Wartawan “Menyakiti”

Wartawan “Menyakiti”

Dalam pekerjaan sehari-hari wartawan memang kerap “menyakiti” orang, misalnya menulis tentang pejabat yang korup, atlet yang gagal atau aktris yang tdak sukses, pengusaha yang bangkrut, dan banyak lagi. Namun bila hal ini dilakukan demi melayani kepentingan yang lebih besar, maka hal ini masih dapat danggap sebagai efek samping yang diterima. Prinsip menyakiti ini dibatasi, bila tindakan orang itu merugikan orang banyak lannnya. Jurnalisme selalu merupakan pekerjaan bagi orang-orang etis. Kata novelis Leslie H. Whitten, dalam bukunya Luwi Ishwara mengungkapkan,

Sebab upah mereka rendah dan mereka menjalankan pekerjaan karena percaya hal itu memang baik untuk dilakukan dan juga karena nama mereka tertera sebaga penulis.

Unsur idealisme dalam pekerjaan wartawan memang sangat menonjol. Namun unsur ini harus ditopang dengan bsnis perusahaan yang sehat. Karena surat kabar yang tidak sehat dalam bisnisnya menjadi lemah dan rentan terhadap orang-orang yang ngin memanfaatkan surat kabar itu untuk kepentingan pribadi.

Mendatangkan Uang dan Berbuat Baik

Surat kabar harus mengoprasikan keduanya: “mendatangkan uang” (sedikitnya tidak rugi) dan “berbuat baik” (seperti mengungkap ketidakadilan dan dengan demikian memperbaiki masyarakat). Karena ketegangan “ antara keserakahan dan idealism”, Thomson percaya bahwa setiap surat kabar memiliki “dua budaya, atau setdaknya pandangan, yang terkadang bertentangan antara yang satu dengan yang lain: di satu pihak, wartawan dan editor, yang bisa berperan membongkar dan menyebarluaskan kebenaran dan di pihak lain, pemilik, penerbit, manajemen, yang berusaha mempertahankan bisnin dan mengusahakan keuntungan yang besar. Pimpinan Redaksi Times Miror Company, Otis Chandler percaya bahwa surat kabar yang sukses tidak akan membiarkan maduk ke arena editorial. Mereka memberikan keleluasaan pada depatermen editorial untuk sepenuhnya bebas meliput berita seperti apa yang dilihatnya.

Untuk mempertahankan keseimbangan kedua skap ini memang tidak mudah, terutama menghadapi berbaga macam godaan, sehingga terkadang harus ada yang dikorbankan. Meminjam kata Ellen Hume, Jurnalisme yang dulunya membongkar penyelewengan sekarang memberi jalan kepada pengeruk uang yang menapai popularitas dan kekayaan.

3,804 kali dilihat, 47 kali dilihat hari ini

Jurnalisme bukanlah obat, tetapi dia dapat menyembuhkan

Jurnalisme bukanlah obat, tetapi dia dapat menyembuhkan

Jurnalisme bukanlah obat, tetapi dia dapat menyembuhkan. Jurnalisme bukanlah hukum, tetapi dia dapat membawa keadilan. Jurnalisem bukanlah militer, tetapi dia dapat membantu menjaga kita aman.

Itulah apa yang diajarkan sejarah kepada kita. Ia juga mengatakan bahwa jurnalisme adalah alat yang paling pentingyang kita miliki untuk menjaga agar pemerintah jujur, menjaga agar masyarakat mendapat informasi, dan menjaga agar demokrasi tetap utuh. Inti menulis berita adalah suatu pekerjaan mulia.

Wartawan memang mempunyai ujuan mulia. Paus Johanes Paulus II berkata :”Dengan pengaruh yang luas dan langsung terhadap opini masyarakat, jurnalisme tidak bisa dipandu hanya oleh kekuatan ekonomi, keuntungan dan kepentingan khusus. Jrnalisme haruslah diserapi sebagai tugas suci, dijalankan dengan kesadaran bahwa sarana komunikasi yang sangat kuat telah dipercayakan kepada Anda demi kebaikan orang banyak.

Senang rasanya bagi seorang wartawan bila bisa menolong orang yang sedang menghadapi kseulitan dengan menyampaikan berita dan gagasan tentang dunia sekitar mereka. Dan memang inilah yang dibutuhkan masyarakat. Untuk meningkatkan kredibilitas, wartawan dianjurkan untuk menghargai khalayaknya dengan menyajikan apa yang diharapkan mereka sebagai berita. Menjadikan prioritas utama untuk tidak menyakiti.

Jurnalisme menyentuh hampir setiap kehidupan manusia.

Maka prilaku dan standar moral dalam jurnalisem layak mendapat perhatian yang sama seperti yang berlaku pada hakim, dokter, pebisnis, dan sebagainya. Kebebasan pers adalah sebuah hak, yang seperti semua maslah yang terkait moral, tanpa kecuali juga dibatasi oleh hak-hak lain, di mana pada suatu saat atau titik, mereka akan bersaing.

Pers mempunyai hak untuk mengekspresikan pendapat dan penilaiannya tentang seseorang, tetapi bila pers melanggar hak moral seseorang  untuk tidak difitnah, maka orang tersebut berhakuntuk mengesampingkan hak kebebasan berekspresi dari pers tersebut.

Purwokerto, Senin (1/7/2019) 16.06

3,963 kali dilihat, 46 kali dilihat hari ini