Zakat & Pajak

Zakat & Pajak

Zakat, menurut Ibnu Manzur, seperti yang dikutip olah Supani, dari segi bahasa mempunyai arti nama (subur, tambah besar/berkembang) thaharah (kesucian), barokah (keberkahan), dan tazkiyah (pensucian). Sedangkan pengertian zakat menurut syara adalah pemberian sesuatu yang wajib diberikan dari sekumpulan harta tertentu, menurut sifat-sifat dan ukuran tertentu kepada golongan tertentu yang berhak menerimanya.[1]

Sementara itu, menurut Sayydi Sabiq dalam Fiqh Sunnah Juz I mendefinisikan zakat sebagai suatu sebutan bagi sesuatu (harta) yang menjadi hak Allah SWT yang dikeluarkan oleh manusia untuk fakir miskin. Menurut Asy-Syaukani, zakat didefinisikan sebagai memberikan suatu bagian dari harta yang sudah sampai nishabnya kepada orang fakir dan lain-lainnya, tanpa ada halangan syar’I yang melarang kita melakukannya,

Meskipun para ulama mengemukakan definisi zakat dengan redaksi yang berbeda, akan tetapi pada prinsipnya sama, yaitu bahwa zakat adalah bagian dari harta dengan persyaratan tertentu, yang Allah SWT mewajibkan kepada pemiliknya untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.

Sedangkan pajak, menurut Rohmat Sumitro seperti halnya dikutip oleh Supani, adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan UU (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal langsung, yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Selain itu, menurut Sommerfeld, bahwa pajak adalah perpindahan harta, sumber ekonomis dari sector swasta kepada pemerintah.[2]

  1. Pandangan Ulama Tentang Zakat dan Pajak

Sebagai seorang muslim yang ada di Indonesia, selain kewajiban untuk membayar zakat, juga diwajibkan untuk membayar pajak. Hal ini lumrah, karena Indonesia adalah negara hukum. Sebagai seorang muslim dan warga negara yang baik, sudah sepantasnya kita mentaati aturan yang ada dalam undang-undang. Kemudian muncul suatu pertanyaan sederhana, “Bagaimana seharusnya atau sebaiknya penunuaian dua kewajiban tersebut?”

Menyikapi hal tersebut, beberapa ulama mempunyai pandangan yang berbeda. Dari beberapa pandangan ulama yang ada, bisa dipilah menjadi tiga macam.[3] Pertama, pandangan yang menyatakan bahwa zakat dan pajak berbeda, satu sama lain berdiri sendiri dan tidak dapat disamakan. Kebanyakan ulama Indonesia menganut pandangan ini.

Pandangan kedua, berpendapat bahwa zakat dan pajak hakikatnya sama. Bagi seorang muslim yang meniatkan pembayaran pajak pemerintah Indonesia sebagai pembayaran zakat adalah sah dan ia pun dianggap telah menunaikan kewajiban sosialnya (lewat) negara. Sedangkan pandangan ketiga, prinsipnya sama dengan pandangan pertama, zakat tidak sama dengan pajak, namun pembayaran zakat dapat dipandang sebagai biaya usaha. Oleh sebab itu, zakat atas penghasilan yang telah dibayarkan oleh muzakki dapat diperhitungkan sebagai pengurang besarnya penghasilan kena pajak muzakki.

                [1] Supani, Zakat di Indonesia, (Purwokerto: StainPress) hal. 2

                [2] ibid

                [3] Ibid, hal 175

552 kali dilihat, 16 kali dilihat hari ini

Petani Go Online

Petani Go Online

Tegarroli.com – Petani yang melek akan perkembangan teknologi akan maju dan kesejahteraan akan terangkat. Namun sebaliknya jika para petani tidak mengikuti perkembangan zaman, petani akan tergilas oleh persaingan global yang semakin ketat.

Banyak penyedia layanan berbasis daring (online) yang juga melayani sector pertanian. Para petani agar mengikuti arus tersebut agar tidak ketinggalan informasi dan petani akan terus eksis.

“Monggo para petani ini punya HP kan? Manfaatkan aplikasi pertanian yang sudah banyak dikembangkan agar petani Purbalingga go-online. Ini ada dari 8 villages penyedia aplikasi online khusus petani dan konsumen sekarang banyak yang menggunakan itu. Makanya ayo bapak ibu gunakan aplikasi tersebut karena ini juga termasuk program bapak Presiden Jokowi 1 juta nelayan dan petani Indonesia untuk go online,” kata Dyah Hayuning Pratiwi (Tiwi).

Ia juga mengajak para penyuluh pertanian untuk terus memantau perkembangan dari penggunaan teknologi bagi para petani. Tiwi memberi motivasi kepada para penyuluh bahwa mereka adalah garda terdepan maju tidaknya sector pertanian di Purbalingga.

“Kepada PPL ini saya minta dengan hormat untuk selalu memantau perkembangan tentang hal ini. Panjenengan semua ini garda terdepan maju tidaknya pertanian di Purbalingga,” ucapnya.

Kemarau

Musim kemarau yang juga melanda Purbalingga ikut pula membuat khawatir Bupati Tiwi. Masih dalam kesempatan yang sama, Tiwi meminta kepada Plt. Kepala Dinas Pertanian Purbalingga untuk membuat langkah-langkah antisipatif guna meminimalisir dampak kemarau yang bisa saja destruktif terhadap hasil pertanian di Kabupaten Purbalingga.

“Pak Plt. Kepala Dinpertan tolong untuk diantisipasi dampak buruk kekeringan di Purbalingga. Kita minimalisir dampak yang lebih destruktif sehingga tidak mengganggu terhadap hasil pertanian Purbalingga,” kata Tiwi.

Beberapa waktu lalu, Tiwi dan Dinpertan telah memprogramkan subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak) untuk para petani agar mereka bisa mengoperasikan mesin penyedot air dengan biaya operasional yang relatif terjangkau.

Bupati Purbalingga mengharapkan regenerasi petani di Kabupaten Purbalingga. Hal tersebut disampaikan Tiwi saat membuka acara sekaligus memberikan sambutan ‘pelatihan petani go-online’ bagi 500 petani yang ada di Purbalingga, Kamis (11/7) di Pendapa Dipokusumo Purbalingga.

Tiwi mengatakan, umumnya di Indonesia termasuk Purbalingga, para pemuda sekarang jarang yang mau untuk menjadi petani. Menurutnya, generasi muda sekarang banyak yang tidak berminat menjadi petani dan mereka bercita-cita untuk bekerja di sector lain seperti dokter, polisi atau pegawai kantoran lain yang menurut mereka memiliki gengsi tinggi di mata masyarakat.

“Anak muda termasuk yang ada di Purbalingga jarang bahkan tidak ada untuk bercita-cita menjadi petani. Mereka sekarang cita-citanya ingin jadi pegawai kantoran yang menurut mereka mempunyai prestis di mata masyarakat. Hal ini sangat disayangkan,” kata Tiwi.

Tiwi menyayangkan hal tersebut bukan tanpa alasan. Tiwi menilai, sector pertanian justru memegang peranan sentral pada sebuah Negara termasuk Indonesia sehingga apabila Indonesia kekurangan petani termasuk dari kalangan muda, ketahanan pangan Indonesia sedang mengalami ancaman. Oleh karenanya, Tiwi mengimbau agar para generasi muda Purbalingga untuk melirik profesi pertanian karena prospek di masa revolusi industry 4.0 untuk sector pertanian semakin cerah.

“Prospek sector pertanian pada masa revolusi industry 4.0 seperti sekarang ini justru bagus. Konsumen bisa membeli kebutuhan pangan atau sekedar mengecek harga kebutuhan hanya dari HP (telepon genggam). Ini harus dimanfaatkan semua orang termasuk petani,” ujarnya. (KP-4).

 

433 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini