Tiga Metode dalam Mencari Pengetahuan

Tiga Metode dalam Mencari Pengetahuan

 

Rasionalisme

Kaum rasionalisme mulai dengan suatu pernyataan yang sudah pasti. Aksioma dasar yang dipakai membangun sistem pemikirannya diturunkan idea yang menurut anggapannya adalah jelas, tegas, dan pasti dalam pikiran manusia. Pikiran manusia mempunyai kemampuan untuk ”mengetahui” idea tersebut, namun manusia tidak menciptakannya, maupun tidak mempelajari lewat pengalaman. Idea tersebut kiranya sudah ada ”di sana” sebagai bagian dari kenyataan dasar, dan pikiran manusia., karena ia terlihat dalam kenyataan tersebut, pun akan mengandung idea pula. Jadi dalam pengertian inilah maka pikiran itu menalar. Kaum rasionalis berdalil, bahwa karna pikiran dapat memahami prinsip, maka prinsip itu harus ”ada”: artinya, prinsip harus benar dan nyata. Jika prinsip itu tidak ’ada”, orang tidak mungkin akan dapat menggambarkannya. Prinsip dianggap sebagai sesuatu a-priori, atau pengalaman, dan karena itu prinsip tidak dikembangkan dari pengalaman : bahkan sebaliknya, pengalaman hanya dapat dimengerti bila ditinjau dari prinsrip tersebut.

Empirisme

Usaha manusia untuk mencari pengetahuan yang bersifat mutlak pasti telah berlangsung dengan penuh semangat dan terus-menerus. Walaupun begitu, paling tidak sejak zaman Aristoteles, terdapat tradisi epistemologi yang kuat untuk mendasarkan diri kepada pengalaman manusia, dan meninggalkan cita-cita untuk mencari pengetahuan yang mutlak tersebut. Doktrin empirisme merupakan contoh dari tradisi ini. Kaum empiris berdalil bahwa adalah tidak beralasan untuk mencari pengetahuan mutlak dan mencakup semua segi, apalagi bila di dekat kita, terdapat kekuatan yang dapat dikuasai untuk meningkatkan pengetahuan manusia, yang meskipun bersifat lebih lambat namun lebih dapat diandalkan. Kaum empiris cukup puas dengan mengembangkan sebuah sistem pengetahuan yang mempunyai peluang yang besar untuk benar, meskipun kepastian mutlak takkan pernah dapat dapat dijamin.

Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan menusia dapat diperoleh lewat pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkan seorang empiris bahwa sesuatu itu ada, dia akan berkata ”Tunjukkan hal itu kepada saya”. Dalam persoalan mengenai fakta maka dia harus diyakinkan oleh penglamannya sendiri. Jika kita mengatakan kepada dia bahwa ada seekor harimau di kamar mandinya, pertama dia minta kita untuk menceritakan bagaimana kita sampai pada kesimpulan itu. Jika kemudian kita terangkan bahwa kita melihat harimau itu dalam kamar mandi, baru kaum empiris akan mau mendengar laporan mengenai pengalaman kita itu, namun dia hanya akan menerima hal tersebut jika dia atau orang lain dapat memeriksa kebenaran yang kita ajukan, dengan jalan melihat harimau itu dengan mata kepalanya sendiri.

Kombinasi antara Rasionalisme dan Empirisme

Terdapat suatu angaapan yng luas bahwa ilmu pada dasarnya adalah metode induktif-empiris dalam memperoleh pengetahuan. Memang terdapat beberapa alasan untuk mendukung penilaian yang populer ini, karena ilmuwan mengumpulkan fakta-fakta yang tertentu, melakukan pengamatan, dan mempergunakan data inderawi. Walaupun begitu, analisi yang mendalam terhadap metode keilmuwan akan menyingkapkan kenyataan bahwa apa yang dilakukan oleh ilmuwan dalam usahanya mencari pengetahuan lebih tepat digambarkan sebagai suatu kombinasi antara prosedur empiris dan rasional. Epistemologi keilmuwan adalah rumit dan penuh kontroversi, namun akan diusahakan di sini, untuk memberikan analisa filosofis yang singkat dari metode keilmuwan, sebagai suatu teori pengetahuan yang terkemuka.

Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa metode keilmuwan adalah satu cara dalam memperoleh pengetahuan. Suatu rangkaian prosedur yang tertentu harus diikuti untuk mendapatkan jawaban yang tertentu dari pernyataan yang tertentu pula. Mungkin epistemologi dari metode keilmuwan akan lebih mudah dibicarakan, jika kita mengarahkan perhatian kita kepada sebuah rumus yang mengatur langkah-langkah proses berpikir, yang diatur dalam suatu urutan tertentu. Kerangka dasar prosedur ini dapat diuraikan dalam enam langkah sebagai berikut :

  1. Sadar akan adanya masalah dan perumusan masalah
  2. Pengamatan dan pengumpulan data yang relevan
  3. Penyusunan atau klasifikasi data
  4. Perumusan hipotesis
  5. Deduksi dan hipotesis
  6. Tes dan pengujian kebenaran (verifiksi) dari hipotesa.

847 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Pertunjukan Rakyat

Pertunjukan Rakyat

Empat Kabupaten mengikuti seleksi terahir pertunjukan takyat (Pertura) Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) tingkat Jawa Tengah yang dilaksanakan di Objek Wisat Purbasari Pancuran Mas, Minggu (7/6). 4 Kabupaten tersebut Kabupaten Brebes, Kabupaten Magelang, Kabupaten Jepara dan Kabupaten Purbalingga.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Komunikasi dan Inforrmatika (Dinkominfo) Provinsi Jawa Tengah yang diwakili Kabid Informasi dan Komunikasi (TIK) mengatakan Pertura diharapkan mampu menjadi media alternatif untuk mengedukasi dan menyampaiakan segala hal kepada masyarakat. Ada pesan-peasan sosial yang harus disampaiakan dalam setiap Pertura.

“ Tema yang diambil dalam Pertura kali ini ada dua yakni pertama tangkal berita bohong dan ujar kebencian. Kedua mengokohkan kembali Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan kesatuan Bangsa Indonesia,” katanya.

Pertura selain sebagai upaya nguri-nguri budaya lokal juga sebagai ruang ekspresi bagi para seniman untuk terus mengembangkan kemampuannya di bidang seni budaya. Karena di era digital sekarang banyak masyarakat yang abai pada seni pertunjukan rakyat, bahkan tidak ada yang mengenal budayanya sendiri.

Sedangkan Kepala Dinakominfo Kabupaten Purbalingga, Jonathan Eko Nugroho mengatakan memasuki revolusi 4.0 memudahkan masyarakat mendapatkan informasi hanya dengan sentuhan jari. Mudahnya arus informasi membuat maraknya berita-berita yang tidak jelas sumbernya, bersifat profokatif dan meluasnya ujar kebencian.

“ Pertura yang memadukan seni musik, seni teater dan seni tari diharapkan selain menjadi tontonan yang menarik juga diharapkan bisa menjadi tuntunan bagi masyarakat. Setidaknya menjadi wahana pencerahan agar tidak terserang virus hoaks,” kata Kepala Dinkominfo Purbalingga yang dikenal dengan nama Pak Yon.

Pak Yon menambah dipilihnya objek wisata Purbasari sebagai tempat seleksi Pertura diharapkan para seniman FK Metra khususnya di luar Purbalingga bisa menikmati keindahan wisata yang ada di Purbalingga. Mereka juga diharapkan bisa menceritakan pengalamannya di Purbalingga kepada teman, sanak saudara dan tetangganya bahwa di Purbalingga ada objek wisata yang patut dikunjungi.

“ Temen-teman FK Metra juga bisa menikmati khas kuliner Purbalingga yang khas dengan tempe mendoannya, dan jangan lupa membeli oleh-oleh khas Purbalingga,” pesannya. (PI-2)

881 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Seni Tradisional dan Agen Informasi

Seni Tradisional dan Agen Informasi

Seni tradisional yang terdiri atas berbagai pagelaran dan pertunjukan bisa menjadi agen penyebaran informasi positif bagi masyarakat. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kabupaten Purbalingga, Yonathan Eko Nugroho saat melakukan sambutan mewakili Bupati Purbalingga dalam acara seleksi pagelaran rakyat FK-Metra (Forum Komunikasi Media Tradisional) se- Provinsi Jawa Tengah, Minggu (7/7) di Taman Wisata Pendidikan (TWP) Purbasari Pancuran Mas, Padamara.

Yonathan mengatakan, seni tradisional bisa memegang peranan penting dalam penyebaran informasi konstruktif ke masyarakat. Menurutnya, masyarakat bisa menangkap sebuah informasi yang membangun apabila dikemas dalam sesuatu yang menarik seperti pementasan drama tradisional sehingga masyarakat akan betah dan tertarik mengikuti pesan yang terkandung.

“Pagelaran seni tradisional bisa menjadi media yang bagus untuk menyampaikan sebuah informasi kepada masyarakat sehingga masyarakat akan tertarik dengan pesan apa yang akan disampaikan,” kata Yonathan.

Yonathan menambahkan, media tradisional juga bisa menjadi cara untuk menangkal berita bohong atau hoax yang akhir-akhir ini banyak berhembus di Masyarakat. Melalui media tradisional juga, masyarakat harus diedukasi tentang bahaya fitnah dan ujaran kebencian yang marak di media social.

“Mari mengedukasi masyarakat dengan ikut mengkampanyekan anti hoax dan menghindari fitnah serta ujaran kebencian agar lingkungan kita dan Indonesia umumnya tetap kondusif,” imbuhnya.

Dalam pertunjukan rakyat tersebut terdapat empat Kabupaten yang berpatisipasi yaitu Kabupaten Jepara, Kabupaten Brebes, Kabupaten Magelang dan tentu saja tuan rumah Kabupaten Purbalingga. Pengumuman lomba tersebut akan disampaikan sekitar awal September 2019 mendatang. (KP-4).

824 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Kampanye Anti Polusi Suara

Kampanye Anti Polusi Suara

Tegarroli.com-Pertunjukan berbeda tersajikan di Umah Kopi yang berada di Jalan Riyanto Gang Teratai Sumampir, Jumat (5/7/2019) malam lalu bertajuk Rame-Rame Minim Suara yang digagas oleh Swarasunyi bekerjasama dengan Umah Kopi Purwokerto dan Acarakita Indonesia.

Acara tersebut merupakan acara pertama di Kota Purwokerto yang menghadirkan konsep berbeda bila dibandingkan dengan konsep pertunjukan yang pernah ada di Purwokerto. Selama ini sebuah pertunjukan diidentikan dengan kebisingan yang tidak jarang mengganggu lingkungan, pada acara kali ini sama sekali tidak mengganggu karena tidak mengeluarkan suara yang dihasilkan oleh soundsystem ribuan watt.

Disitu, penonton yang hadir tidak akan mendengarkan suara keras yang dihasilkan oleh penampil bila tidak menggunakan headphone yang disediakan oleh tim Swarasunyi. “Jadi disinilah uniknya acara yang kami beri tajuk Rame-Rame Minim Suara ini,” kata pegiat Swarasunyi Purwokerto, Lij Imam Nurrokhman.

Founder dari musikpurwokerto.com ini menjelaskan, Rame-Rame Minim Suara bisa dibilang sebuah acara yang bisa digunakan sebagai salah satu kampanye anti polusi suara. “Saya hanya memberikan solusi untuk di Purwokerto khususnya bahwa ada konsep acara yang intim namun suaranya tidak mengganggu lingkungan sekitar,” jelasnya.

“Untuk di Kota Purwokerto sendiri memang baru pertama kali diadakan, tapi untuk di Kabupaten Banyumas sudah tiga kali ini diadakan setelah sebelumnya di Sanggar Hirataka Banyumas dan Jego’s Studio Kebasen,” lanjutnya.

Beberapa penampil dihadirkan di Umah Kopi Purwokerto untuk memberikan hiburan kepada pengunjung seperti penampilan dari Genta Garby Love & Share yang merupakan musisi lawas era 90’an, Bird yang merupakan solois asal negeri Jiran Malaysia, dan juga Hyndia yang saat ini sedang melakukan promo album kedua bertajuk Winter Song.

Tidak hanya penampilan dari musik, karena disitu juga hadir komika dari Stand Up Purwokerto yakni Adit dan Koko serta penampilan magician Purwokerto Kim Van Disel dengan pertunjukan fakirnya. Untuk master of ceremony (MC) dibawa langsung oleh tim Swarasunyi dari Jakarta yakni Gestra Julio.

Gitaris Hyndia, Aga Maulana mengatakan, tampil di gelaran Rame-Rame Minim Suara dengan konsep silent ini merupakan yang pertama dilakukan dan saya pribadi senang bisa mencoba eksperimen ini yang memang menjadi solusi dalam sebuah pertunjukan musik. “Hal yang baru bagi Hyndia dan pasti kami apresiasi,” katanya.

Sementara dua penampil non musik yakni Adit dengan stand up comedy dan Kim Van Disel dengan magiciannya merasa tertantang saat pertama mendapat tawaran tampil tapi dengan menggunakan headphone untuk mendengarnya. Menurut mereka, konsep itu juga pertama kali dilakukan selama bergelut dikomunitasnya masing-masing.

Kedepannya, Lij Imam berharap akan ada konsep silent lagi di Purwokerto dengan konten berbeda seperti yang dilakukan juga di Jakarta dan kota besar lain. “Sudah pasti saya terus menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk konsep silent yang bisa digunakan sebagai salah satu solusi kampanye anti polusi suara,” ujarnya. (*)

 

527 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini