Lebih baik rendah hati daripada pamer

Lebih baik rendah hati daripada pamer

Pikir dulu sebelum mau pamer soal pencapaianmu, kalau memang mau melakukannya, harus ada hal lain yang bisa mendukungnya.

Berdasarkan penelitian baru yang dirilih oleh jateng.antaranews.com, ternyata orang-orang lebih merespons positif individu yang rendah hati ketimbang mereka si tukang pamer. Ketika orang memamerkan sesuatu, studi itu menemukan bahwa promosi tersebut lebih bisa diterima bila didukung bukti.

“Jika Anda mau memperlihatkan diri dengan cara positif dan bicara tentang pencapaian, akan lebih membantu untuk punya informasi eksternal atau bukti untuk membuktikan Anda unggul dalam satu hal,” kata penulis Erin O’Mara, profesor psikologi di University of Dayton seperti dikutip dari Time.

Berdasarkan studi itu, orang-orang akan lebih menyukai Anda jika Anda rendah hati dan mendeksripsikan diri dengan cara yang sederhana.

Tapi jangan jadikan itu alasan untuk melakukan humblebrag, merendahkan diri sendiri sebagai kedok untuk pamer. Humblebrag, berdasarkan studi, takkan membuat Anda mendapatkan teman.

“Untuk humblebragging, ada upaya mempromosikan diri sendiri dengan membuat diri terkesan rendah hati,” kata Kunz. Akan lebih membantu bila orang mengetahui prestasi Anda lewat orang ketiga, seperti yang ditemukan di studi baru, imbuh dia.

1,244 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Mengenang Raden Aria Wirjaatmadja, Pendiri BRI

Mengenang Raden Aria Wirjaatmadja, Pendiri BRI

Di sebelah barat, tidak jauh dari alun-alun Purwokerto berdiri bangunan. Museum Bank Rakyat Indonesia (BRI) bangunan dengan nuansa rumah lawas itu setiap hari nampak lengang. Hanya hari-hari tertentu bangunan tersebut nampak ramapi anak-anak dengan seragam sekolah. Di sebelahnya, terbentang Jalan Wirjaatmadja atau yang lebih dikenal dengan nama Jalan Bank.

Tidak banyak yang mengetahui namanya Wirjaatmadja merupakan tokoh penting dalam dunia perbankan, yang merupakan asli putra daerah Kabupaten Banyumas. Di sebelah utara bangunan museum, berdiri bangunan dengan satu ruangan.

Bangunan ini terdiri dari tiga monumen yaitu Gedung Replika, Patung Raden Aria Wirjaatmadja, Gedung Museum BRI. Selain tiga monumen tersebut, untuk mengenang dan melanjutkan semangat pendirinya pada Museum BRI ini pun dilengkapi dengan Unit Pelayanan yang terdapat di dalam Gedung Museum. Lokasi ketiga monumen ini berada dalam satu halaman, sesuai dengan ketika pertama kali bank De Poerwokertosche Hulp-en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren beroperasi pada tahun 1895.

Gedung Bank Priyayi
Bangunan seluas 31 meter persegi ini merupakan kantor tempat De Poerwokertosche Hulp-en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren memulai operasinya yang pertama kali, yaitu pada 16 Desember 1895. Walaupun bangunan ini telah mengalami renovasi namun bentuk dan letaknya dibuat tepat sama seperti aslinya. Bahkan dalam renovasi ini hanya dindingnya saja yang menggunakan batubata baru, sedangkan kosen-kosen atap, jendela, pintu, langit-langit, dan atapnya masih memakai bahan yang asli.

Bangunan kantor ini dibagi menjadi dua bagian yaitu ruang dalam dan teras. Ruang dalam merupakan ruang kerja Raden Aria Wirjaatmadja, sedangkan teras merupakan tempat pembantunya menerima atau melayani para nasabahnya.

Monumen Raden Aria Wirjaatmadja
Untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa Raden Aria Wirjaatmadja sebagai pencetus gagasan mendirikan bank, didirikanlah sebuah monumen berupa patung Raden Aria Wirjaatmadja. Patung ini terletak di sebelah kanan gedung replika dan dikelilingi oleh sebuah kolam kecil.

Wirjaatmadja lahir dari pasangan Raden Ngabehi Dipadiwirja (Kepala Demang Prajurit Ayah) dengan ibu anak dari Mas Ngabehi Kertajaya (seorang Kliwon di Surakarta) di Adireja ibukota daerah Ayah Kabupaten Banyumas pada bulan Agustus 1831. Pada usia 21 tahun beliau sudah bekerja menjadi juru tulis kontrolir Belanda di Banjarnegara.

Dua tahun kemudian Wirjaatmadja menjabat mantri polisi, selanjutnya menanjak sebagai wakil wedana (1863), wedana definitif di Batur (1866), wedana Adireja (1873), wedana Karesidenan Banyumas (1875), dan Patih Purwokerto (1879). Jabatan ini dipegang hingga pensiun pada tahun 1907.

Selain dikenal sebagai Patih Purwokerto, Raden Aria Wirjaatmadja dikenal juga sebagai peletak dasar dan pendiri bank di Indonesia, yang juga menjadi cikal bakal dari Bank Rakyat Indonesia.

Berpose di bangun kantor De Poerwokertosche Hulp-en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren saya bersama Brillianto K. Satria Jaya Direktur Program dan Pemberitaan TvMu

571 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Tradisi Literasi Muhammadiyah

Tradisi Literasi Muhammadiyah

Muhammadiyah, selain bergerak dibidang social, pendidikan, dan kesehatan, juga di media (informasi). Suara Muhammadiyah (SM), dalam catatan sejarah persuratkaaran Islam di Indonesia sesungguhnya bukan yang petama lahir.

Setidaknya, sejauh penelusuran, SM merupakan media cetak Islam yang lahir kedua di tanah Air setelah Al Munir yang terbit pada 1911 di Sumatra Barat.

Al Munir merupakan majalah dakwah yang dikelola para ulama di Minangkabau dan dipipin Abdullah  Ahmad, murid Syekh Ahmad Khaib Minangkabau majalahnya yang hanya terbit beberapa tahun ini memiliki oplah 1.000 eksemplar dan menyebar hingga Jawad an Semenanjung Malaysia.

Sebenarnya, ada juga yang memasukkan media dakwah lain, seperti Al Imam sebelum lahirnya Al Munir, Al Imam terbit pada 1906 di Singapura yang notabene pada saat itu masih tanah Melayu yang sama dengan nusantara.

Media ini digagas Syekh Tahir Jalaluddin yang baru pulang dari Kairo, Mesir beserta Haji Abbas bin Muhammad Taha daru Aceh. Al Imam merupakan media dakwah pertama di tanah Melayu-nusantara (sebelum ada nama Indonesia, Singapura dan Malaysia).

Setelah Al Munir, belum ada lagi media cetak Islam yang terbit, hingga akhirnya pada 1915, SM lahir. Jadi, terang sesungguhnya SM bukanlah media Islam yang pertama lahir. SM merupakan mdia cetak Islam paling tua yang masih terbit hingga detik ini.

Sebelum dan setelah SM, ada media massa Islam, tapi usianya rata-rata tidak panjang. Tidak ada media cetak di Indonesia saat ini yang usianya sampai satu abad seperti SM.

 

Tradisi Literasi

Sebagai organisasi Islam modern yang gandrung dengan kemajuan ilmu pengetahuan, di tubuh Muhammadiyah sudah mengurat-mengakar sebuah tradisi literasi.

Jika kini kita masih menyaksikan kehadiran SM dan Suara Aisyiyah,  dalam catatan sejarah media yang pernah dilahirkan oleh ‘tubuh’ Muhammadiyah sesungguhnya lebih banyak lagi.

Dalam Katalog Majalah terbitan Indonesia yang dikoleksi Perpustakaan Nasional misalnya, di antara rentang 1779-1980 saha, sedikitnya ada 31 media yang diterbitkan Muhammadiyah. Sebagai penerbitnya ada yang langsung oleh PP Muhammadiyah, Majelis Taman Pusaka, serta wilayah juga ortom Muhamadiyah.

Rentang waktu yag ckup judul dalam peadaban bangsa ini, Muhammadiyah sangat agresif dalam tradisi jurnalistik. Peran dakwah Muhammadiyah benar-benar dikibarkan lewat media massa sebagai sarana penyampaian pesan.

Namun lagi-lagi kebanyakan media itu bertumbangan sebelum besar sehingga tidak bisa bertahan lama.

Diantara media yang pernah diterbitkan Muhammadiyah, seperti Al Fach, Annida, Arabic Monthly Paper, Bahteramasa, Berita, Berita (beda tahu dan penerbit), Menara Ngampel, Miratoel Miehammadijah, Moehammadi, Penerangan Islam, Penjiar Islam, Perikatan, Poestaka Moehammadijah Dairah Banjoemas, Sinar Islam, Soeara Miehamadijah, Suara Aisjijah, Suara Aisyah (Penyesuaian Ejaan), Suara Muhammadijah (penyesuaian ejaan), Suara Muhammadiyah (penyesuaian ejaan), Suluh Pendidikan Muhammadiyah, Tacawoeff Islam, Tjahaja.

Di luar yang disebutkan di atas, diduga kuat masih banyak media massa Islam yang diterbitkan bukan oleh tokoh-tokoh atau personal Muhammadiyah , tanpa menyebutkan Muhammadiyah.

Setidaknya gambaran sekilas ini menyiratkan betapa kepedulian Muhammadiyah dan para anggotanya dalam mengibarkan semangat literasi sejak dulu hingga kini, terlebih pascatahun 1980 yang belum terhitung berapa banyak jumlahnya.

Yang lebi menarik lagi sebenarnya jika kita mendiskusikan aspek pesan dari SM yang sudah mengalami beberapa kali perubahan karakter kontennya.

466 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Rambut Gondrong Menguntungkan Perusahaan

Rambut Gondrong Menguntungkan Perusahaan

Gondrong: antara untung dan rugi. Rambut gondrong pernah tren pada era 1970-an di hampir seluruh dunia, dari Amerika Serikat sampai Indonesia. Tapi jangan dianggap kalau rambut saya gondrong, berarti saya tua ya, karena musisi dunia, seperti John Lennon dan Robert Plant, berambut gondrong pada masanya. Begitu pula pemanin band di Indonesia, dari Koes Plus sampai band  rock Ternchem dari Solo, memiara rambut panjang. Kaum muda di negeri ini pun tersapu rambut gondrong, seperti saya ini, he.

Usut punya usut, ternyata mode rambut gondrong menguntungkan perusahaan sampo. Mengutip harian Kompas Edisi Sabtu 15 Juni 2019 hal. 11 mencatat bahwa produk perawatan rambut di Amerika Serikat meraih untung dari kebiasaan orang memelihara rambut gondrong dan jenggot panjang. Prodsen sampo berhasil menjual produk 300 juga dollar AS lebih banyak dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Stasiun televise juga diuntungkan dengan meningkatnya iklan. Tuh kan Rambut Gondrong Menguntungkan Perusahaan. Kapan tiba saatnya lagi musim rambut gondrong ya gaes,, HAAHA..

891 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini