Asiknya Aksi Sapta Pesona

Asiknya Aksi Sapta Pesona

Sejumlah Pelaku Wisata dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kabupaten Purbalingga  mengikuti kegiatan Aski Sapta Pesona. Aksi Sapta  Pesona tersebut digelar selama dua hari  di  Taman Wisata Pendidikan Purbasari Pancuran Mas, Rabu (10/7) dan Goa Lawa Purbalingga, Kamis (11/7).

 “Ini merupakan program dari Dinporapar Provinsi Jawa Tengah. Pesertanya dari Pokdarwis dan pelaku wisata, dari  juru parkir, petugas kebersihan hingga pedangang,” Kata Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Purbalingga, Yanuar Abidin.

Yanuar berharap melalui kegiatan Aksi Sapta Pesona dapat menjadi movitasi bagi pokdarwis  & pelaku wisata untuk benar-benar menerapkan sapta pesona di setiap destinasi wisata yang ada di Purbalingga. “Sapta Pesona sebagai dasar pariwisata, jika penerapannya baik tentunya pelaksanaan wisatanya juga baik. Berdampak pada meningkatnya kunjungan wisatawan,” tambahnya.

Tafif selaku perwakilan Dinporapar Provinsi Jawa Tengah Bidang Pengembangan Destinasi Pariwista menjelaskan 7 arti dari sapta pesona. Pertama, Aman artinya suatu tempat wisata harus aman, terlindungi dan bebas dari tindak kejahatan & tejamin keselamatan jiwa & fisik.Terib, misalnya Tertib lalu lintas, pelayanan dilakukan secara baik dan tepat dan Informasi yang benar /tidak membingungkan. Bersih, wisatawan akan merasa nyaman jika tempat wisata bersih.

“Tempat wisata harus bersih dan yang perlu lebih diperhatikan yaitu tempat sampah dan toilet, toilet yang bersih dapat menggambarkan kondisi wisata secara keseluruhan,” katanya.

Selajutnya, sejuk contohnya turut serta aktif memelihara kelestarian lingkungan. Indah, dapat dilihat dari berbagai segi, seperti dari segi tatawarna, tataletak, tataruang bentuk dan gerak yang serasi dan selaras, sehingga member kesan yang enak dan cantik untuk dilihat. Ramah tamah, merupakan satu daya tarik bagi wisatawan.

“Terakhir Kenangan, Kenangan dapat berasal dari akomodasi yang nyaman, bersih, pelayanan yang cepat. Selain itu Atraksi seni budaya, makanan & minuman khas  sampai cindera mata dari tempat wisata tersebut,” pungkas Tafif.

Aksi Sapta Pesona digelar di 8 Kabupaten/Kota secara bergiliran yaitu mulai dari Kabupaten  Semarang, Purbalingga,  Kebumen, Magelang, Banjarnegara, Boyolali, Kota Semarang, Wonogiri. (PI-6)

577 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Petani Melek Teknologi

Petani Melek Teknologi

Tegarroli.com – Petani di Kabupaten Purbalingga harus mulai memanfaatkan perkembangan teknologi yang semakin pusat. Hal tersebut disampaikan Wijayanto, Kasubdit Pengembangan Ekonomi Digital Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI saat acara pelatihan aplikasi “petani go-online” para penyuluh pertanian se-Kabupaten Purbalingga, Rabu (10/7) di Graha Adiguna komplek Pendapa Dipokusumo Purbalingga.

Wijayanto mengatakan, banyak petani di Indonesia yang kurang paham teknologi bisa dimanfaatkan untuk kemajuan pertania. Menurutnya, paradigma petani sampai dengan saat ini beranggapan teknologi tidak bia digunakan memajukan pertanian khususnya tentang produksi dan bagaimana cara memasarkannya hingga fluktuasi harga.

“Petani masih ada yang kurang paham kalau teknologi khususnya perkembangan aplikasi dalam gadget bisa digunakan untuk memantau apapun termasuk fluktuasi harga produk pertanian,” katanya.

Wijayanto menambahkan, penyuluh pertanian di Kabupaten Purbalingga harus bisa membuka pola pikir para petani tentang pemanfaatan teknologi pada aktivitas pertanian. Petani harus melek teknologi yang di dalamnya bisa digunakan untuk memantau isu yang dihadapi pada saat ini sehingga petani akan cepat beradaptasi dengan dinamika yang ada.

“Petani bisa memantau harga cabai, gabah bahkan pupuk dengan sendiri. Dengan begitu mereka bisa mengira-ira biaya yang akan dikeluarkan dengan profit yang akan diterima karena masalah cuaca yang berubah dan berbeda di masing-masing daerah juga menjadi masalah tersendiri bagi petani,” imbuhnya.

Kemenkominfo berkomitmen memajukan kualitas hidup petani dan nelayan di seluruh Indonesia dengan teknologi. Wijayanto mengaku, Kemenkominfo sampai saat ini telah melayani satu juta petani dan nelayan untuk go-digital yang membantu alur kerja mereka. Besok, giliran petani yang ada di Kabupaten Purbalingga yang akan mendapat pelatihan serupa di Pendopo Dipokusumo Purbalingga.

“Kemenkominfo saat ini telah membantu satu juta petani dan nelayan dalam alur kerja mereka menggunakan teknologi dan hasil yang mereka peroleh sangat signifikan,” pungkasnya. (KP-4).

 

517 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Kemiskinan adalah Masalah Klasik Negeri Ini

Kemiskinan adalah Masalah Klasik Negeri Ini

Kemiskinan adalah masalah klasik negeri ini yang tak kunjung usai. Dari zaman kerajaan, penjajahan, sampai kemerdekaan yang memasuki tahun ke-67, Indonesia (lebih tepatnya pemerintah) belum menemukan formulasi yang tepat untuk bisa keluar dari jeratan kemiskinan. Islam, sebagai agama mayoritas penduduk Indonesia sebenarnya mempunyai konsep yang sangat luar biasa dalam upaya untuk mengentaskan kemiskinan. Seperti halnya kewajiban berzakat, infak, sedekah, dan yang lainnya, yang manfaatnya untuk keadilan sosial dan pemberdayaan umat. Tapi sayangnya, di negara yang mayoritas muslim ini, masih banyak masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Bertolak dari pandangan diatas, maka zakat sebenarnya mempunyai fungsi-fungsi sosial, ekonomi, dan berlandaskan keadilan yang telah digariskan dalam ketentuan nas normatif, legalistik, filosofik, dan historik, baik pada konsep teoritik maupun operasionalnya. Dan telah terbukti keberhasilannya dalam mewujudkan keadilan sosial ekonomi  pada masa-masa kejayaan Islam beberapa abad lalu.[1]

Tetapi, realita sekarang zakat (pada umumnya) dipahami dan diamalkan hanya sebatas ibadah kepada Allah SWT. Sehingga bisa hampir dirasakan bahwa ibadah zakat kehilangan vitalitas dan aktualitasnya. Alhasil, angka kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan sosial yang lainnya dikalangan umat Islam di Indonesia khususnya, masih cukup tinggi. Zakat dan pajak sebagai suatu solusi untuk memecahakan masalah kesenjangan sosial, masih belum bisa berbicara banyak dalam pemeberdayaan masyarakat.

                [1] Abdurrachman Qadir, Zakat Dalam Dimensi Mahdah  dan Sosial, (Jakarta: Raja Grafindo) hal. xviii

611 kali dilihat, 13 kali dilihat hari ini