Setia  Pada Jurnalisme

Setia Pada Jurnalisme

Belum lama ini, Nielsen telah melakukan survey dan menyebutkan bahwa media cetak sampai sekarang masih dipilih karena beritanya dapat dipercaya dan cukup menggembirakan. Meski demikian, terlepas dari segala macam alasan, media tidak akan pernah sedikitpun untuk ditinggalkan jika tetap setia dan teguh hati pada inti jurnalisme.

Dalam Surveynya dipaparkan Nielsen menyebutkan, media cetak pada 2016 hingga 2017 terhadap 17.000 responden di 11 kota di Indonesia. Hasilnya, media cetak masih memiliki penetrasi sebesar 8 persen atau sekitar 4,5 juta orang. Artinya populasi di 11 kota mencapai 54 juta orang di atas usia 10 tahun.

Sementara pengguna media internet dan digital untuk membaca berita cukup tinggi. Disebutkan dalam Surveynya hingga triwulan III 2017, jumlah pembaca versi digital mencapai 6 juta orang dengan penetrasi 11 persen. Kondisi ini menunjukan minat baca yang tidak pernah menurun.

Jika dilihat dari profil pembaca, media cetak di Indonesia cenderung dikonsumsi oleh konsumen berusia 20 – 49 tahun (74 persen), memiliki pekerjaan sebagai karyawan (32 persen), dan mayoritas pembaca berasal dari kalangan atas (54 persen)

Sementara alasan utama pembaca masih memiliki media cetak karena nilai betianya yang didapat dipercaya dan tak mengandung unsur hoaxs atau berita palsu. Unsur kepercayaan ini tentu berpengaruh pada iklan di media cetak tersebut.

Media cetak masih akan tetap betahan lama karena pengiklan masih nyaman belanja iklan di media cetak dibandingkan media online. Kita tahu banyak iklan yang mengalir ke media online, kecuali ke beberapa media online yang sudah eksis sudah lama.

Saat ini masih saja terus mulai bermunculan media-media online dengan produksi konten mandalam dan koperehensif. Sayangnya, media-media online tersebut belum banyak mendapatkan dukungan dari industry pemasang iklan.

Hingga Saat ini Media Cetak Tetap Menjadi Pilihan

Hingga saat ini media cetak tetap masih menjadi pilihan para pembaca. Media cetak dipilih sebagai sumber informasi karena beritanya dapat dipercaya. Sebagian besar konsumen utama media cetak adalah kalangan atas.

Mengapa responden membaca media cetak, karena beritanya dapat dipercaya. Industri media cetak perlu tetap mengampanyekan atau memprmosikan bahwa mereka memiliki berita yang dapat dipercaya dan tidak mengandung unsur hoaxs atau informasi palsu.

Akan berbahaya jika media cetak sudah tidak lagi dipercaya. Terlepas kepentingan-kepentingan, sosial, ekonomi dan budaya. Namun, ramalan bahwa usia media cetak masih panjang juga sulit dipastikan kebenarannya. Rasa nyaman dan optimis yang terlalu berlebihan akan membuat pemilik media cetak tak cepat bersiap-siap menghadapi perubahan.

Memasuki generasi milenial atau era 5G (teknologi jaringan seluler generasi kelima), lompatan besar teknologi akan terjadi, kecepatan berlipat, dan video akan langsung ditemukan dengan cepat begitu di-klik. Mau tidak mau, generasi tua dipaksa akrab dengan teknologi digital.

Teknologi dan media boleh saja berubah, tetapi inti jurnalisme tetap tak akan berubah. Hanya kesetiaan dan keteguhan hati kepada inti jurnalismelah yang akan menjadikan media konvensional tetap bisa bertahan dan dipercaya.

Media cetak harus mempertahankan cara-cara penulisan berita yang sesuai dengan standar jurnalistik, termasuk ketika nanti terpaksa harus berpindah ke media baru atau New Media. Pada akhirnya orang-orang berpendidikan tinggi akan mengalami perubahan selera membaca. Mereka merasa bosan dan tidak merasa tercukupi dengan tulisan pendek dan sekedar sensasional.

Mereka akhirnya mencari berita panjang, serius, mendalam dan tidak sensasional. Atau bisa diistilahkan orang akan lebih suka mencium harumnya kertas dibanding menyentuh mulusnya layar kaca.

Sementara itu, hal lain yang akan menyelamatkan media cetak adalah masyarakat local di daerah. Meski membaca berita dering, mereka tetap setia membaca koran daerah.

Tantangan Jurnalisme pada New Media

Public barangkali masih ingat berbagai peristiwa penting terkait dinamika media dalam satu dekade terakhir. Jelang pemilihan umum 2014, misalnya, kita melihat bagaimana sejumlah media tampil bias dan tidak konsisten. Alih-alih mereka lebih mengedpankan isu-isu penting publik, media justru menunjukan keberpihakannya kepada calon presiden tertentu. Orang juga mungkin belum lupa bagaimana dia menyita frekuensi publik dengan menampilkan kehidupan pribadi selebritas yang diekspos berlebihan. Pertanyaan yang muncul kemudian, sebetulnya media mewakili kepentingan siapa.?

Pesatnya kemajuan teknologi informasi yang ditandai dengan menjamurnya media daring pun seharusnya tidak mengubah sifat yang harus dimiliki media, yaitu media yang dipercaya public. Para pelaku media di era digital atau New Media harus sadar akan dampak berita dalam jaringan atau online yang lebih besar dibandingkan media cetak karena kecepatan dan jangkauannya. Tidak boleh asal cepat, akurasi, verifikasi, cover all side, juga konteks peristiwa, tetap punya makna penting bagi khalayak. Media harus tetap menjadi pedoman bagi public.

Pedoman Mencari dan Menyiapkan Kebenaran

Tumbangnya rezim orde baru pada 1998 dan kemajuan teknologi informasi telah membawa jurnalise di tanah air dewasa ini tampil berbeda. Kini, sedikitnya ada ratusan media cetak dan radio, puluhan stasiun televisi serta kemunculan media baru (New media). Meski demikian, kita melihat jurnalisme di era digital bagaikan bola liar yang bergulir tanpa arah yang jelas. Banyaknya media massa yang muncul tidak serta merta diikuti dengan mutu pemberitaan yang baik. Hal itu diperkuat data statistic yang menunjukan dari masyarakat.

Zulkarimein Nasution, dalam bukunya yang bertajuk Etika jurnalisme: prinsip-pinsip Dasar (Rajawali Pers, 2015), mengatakan bahwa pelanggaran yang dilakukan media massa disebabkan ketidakpahaman para jurnalis akan etika jurnalisme. Padahal, etika jurnalisme dianalogikan seperti sebuah kompas di sebuah kapal. Media dan para jurnalis layaknya nakhoda yang membutuhkan navigasi agar tidak tersesat dalam melaksanakan misinya yang mulia: mencari dan menyampaikan kebenaran

Oleh : Tegar Roli A., M. Sos

Praktisi Media & Humas Universitas Muhammadiyah Purwokerto

170 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share/Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *