Kemiskinan adalah Masalah Klasik Negeri Ini

Kemiskinan adalah Masalah Klasik Negeri Ini

Kemiskinan adalah masalah klasik negeri ini yang tak kunjung usai. Dari zaman kerajaan, penjajahan, sampai kemerdekaan yang memasuki tahun ke-67, Indonesia (lebih tepatnya pemerintah) belum menemukan formulasi yang tepat untuk bisa keluar dari jeratan kemiskinan. Islam, sebagai agama mayoritas penduduk Indonesia sebenarnya mempunyai konsep yang sangat luar biasa dalam upaya untuk mengentaskan kemiskinan. Seperti halnya kewajiban berzakat, infak, sedekah, dan yang lainnya, yang manfaatnya untuk keadilan sosial dan pemberdayaan umat. Tapi sayangnya, di negara yang mayoritas muslim ini, masih banyak masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Bertolak dari pandangan diatas, maka zakat sebenarnya mempunyai fungsi-fungsi sosial, ekonomi, dan berlandaskan keadilan yang telah digariskan dalam ketentuan nas normatif, legalistik, filosofik, dan historik, baik pada konsep teoritik maupun operasionalnya. Dan telah terbukti keberhasilannya dalam mewujudkan keadilan sosial ekonomi  pada masa-masa kejayaan Islam beberapa abad lalu.[1]

Tetapi, realita sekarang zakat (pada umumnya) dipahami dan diamalkan hanya sebatas ibadah kepada Allah SWT. Sehingga bisa hampir dirasakan bahwa ibadah zakat kehilangan vitalitas dan aktualitasnya. Alhasil, angka kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan sosial yang lainnya dikalangan umat Islam di Indonesia khususnya, masih cukup tinggi. Zakat dan pajak sebagai suatu solusi untuk memecahakan masalah kesenjangan sosial, masih belum bisa berbicara banyak dalam pemeberdayaan masyarakat.

                [1] Abdurrachman Qadir, Zakat Dalam Dimensi Mahdah  dan Sosial, (Jakarta: Raja Grafindo) hal. xviii

962 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share/Bagikan

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *