Tradisi Literasi Muhammadiyah

Tradisi Literasi Muhammadiyah

Muhammadiyah, selain bergerak dibidang social, pendidikan, dan kesehatan, juga di media (informasi). Suara Muhammadiyah (SM), dalam catatan sejarah persuratkaaran Islam di Indonesia sesungguhnya bukan yang petama lahir.

Setidaknya, sejauh penelusuran, SM merupakan media cetak Islam yang lahir kedua di tanah Air setelah Al Munir yang terbit pada 1911 di Sumatra Barat.

Al Munir merupakan majalah dakwah yang dikelola para ulama di Minangkabau dan dipipin Abdullah  Ahmad, murid Syekh Ahmad Khaib Minangkabau majalahnya yang hanya terbit beberapa tahun ini memiliki oplah 1.000 eksemplar dan menyebar hingga Jawad an Semenanjung Malaysia.

Sebenarnya, ada juga yang memasukkan media dakwah lain, seperti Al Imam sebelum lahirnya Al Munir, Al Imam terbit pada 1906 di Singapura yang notabene pada saat itu masih tanah Melayu yang sama dengan nusantara.

Media ini digagas Syekh Tahir Jalaluddin yang baru pulang dari Kairo, Mesir beserta Haji Abbas bin Muhammad Taha daru Aceh. Al Imam merupakan media dakwah pertama di tanah Melayu-nusantara (sebelum ada nama Indonesia, Singapura dan Malaysia).

Setelah Al Munir, belum ada lagi media cetak Islam yang terbit, hingga akhirnya pada 1915, SM lahir. Jadi, terang sesungguhnya SM bukanlah media Islam yang pertama lahir. SM merupakan mdia cetak Islam paling tua yang masih terbit hingga detik ini.

Sebelum dan setelah SM, ada media massa Islam, tapi usianya rata-rata tidak panjang. Tidak ada media cetak di Indonesia saat ini yang usianya sampai satu abad seperti SM.

Tradisi Literasi

Sebagai organisasi Islam modern yang gandrung dengan kemajuan ilmu pengetahuan, di tubuh Muhammadiyah sudah mengurat-mengakar sebuah tradisi literasi.

Jika kini kita masih menyaksikan kehadiran SM dan Suara Aisyiyah,  dalam catatan sejarah media yang pernah dilahirkan oleh ‘tubuh’ Muhammadiyah sesungguhnya lebih banyak lagi.

Dalam Katalog Majalah terbitan Indonesia yang dikoleksi Perpustakaan Nasional misalnya, di antara rentang 1779-1980 saha, sedikitnya ada 31 media yang diterbitkan Muhammadiyah. Sebagai penerbitnya ada yang langsung oleh PP Muhammadiyah, Majelis Taman Pusaka, serta wilayah juga ortom Muhamadiyah.

Rentang waktu yag ckup judul dalam peadaban bangsa ini, Muhammadiyah sangat agresif dalam tradisi jurnalistik. Peran dakwah Muhammadiyah benar-benar dikibarkan lewat media massa sebagai sarana penyampaian pesan.

Namun lagi-lagi kebanyakan media itu bertumbangan sebelum besar sehingga tidak bisa bertahan lama.

Diantara media yang pernah diterbitkan Muhammadiyah, seperti Al Fach, Annida, Arabic Monthly Paper, Bahteramasa, Berita, Berita (beda tahu dan penerbit), Menara Ngampel, Miratoel Miehammadijah, Moehammadi, Penerangan Islam, Penjiar Islam, Perikatan, Poestaka Moehammadijah Dairah Banjoemas, Sinar Islam, Soeara Miehamadijah, Suara Aisjijah, Suara Aisyah (Penyesuaian Ejaan), Suara Muhammadijah (penyesuaian ejaan), Suara Muhammadiyah (penyesuaian ejaan), Suluh Pendidikan Muhammadiyah, Tacawoeff Islam, Tjahaja.

Di luar yang disebutkan di atas, diduga kuat masih banyak media massa Islam yang diterbitkan bukan oleh tokoh-tokoh atau personal Muhammadiyah , tanpa menyebutkan Muhammadiyah.

Setidaknya gambaran sekilas ini menyiratkan betapa kepedulian Muhammadiyah dan para anggotanya dalam mengibarkan semangat literasi sejak dulu hingga kini, terlebih pascatahun 1980 yang belum terhitung berapa banyak jumlahnya.

Yang lebi menarik lagi sebenarnya jika kita mendiskusikan aspek pesan dari SM yang sudah mengalami beberapa kali perubahan karakter kontennya.

 

4,779 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share/Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *