunyai mobil mewah keluaran terbaru. Kita ingin ini dan itu, semuanya semuanya dan semuanya. Banyak hal yang kita inginkan di dunia ini yang bersifat duniawi tersebut.

Jika kita tidak mengendalikan keinginan tersebut maka keinginan itulah yang akan mengendalikan kita. Itulah maksud dari hawa nafsu. Jika tidak memperoleh apa yang kita inginkan maka kita akan menderita. Karena tidak ingin menderita, kita bias berbuat hal yang melanggar hokum, seperti korupsi, mencuri, merampok, dan menipu.

Itulah jika hidup kita dikendalikan oleh keinginan. Lain halnya jika kita mengendalikan keinginan. Maka , keinginan tersebut tidak akan menguasai kita. Sungguh, keinginan adalah sumber penderitaan dalam hidup jika kita tidak bisa mengendalikannya dengan baik.

Seolah kita hidup di dunia ini hanya mengejar keinginan-keinginan yang tak kekal dan tak akan kita bawa mati.

Jika kita sederhanakan, keinginan tersebut merupakan kerjaan untuk hidup dalam kekayaa. Keinginan kita bertujuan untuk kekayaan. Padaha, keinginan tersebut adalah sumber penderitaan. Jika kita telah hidup dalam kekayaan maka kita akan merasa miskinjika kita terus mengejar kekayaan yang lebih. Dan begitu seterusnya.

Merasa cukup adalah kekayaan. Jika kita merasa cukup terhadap apa yang kita miliki maka kita sudah kaya. Sederhananya, jika kita tidak menginginkan beragam keinginan maka kita sudah kaya. Hal itu membebaskan kita dari penderitaan yang diakibatkan oleh keinginan –keinginan yang tidak berkesudahan.

Lantas, bagaimana cara agar kita bisa terlepas dari keinginan serta merasa cukup dengan adanya? Jawabannya adalah dengan segala penyakit hati, terutama keinginan-keinginan yang tak berkesudahan.

Sementara itu, syukur adalah menerima apa adanya serta merasa cukup dengan apa yang telah dimiliki.

Manusia yanb berjiwa besar dengan menekankan sikap sabra adalah manusia yang akan menerima kabar gembira. Begitulah kira-kira. Karena sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Sementara itu, manusia yang berjiwa besar dengan mengedepankan sikap syukur adalah manusia yang senantiasa bahagia karena berlimpah nikmat. Hal itu dikarenakan bahwa orang yang bersyukur akan senantiasa ditambahkan kenikmatan untuknya.

*Tegar Roli A., M.Sos

Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (MPI PDM) Banyumas

3,393 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Tegar Ajak Anak Muda Bikin Karya yang Mendunia

Tegar Ajak Anak Muda Bikin Karya yang Mendunia

Tegar Roli A. yang akrab disapa Tegar merasa senang ketika melihat para generasi milenial mau dan mampu dalam mengisi kemerdekaan.

Ia berharap semua anak Indonesia harus membuat sebuah karya yang bisa membuat mata dunia terpana.

“Ada rasa bangga ketika melihat pejuang generasi hari ini dalam hal kemerdekaan diri. Penuh gairah, hebat dan bermartabat serta penuh dengan kreativitas. Bagaikan busur panah siap melesat menembus sasaran paling tengah,” ungkap Tegar.

Lebih lanjut Tegar mengatakan, setiap manusia memiliki massanya, dan setiap massa ada manusia yang berperan didalamnya.

“Artinya kita sebagai generasi hari ini harus berbuat sesuatu yang beda dari biasanya agar mampu bersaing dengan seluruh dunia dan tentunya dengan penuh sportivitas,” ungkapnya.

Pria kelahiran April 1992 itu, juga menyadari tantangan anak muda saat ini tidak hanya datang dari bangsa sendiri. Di era teknologi dan serba digital, persaingan terjadi dengan anak muda seluruh dunia.

“Kita harus melakukan sesuatu yang tidak bisasa dilakukan oleh orang lain. Saat mereka masih tidur, kita sudah bangun. Saat mereka baru bangun, kita sudah bekerja. Saat mereka baru bekerja, kita sudah sukses. Dan saat mereka baru sukses. Kita sudah menyukseskan orang lain,” pungkasnya. (*)

3,391 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Pembentukan Identitas Diri Remaja Menggunakan Media Sosial

Pembentukan Identitas Diri Remaja Menggunakan Media Sosial

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah merubah cara interaksi individu dengan individu yang lain. Internet menjadi sebuah ruang digital baru yang menciptakan sebuah ruang kultural. Tidak dapat dihindari bahwa keberadaan internet meberikan banyak kemudahan kepada penggunanya. Beragam akses terhadap informasi dan hiburan dari berbagai penjuru dunia dapat dicari melalui internet. Internet menembus batas dimensi kehidupan pengguna, waktu, dan ruang, yang dapat diakses oleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun.

Keberadaan internet secara tidak langsung menghasilkan sebuah generasi yang baru. Generasi ini dipandang menjadi sebuah generasi masa depan yang diasuh dan dibesarkan dalam lingkungan budaya baru media digital yang interaktif, yang berwatak menyendiri (desosialisasi), berkomunikasi secara personal, melek komputer, dibesarkan dengan videogames, dan lebih banyak waktu luang untuk mendengarkan radio dan televisi.enerasi digital adalah mereka yang lahir pada jaman digital dan berinteraksi dengan peralatan digital pada usia dini. Dalam konteks Indonesia, mereka yang lahir setelah tahun 1990-an sudah bisa disebut sebagai awal generasi digital native, tapi bila ingin dikatakan sebagai sebuah generasi, mereka yang lahir setelah tahun 2000. Merekalah penduduk asli dari sebuah dunia yang disebut dunia digital.

Terjadi pergeseran budaya, dari budaya media tradisional yang berubah menjadi budaya media yang digital. Salah satu media sosial yang cukup berpengaruh di Indonesia adalah Facebook. Koran Kompas  menyatakan bahwa pengguna Facebook di Indonesia mencapai 11 juta orang. Keberadaan media sosial telah mengubah bagaimana akses terhadap teknologi digital berjaringan.

Media sosial merupakan salah satu bentuk dari perkembangan internet. Dijelaskan ada tiga motivasi bagi anak dan remaja untuk mengakses internet yaitu untuk mencari informasi, terhubung dengan teman (lama dan baru) dan untuk hiburan. Pencarian informasi yng dilakukan sering didorong oleh tugas-tugas sekolah, sedangkan penggunaan media sosial dan konten hiburan di dorong oleh kebutuhan pribadi.

Penggunaan media sosial di kalangan remaja pada saat ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari lagi. Hampir setiap hari remaja mengakses media sosial hanya untuk sekedar mencari informasi melalui twitter, kemudian menyampaikan kegiatan yang mereka lakukan melalui facebook.

CEO Twitter, Dick Costolo menyebut Indonesia sebagai salah satu pengguna daring (online) terbesar di dunia. Dia menambahkan dengan adanya Twitter membuat masyarakat Indonesia pada saat ini menyadari apa yang sedang terjadi, saling memberikan informasi yang bermanfaat. Anak muda Indonesia mampu menggunakan industry kreatifnya dan menggunakan Twitter untuk hal-hal positif. “Keuntungan Twitter adalah semakin banyak pengguna semakin banyak yang dapat mengonfirmasi rumor yang ada”, Dick Costolo.

Kehadiran media sosial di kalangan remaja, membuat ruang privat seseorang melebur dengan ruang publik. Terjadi pergeseran budaya di kalangan remaja, para remaja tidak segan-segan mengupload segala kegiatan pribadinya untuk disampaikan kepada teman-temannya melalui akun media sosial dalam membentuk identitas diri mereka.

Identitas Diri

Identitas, merupakan hal yang penting di dalam suatu masyarakat yang memiliki banyak anggota. Identitas membuat suatu gambaran mengenai seseorang, melalui; penampilan fisik, ciri ras, warna kulit, bahasa yang digunakan, penilaian diri, dan faktor persepsi yang lain, yang semuanya digunakan dalam mengkonstruksi identitas budaya. Identitas menurut Klap meliputi segala hal pada seseorang yang dapat menyatakan secara sah dan dapat dipercaya tentang dirinya sendiri – statusnya, nama, kepribadian, dan masa lalunya.

Dijelaskan bahwa identitas merupakan hal yang penting dalam sebuah komunikasi budaya. Identitas mengacu pada satu ciri khas. Keunikan. Identitas, dalam konteks masa kini kian penting untuk diteguhkan. Konon, suatu bangsa yang terpuruk bukanlah bangsa dengan GDP terendah, pantai terjelek, atau jumlah penduduk paling sedikit. Bangsa yang terpuruk itu bangsa yang tanpa identitas.Konsep identitas juga dapat dilihat dari aspek budaya yang didefinisikan sebagai emotional signifikan, yang membuat seseorang dilekatkan pada suatu hal, yang membedakannya dengan orang lain sehingga lebih mudah untuk dikenal.

Dalam perspektif komunikasi, identitas tidak dihasilkan secara sendiri, melainkan dihasilkan melalui proses komunikasi dengan yang lain. Identitas dapat dinegosiasikan, diperkuat, dan dirubah dalam suatu proses komunikasi. Tujuan dari identitas ini adalah menjadikan dan membangun sebuah komunikasi.

Interaksi simbolik

Interaksi simbolik merupakan sebuah cara berpikir mengenai pikiran, diri, dan masyarakat. George Herbert Mead, memahami interaksi simbolik sebagai interaksi di antara manusia, baik secara verbal maupun nonverbal untuk memunculkan suatu makna. Dengan adanya aksi dan respon dari individu yang lain, secara tidak langsung kita memberikan makna ke dalam kata-kata atau tindakan yang ada.

Ekologi media

Konvergensi media menghasilkan perubahan dalam arus informasi. Konvergensi media merupakan sebuah istilah yang mulai banyak digunakan sejak tahun 1990-an. Konvergensi menjadi suatu istilah yang umum dipakai dalam perkembangan teknologi digital, dimana di dalam konvergensi terjadi pengintergrasian teks, angka, gambar, video, dan suara dalam suatu media.

Kehadiran teknologi memberikan pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Manusia memiliki hubungan simbolik dengan teknologi, dimana kita menciptakan teknologi dan kemudian teknologi kembali pada siapa diri kita. Menurut McLuhan, teknologi media telah menciptakan revolusi di tengah masyarakat karena masyarakat pada saat ini masyarakat sudah sangat tergantung kepada teknologi dan tatanan masyarakat terbentuk berdasarkan pada kemampuan masyarakat menggunakan teknologi.

Teknologi komunikasi menjadi penyebab utama perubahan budaya, McLuhan dan Innis menyatakan bahwa media merupakan kepanjangan atau eksistensi dari pikiran manusia, dengan demikian media memegang peran dominan dalam mempengaruhi tahapan perkembangan manusia. O’Brien mengatakan bahwa perilaku manusia dan teknologi memiliki interaksi di dalam lingkungan sosioteknologi. Sehingga bisa dikatakan bahwa ketika IT hadir dalam bentuk yang baru, maka akan mempengaruhi struktur masyarakat, strategi komunikasi, masyarakat dan budaya, serta proses sosial. Kehadiran new media secara tidak langsung merubah struktur masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia, bisa dikatakan menganut struktur sosial yang lama atau sering disebut tradisional.

Tegar Roli A., M.Sos

Anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (MPI PDM) Banyumas

Humas Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP)

3,391 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Lebih baik rendah hati daripada pamer

Lebih baik rendah hati daripada pamer

Pikir dulu sebelum mau pamer soal pencapaianmu, kalau memang mau melakukannya, harus ada hal lain yang bisa mendukungnya.

Berdasarkan penelitian baru yang dirilih oleh jateng.antaranews.com, ternyata orang-orang lebih merespons positif individu yang rendah hati ketimbang mereka si tukang pamer. Ketika orang memamerkan sesuatu, studi itu menemukan bahwa promosi tersebut lebih bisa diterima bila didukung bukti.

“Jika Anda mau memperlihatkan diri dengan cara positif dan bicara tentang pencapaian, akan lebih membantu untuk punya informasi eksternal atau bukti untuk membuktikan Anda unggul dalam satu hal,” kata penulis Erin O’Mara, profesor psikologi di University of Dayton seperti dikutip dari Time.

Berdasarkan studi itu, orang-orang akan lebih menyukai Anda jika Anda rendah hati dan mendeksripsikan diri dengan cara yang sederhana.

Tapi jangan jadikan itu alasan untuk melakukan humblebrag, merendahkan diri sendiri sebagai kedok untuk pamer. Humblebrag, berdasarkan studi, takkan membuat Anda mendapatkan teman.

“Untuk humblebragging, ada upaya mempromosikan diri sendiri dengan membuat diri terkesan rendah hati,” kata Kunz. Akan lebih membantu bila orang mengetahui prestasi Anda lewat orang ketiga, seperti yang ditemukan di studi baru, imbuh dia.

3,391 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini