Buzzer Alternatif Iklan Politik Di Era Media Sosial

Buzzer Alternatif Iklan Politik Di Era Media Sosial

Seiring perkembangan teknologi komunikasi berbasis internet, terutama setelah maraknya media baru dan media social, iklan politik kini terus berkembang. Kekuatan media sosial telah menggandrungi masyarakat kita ini, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa untuk menjadi bagian dari media social. Fenomena ini dibuktikan dengan hadirnya internet di Indonesia yang menduduki peringkat ke kedua tertinggi di dunia dalam 5 tahun terakhir.

Media Sosial saat ini bukan hanya sarana sosialisasi dan menciptakan hubungan atau jaringan personal. Melainkan sudah berkembang menjadi salah satu sarana iklan yang sangat ampuh. Inilah yang dinamakan social buzzer, bisnis baru bagi pemilik akun media sosial yang terkenal dan mempunyai follower yang banyak sehingga mereka menjadi sarana iklan kepada khalayak atau pengikut mereka.

Ketergantungan masyarakat akan media sosial dan media baru berimplikasi pada hampir semua sektor kehidupan, baik ekonomi, social budaya, maupun politik. Dalam politik, media baru dan media sosial telah menjelma menjadi medium kekuatan baru yang tidak hanya mampu menciptakan kekuatan masyarakat, tetapi juga kekuatan yang bersifat personal. Khalayak atau follower yang menjadi pengikut akun media sosial seseorang atau sebuah lembaga menjadi peluang sosialisasi, promosi, dan kampanye yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Semakin banyak follower, semakin tinggi kemampuan jangkau ‘personal’ seseorang kepada khalayak yang menjadi follower mereka.

Komunikator (yang mempunyai akun) dapat melakukan publikasi, promosi, dan kampanye dengan mem-posting atau update status media sosial mereka tanpa harus menanyakan kepada khalayak apakah mereka bersedia menerima atau tidak. Respon dapat dilihat dari balasan yang diberikan oleh follower, bahkan dapat memunculkan diskusi, kritik, dan saran antar-follower pada waktu yang bersamaan, hal ini sekaligus memperlihatkan pengaruh dan keberhasilan dari buzzer.

Follower menjadi sangat penting, namun yang menjadi faktor utama adalah impressionatau keterbacaan follower. Bila ingin memanfaatkan secara maksimal uang dan investasi dalam menggunakan buzzer, mari ubah cara pandang kita tentang cara beriklan di media social dan buzzer.

Membayar impression. Bukan follower. Berhentilah berkubang dalam follower game number. Ini adalah lubang utama yang sangat fatal. Benar bahwa acuan pertama memilih buzzer karena jumlah followernya yang berharap follower mereka menyaksikan iklan Anda.

Menyaksikan adalah kata kunci dari tujuan Anda. Dalam periklanan, iklan yang disaksikan disebut impression atau keterbacaan, dari situ awareness didapat. Di media sosial bisa diketahui secara presisi berapa orang yang telah membaca/menyaksikan sebuah akun media social. Datanya ditampilkan dalam bentuk angka, real-time dan historical.

Kekuatan media sosial tidak luput dari kreativitas politik. Banyak kampanye politik dan politikus menggunakan media sosial karena karakteristiknya yang cepat, murah, dapat mengirimkan beragam kemasan, mampu diakses dimana saja, serta feedback yang dapat dilakukan secara langsung bahkan dapat melakukan dialog dengan berbagai anggota yang ada dalam sebuah akun. Pada pilpres 2014, misalnya, para peserta dapat menjadi sumber informasi bagi publik. Mereka menjadi gatekeeper dalam makna yang baru kepada public.

Istilah lain dari buzzer adalah influencer atau rain makerInfluencer adalah orang yang mampu mempengaruhi follower (pembaca blog-nya, teman Facebook-nya, follower akun media sosialnya) sehingga memberikan efek buzz di media social, mempengaruhi dalam aspek informasi, tren, dll. sehingga diikuti oleh yang lainnya. Semua orang bisa menjadi buzzer mulai dari artis, akun public, selebriti, akun pribadi atau mungkin aktivis, selama pengikut atau follower mereka jumlah tertentu (banyak).

Umaimah Wahid dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Politik menyebutkan bahwa bahwa buzzer berasal dari bahasa Inggris yang memiliki arti bel, lonceng atau alarm. Secara harfiah, buzzer juga dapat diartikan sebagai alat yang digunakan untuk mengumumkan sesuatu atau untuk mengumpulkan orang-orang di satu tempat. Di Indonesia, kita mengenal sebagai kentongan. Kentongan adalah salah satu peralatan tradisional yang berfungsi untuk mengumpulkan warga jika ada pengumuman dari perangkat desa atau terjadi suatu peristiwa penting.

Secara sederhana, seorang buzzer adalah pengguna akun media sosial yang dapat memberikan pengaruh kepada orang lain hanya melalui status media sosial yang ia tuliskan. Hal tersebut merupakan identitas utama dari seorang buzzer karena pada dasarnya buzzer harus mempunyai kemampuan influence atau mempengaruhi orang lain. Oleh sebab itu, ada pula yang menyebutnya dengan istilah influencer.

Para buzzer mempunyai tugas menuliskan statusnya tentang informasi atau rekomendasi sebuah even atau produk dari penyewa jasa mereka. Para penyewa buzzer kebanyakan merupakan perusahaan besar atau pemilik usaha yang ingin usahanya lebih dikenal oleh banyak orang di dunia maya.

Tidak heran dalam dunia bisnis, penyewa jasa buzzer juga datang dari organisasi atau kelompok. Mereka menggunakan jasa buzzer untuk memperkenalkan sebuah even atau mungkin sebuah pesan sosial bagi masyarakat banyak. Bahkan peluang kreatif ini nyatanya juga dilirik oleh para pelaku dunia politik untuk urusan pencitraan.

Tugas buzzer terkadang tidak terbatas hanya untuk mem-posting sebuah status, namun tidak jarang pula menjalankan campaign atau rangkaian informasi lebih lanjut kepada para follower-nya. Jadi, tugas dari seorang peserta buzzer bisa menjadi layaknya brand ambassador penyewa jasa tersebut. Untuk itu, seorang buzzer juga harus benar-benar mengerti apa yang ia sebarkan ke dunia maya.

Kekuatan para buzzer sangat ampuh dalam menciptakan opini publik dan mempengaruhi pola pikir masyarakat dengan kecenderungan dan pilihan mereka secara persuasive. Masyarakat menjadi mengikuti apa yang dianggap baik dan buruk oleh para buzzersehingga sebagaimana beragam konten media konvensional, new media dan sosial media,unsur rekayasa dalam proses konstruksi selalu ada dalam proses konstruksi sebuah pesan politik yang dipublikasi atau di iklankan pada akun-akun akun buzzer.

Bahkan, kecenderungan manipulasi lebih tinggi dan besar melalui media sosial karena mungkin saja follower-nya tidak semuanya benar, tetapi rekayasa untuk kepentingan politik semata. Bagi akun artis, publik figure, dan tokoh masyarakat lainnya ketentuan pengaruh mereka menjadi alat kunci dalam mempengaruhi publik dengan pesan-pesan mereka. Jadi khalayak sebenarnya kembali kepada ketergantungan terhadap tokoh-tokoh tertentu yang dipercaya dan diikuti walaupun kemungkinan tidak sesuai atau tidak tepat terbuka dalam proses tersebut.

Kekuatan buzzer dipercaya ampuh di tengah pemanfaatan dan ketergantungan publik terhadap media social, terutama di kalangan anak-anak muda. Selebritas dan public figur acapkali menjadi peserta untuk kepentingan promosi atau kampanye politik atau bisnis lainnya.

Iklan buzzer dapat menjadi alternatif dalam melakukan kampanye politik dan sekaligus peluang ekonomi bagi anggota masyarakat yang mempunyai akun sosial media dengan jumlah follower yang banyak. Tingkat keberhasilan iklan buzzer dapat dinyatakan tinggi karena khalayak yang menjadi targetnya adalah khalayak yang secara sadar menjadi bagian dari komunikator dalam proses iklan buzzer. Pada pemilu 2014, banyak pihak yang memilih menjadi buzzer, baik artis, public figur, bahkan mahasiswa. Mereka bertindak sebagai sumber informasi mengenai kandidat atau ide-ide yang mereka dukung. Contohnya beberapa artis pendukung pasangan salah satu presiden menjadi buzzer yang mengkampanyekan nilai-nilai dan ideologi pasangan tersebut. Namun, komunikator buzzermerupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses kampanye yang dilakukan karena buzzer cenderung terkait dengan sumber pesan politik itu sendiri. (*)

Oleh: Tegar Roli

Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyumas

Menulis adalah ibadah, seperti mengemban tugas para nabi dan rasul, adalah untuk : menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan. Pria kelahiran Purbalingga 24 April 1992 menyakini dengan menulis bisa mendidik, menghibur, mengadvokasi, memberi informasi, mencerahkan dan memberdayakan publik. Lulusan S2 Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Purwokerto sudah memiliki berbagai pengalaman di dunia literasi yang tidak diragukan lagi, mulai dari Pesantren Kepenulisan, pengalaman menjadi wartawan, kontributor web pemberitaan lokal maupun regional hingga reporter televisi pun sudah ia lakoni.

Sumber :
http://pwmjateng.com/buzzer-alternatif-iklan-politik-di-era-media-sosial/

856 kali dilihat, 54 kali dilihat hari ini

Pembentukan Identitas Diri Remaja Menggunakan Media Sosial

Pembentukan Identitas Diri Remaja Menggunakan Media Sosial

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah merubah cara interaksi individu dengan individu yang lain. Internet menjadi sebuah ruang digital baru yang menciptakan sebuah ruang kultural. Tidak dapat dihindari bahwa keberadaan internet meberikan banyak kemudahan kepada penggunanya. Beragam akses terhadap informasi dan hiburan dari berbagai penjuru dunia dapat dicari melalui internet. Internet menembus batas dimensi kehidupan pengguna, waktu, dan ruang, yang dapat diakses oleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun.

Keberadaan internet secara tidak langsung menghasilkan sebuah generasi yang baru. Generasi ini dipandang menjadi sebuah generasi masa depan yang diasuh dan dibesarkan dalam lingkungan budaya baru media digital yang interaktif, yang berwatak menyendiri (desosialisasi), berkomunikasi secara personal, melek komputer, dibesarkan dengan videogames, dan lebih banyak waktu luang untuk mendengarkan radio dan televisi.enerasi digital adalah mereka yang lahir pada jaman digital dan berinteraksi dengan peralatan digital pada usia dini. Dalam konteks Indonesia, mereka yang lahir setelah tahun 1990-an sudah bisa disebut sebagai awal generasi digital native, tapi bila ingin dikatakan sebagai sebuah generasi, mereka yang lahir setelah tahun 2000. Merekalah penduduk asli dari sebuah dunia yang disebut dunia digital.

Terjadi pergeseran budaya, dari budaya media tradisional yang berubah menjadi budaya media yang digital. Salah satu media sosial yang cukup berpengaruh di Indonesia adalah Facebook. Koran Kompas  menyatakan bahwa pengguna Facebook di Indonesia mencapai 11 juta orang. Keberadaan media sosial telah mengubah bagaimana akses terhadap teknologi digital berjaringan.

Media sosial merupakan salah satu bentuk dari perkembangan internet. Dijelaskan ada tiga motivasi bagi anak dan remaja untuk mengakses internet yaitu untuk mencari informasi, terhubung dengan teman (lama dan baru) dan untuk hiburan. Pencarian informasi yng dilakukan sering didorong oleh tugas-tugas sekolah, sedangkan penggunaan media sosial dan konten hiburan di dorong oleh kebutuhan pribadi.

Penggunaan media sosial di kalangan remaja pada saat ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari lagi. Hampir setiap hari remaja mengakses media sosial hanya untuk sekedar mencari informasi melalui twitter, kemudian menyampaikan kegiatan yang mereka lakukan melalui facebook.

CEO Twitter, Dick Costolo menyebut Indonesia sebagai salah satu pengguna daring (online) terbesar di dunia. Dia menambahkan dengan adanya Twitter membuat masyarakat Indonesia pada saat ini menyadari apa yang sedang terjadi, saling memberikan informasi yang bermanfaat. Anak muda Indonesia mampu menggunakan industry kreatifnya dan menggunakan Twitter untuk hal-hal positif. “Keuntungan Twitter adalah semakin banyak pengguna semakin banyak yang dapat mengonfirmasi rumor yang ada”, Dick Costolo.

Kehadiran media sosial di kalangan remaja, membuat ruang privat seseorang melebur dengan ruang publik. Terjadi pergeseran budaya di kalangan remaja, para remaja tidak segan-segan mengupload segala kegiatan pribadinya untuk disampaikan kepada teman-temannya melalui akun media sosial dalam membentuk identitas diri mereka.

Identitas Diri

Identitas, merupakan hal yang penting di dalam suatu masyarakat yang memiliki banyak anggota. Identitas membuat suatu gambaran mengenai seseorang, melalui; penampilan fisik, ciri ras, warna kulit, bahasa yang digunakan, penilaian diri, dan faktor persepsi yang lain, yang semuanya digunakan dalam mengkonstruksi identitas budaya. Identitas menurut Klap meliputi segala hal pada seseorang yang dapat menyatakan secara sah dan dapat dipercaya tentang dirinya sendiri – statusnya, nama, kepribadian, dan masa lalunya.

Dijelaskan bahwa identitas merupakan hal yang penting dalam sebuah komunikasi budaya. Identitas mengacu pada satu ciri khas. Keunikan. Identitas, dalam konteks masa kini kian penting untuk diteguhkan. Konon, suatu bangsa yang terpuruk bukanlah bangsa dengan GDP terendah, pantai terjelek, atau jumlah penduduk paling sedikit. Bangsa yang terpuruk itu bangsa yang tanpa identitas.Konsep identitas juga dapat dilihat dari aspek budaya yang didefinisikan sebagai emotional signifikan, yang membuat seseorang dilekatkan pada suatu hal, yang membedakannya dengan orang lain sehingga lebih mudah untuk dikenal.

Dalam perspektif komunikasi, identitas tidak dihasilkan secara sendiri, melainkan dihasilkan melalui proses komunikasi dengan yang lain. Identitas dapat dinegosiasikan, diperkuat, dan dirubah dalam suatu proses komunikasi. Tujuan dari identitas ini adalah menjadikan dan membangun sebuah komunikasi.

Interaksi simbolik

Interaksi simbolik merupakan sebuah cara berpikir mengenai pikiran, diri, dan masyarakat. George Herbert Mead, memahami interaksi simbolik sebagai interaksi di antara manusia, baik secara verbal maupun nonverbal untuk memunculkan suatu makna. Dengan adanya aksi dan respon dari individu yang lain, secara tidak langsung kita memberikan makna ke dalam kata-kata atau tindakan yang ada.

Ekologi media

Konvergensi media menghasilkan perubahan dalam arus informasi. Konvergensi media merupakan sebuah istilah yang mulai banyak digunakan sejak tahun 1990-an. Konvergensi menjadi suatu istilah yang umum dipakai dalam perkembangan teknologi digital, dimana di dalam konvergensi terjadi pengintergrasian teks, angka, gambar, video, dan suara dalam suatu media.

Kehadiran teknologi memberikan pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Manusia memiliki hubungan simbolik dengan teknologi, dimana kita menciptakan teknologi dan kemudian teknologi kembali pada siapa diri kita. Menurut McLuhan, teknologi media telah menciptakan revolusi di tengah masyarakat karena masyarakat pada saat ini masyarakat sudah sangat tergantung kepada teknologi dan tatanan masyarakat terbentuk berdasarkan pada kemampuan masyarakat menggunakan teknologi.

Teknologi komunikasi menjadi penyebab utama perubahan budaya, McLuhan dan Innis menyatakan bahwa media merupakan kepanjangan atau eksistensi dari pikiran manusia, dengan demikian media memegang peran dominan dalam mempengaruhi tahapan perkembangan manusia. O’Brien mengatakan bahwa perilaku manusia dan teknologi memiliki interaksi di dalam lingkungan sosioteknologi. Sehingga bisa dikatakan bahwa ketika IT hadir dalam bentuk yang baru, maka akan mempengaruhi struktur masyarakat, strategi komunikasi, masyarakat dan budaya, serta proses sosial. Kehadiran new media secara tidak langsung merubah struktur masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia, bisa dikatakan menganut struktur sosial yang lama atau sering disebut tradisional. (*)

oleh : Tegar Roli A.
Anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (MPI PDM) Banyumas dan Humas Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP)

884 kali dilihat, 53 kali dilihat hari ini

Lima Pola Pikir untuk Perubahan yang Besar

Lima Pola Pikir untuk Perubahan yang Besar

Kalau anda meingininkan perubahan kecil dalam hidup, ubahlah perilaku anda. Tapi, bila Anda menginginkan perubaha yang besar dan mendasar, ubahlah pola pikir Anda. Ubah pola pikir anda untuk menjadi orang yang sukses. Langkah-langkah yang harus dilakukan diantaranya adalah:

  1. Ubahlah Mind Set Anda

Untuk meraih sukses yang pertama dilakukan adalah dengan merubah mind set anda. Percaya diri harus muncul, jadilah jiwa pemenang, dan memiliki semangat tinggi. Percayalah tempat kita bekerja adalah yang terbaik. Bukan yang lain.

  1. Bangun semangat “Nurture” bukan “Nature” dalam berkarya

Bangun semangat memelihara itu penting. Mulai dari memelihara keakraban, memelihara

  1. Motivasi yang Dahsyat mengalahkan sekedar akal sehat

Untuk berubah menjadi besar itu di butuhkan motivasi yang dahsyat,

  1. Hilangkan Fikiran Negatif dan tidak bergerak

Menghilangkan cara berfikir negative itu penting. Tidak mudah untuk melakukannya, namun itu harus dilakukan.

  1. Perubahan Pola Pikir

Untuk mencapai itu dibutuhkan dengan yang namanya “Senjata Komunikasi” . Yaitu komunikasi dimulai dari dalam. Artinya semua komponen dalam tempat kita kerja, harus paha betul dan mengetahui data2 dasar yang layak untuk diketahui oleh orang banyak.

Dan komunikasi tidak hanya bicara. Segala perilaku yang menunjukan sesuatu itu bisa disebut dengan komunikasi. Dan segala yang kita lakukan adalah komuikasi. Karena membuat untuk menerima itu adalah presepsi. Dijelaskan, 20% orang sukses karena mencari kenikmatan. Dan 80% orang SUKSES karena MENGHINDARI kesengsaraan. Jadi kamu termasuk yang mana nih.? Ingin sukses karena memang mencari kenikmatan di hari tua, karena sekarang sudah kaya sebenarnya. Atau memang sudah merasakan susah sejak lama sehingga ingin sukses untuk menghindari kesengsaraan. Kebanyakan sukses karena menghindari kesengsaraan.

Atau dalam istilah mengatakan, Kalau tidak bisa menjadi nomor satu atau sekurang-kurangnya nomor dua, lebih balik keluar gelombang. Itu yang dikatakan oleh Stephen Covey.

Begitu dulu kira-kira cerita hari ini, tentang Mengelola komunikasi dan reputasi pendidikan tinggi di era disrupsi.

The Jayakarta Yogyaarta Hotel & Spa

11/10/2018

 

1,725 kali dilihat, 19 kali dilihat hari ini

Mengubah Ijtihad dan Pendapat Sesuai dengan Kondisi

Mengubah Ijtihad dan Pendapat Sesuai dengan Kondisi

Di antara metode Nabi saw. dalam mengembangkan kreatifitas berfikir untuk membina para sahabat, adalah selalu bersikap bijaksana terhadap berbagai situasi yang berbeda dan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Hal ini beliau lakukan karena pola pikir inovatoris dan pembaharuan lebih elastis dalam menyikapi peristiwa-peristiwa yang dijumpai dan tidak monoton pada satu pendapat tertentu.

Mengutip bukunya Muhammad Abdul Jawwad dalam bukunya yang berjudul Menjadi Manajer Sukses diceritakan pernah dijumpai Rosulullah saw. tatkala tersiar berita bahwa serombongan orang kafilah besar milik suku Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan, dating dari Syam menuju Mekah dengan membawa harta yang melimpah. Lalu, sebagian sahabat mengusulkan untuk menghadang dan menyerang kafilah tersebut.

Akan tetapi, segera setelah mencium adanya bahanya yang mengancam kafilahnya, Abu Sufyan meminta bantuan dari Mekah untuk melindungi kafilahnya tersebut, dengan mengabarkan fanatisme mereka. Lalu, orang-orang Mekah pun segera memobilisasi tentara guna menghadapi segala kemungkinan serangan. Akhirnya, Abu Sufyan berhasil menyelamatkan khafilah yang ia pimpin dengan bantuan orang-orang Mekah. Maka dalam peristiwa ini, keadaan berubah total, rombongan kafilah yang akan diserang oleh orang-orang muslim ternyata berubah menjadi sekelompok tentara.

Realita membuktikan, bahwa seseorang terkadang dibenturkan oleh berbagai peristiwa yang dating tiba-tiba tatkala ia sedang dalam menjalai hidupnya. Sehingga untuk menghadapi peristiwa itu, perlu mengumpulkan segenap kemampuannya dan mengingat kembali pengalamannya, kemudian menghadapinya denga penuh kewaspadaan dan kepekaan. Ujian-ujian yang sifatnya tiba-tiba ini, lebih tepat untuk menilai keperibadian seseorang dan mengetahui sikapnya dalam melihat ujian-ujian yang dating menghadanya. Sehingga, tatkala menghadapinya, ia merasa optimis dan siap.

Dalam kisah tersebut Rasulullah saw. mampu berinteraksi dengan kondisi yang berubah total, dengan keputusan yang sangat cerdik. Yaitu, beliau segera mengumpulkan segenap informasi mengenai jumlah, kekuatan keseluruhan, dan kekuatan garis depan pasukan musuh. Kemudian membicarakan kondisi tersebut dalam musyawarah. Lalu, merangkum ide-ide yang muncul, denga tidak lupa meminta pertolongan kepada Allah ‘azza wa jalla.

1,748 kali dilihat, 19 kali dilihat hari ini

Tradisi Literasi Muhammadiyah

Tradisi Literasi Muhammadiyah

Muhammadiyah, selain bergerak dibidang social, pendidikan, dan kesehatan, juga di media (informasi). Suara Muhammadiyah (SM), dalam catatan sejarah persuratkaaran Islam di Indonesia sesungguhnya bukan yang petama lahir.

Setidaknya, sejauh penelusuran, SM merupakan media cetak Islam yang lahir kedua di tanah Air setelah Al Munir yang terbit pada 1911 di Sumatra Barat.

Al Munir merupakan majalah dakwah yang dikelola para ulama di Minangkabau dan dipipin Abdullah  Ahmad, murid Syekh Ahmad Khaib Minangkabau majalahnya yang hanya terbit beberapa tahun ini memiliki oplah 1.000 eksemplar dan menyebar hingga Jawad an Semenanjung Malaysia.

Sebenarnya, ada juga yang memasukkan media dakwah lain, seperti Al Imam sebelum lahirnya Al Munir, Al Imam terbit pada 1906 di Singapura yang notabene pada saat itu masih tanah Melayu yang sama dengan nusantara.

Media ini digagas Syekh Tahir Jalaluddin yang baru pulang dari Kairo, Mesir beserta Haji Abbas bin Muhammad Taha daru Aceh. Al Imam merupakan media dakwah pertama di tanah Melayu-nusantara (sebelum ada nama Indonesia, Singapura dan Malaysia).

Setelah Al Munir, belum ada lagi media cetak Islam yang terbit, hingga akhirnya pada 1915, SM lahir. Jadi, terang sesungguhnya SM bukanlah media Islam yang pertama lahir. SM merupakan mdia cetak Islam paling tua yang masih terbit hingga detik ini.

Sebelum dan setelah SM, ada media massa Islam, tapi usianya rata-rata tidak panjang. Tidak ada media cetak di Indonesia saat ini yang usianya sampai satu abad seperti SM.

Tradisi Literasi

Sebagai organisasi Islam modern yang gandrung dengan kemajuan ilmu pengetahuan, di tubuh Muhammadiyah sudah mengurat-mengakar sebuah tradisi literasi.

Jika kini kita masih menyaksikan kehadiran SM dan Suara Aisyiyah,  dalam catatan sejarah media yang pernah dilahirkan oleh ‘tubuh’ Muhammadiyah sesungguhnya lebih banyak lagi.

Dalam Katalog Majalah terbitan Indonesia yang dikoleksi Perpustakaan Nasional misalnya, di antara rentang 1779-1980 saha, sedikitnya ada 31 media yang diterbitkan Muhammadiyah. Sebagai penerbitnya ada yang langsung oleh PP Muhammadiyah, Majelis Taman Pusaka, serta wilayah juga ortom Muhamadiyah.

Rentang waktu yag ckup judul dalam peadaban bangsa ini, Muhammadiyah sangat agresif dalam tradisi jurnalistik. Peran dakwah Muhammadiyah benar-benar dikibarkan lewat media massa sebagai sarana penyampaian pesan.

Namun lagi-lagi kebanyakan media itu bertumbangan sebelum besar sehingga tidak bisa bertahan lama.

Diantara media yang pernah diterbitkan Muhammadiyah, seperti Al Fach, Annida, Arabic Monthly Paper, Bahteramasa, Berita, Berita (beda tahu dan penerbit), Menara Ngampel, Miratoel Miehammadijah, Moehammadi, Penerangan Islam, Penjiar Islam, Perikatan, Poestaka Moehammadijah Dairah Banjoemas, Sinar Islam, Soeara Miehamadijah, Suara Aisjijah, Suara Aisyah (Penyesuaian Ejaan), Suara Muhammadijah (penyesuaian ejaan), Suara Muhammadiyah (penyesuaian ejaan), Suluh Pendidikan Muhammadiyah, Tacawoeff Islam, Tjahaja.

Di luar yang disebutkan di atas, diduga kuat masih banyak media massa Islam yang diterbitkan bukan oleh tokoh-tokoh atau personal Muhammadiyah , tanpa menyebutkan Muhammadiyah.

Setidaknya gambaran sekilas ini menyiratkan betapa kepedulian Muhammadiyah dan para anggotanya dalam mengibarkan semangat literasi sejak dulu hingga kini, terlebih pascatahun 1980 yang belum terhitung berapa banyak jumlahnya.

Yang lebi menarik lagi sebenarnya jika kita mendiskusikan aspek pesan dari SM yang sudah mengalami beberapa kali perubahan karakter kontennya.

 

319 kali dilihat, 15 kali dilihat hari ini

Keinginan Adalah Sumber Penderitaan

Keinginan Adalah Sumber Penderitaan

Hawa nafsu merupakan suatu kewajaran karena manusia tercipta dengan membawanya. Akan tetapi jika hawa nafsu tidak dikendali dengan baik maka ia akan terbalik mengendalikan manusia. Hawa nafsu sering kali disamakan dengan keinginan atau hasrat. Sebagai manusia, kita pun mempunyai aneka keinginan, terutama keinginan yang bersifat duniawi.

Kita ingin hidup dengan berlimpah harta. Kita ingin mempunyai pasangan yang cantik. Kita ingin mempunyai mobil mewah keluaran terbaru. Kita ingin ini dan itu, semuanya semuanya dan semuanya. Banyak hal yang kita inginkan di dunia ini yang bersifat duniawi tersebut.

Jika kita tidak mengendalikan keinginan tersebut maka keinginan itulah yang akan mengendalikan kita. Itulah maksud dari hawa nafsu. Jika tidak memperoleh apa yang kita inginkan maka kita akan menderita. Karena tidak ingin menderita, kita bias berbuat hal yang melanggar hokum, seperti korupsi, mencuri, merampok, dan menipu.

Itulah jika hidup kita dikendalikan oleh keinginan. Lain halnya jika kita mengendalikan keinginan. Maka , keinginan tersebut tidak akan menguasai kita. Sungguh, keinginan adalah sumber penderitaan dalam hidup jika kita tidak bisa mengendalikannya dengan baik.

Seolah kita hidup di dunia ini hanya mengejar keinginan-keinginan yang tak kekal dan tak akan kita bawa mati.

Jika kita sederhanakan, keinginan tersebut merupakan kerjaan untuk hidup dalam kekayaa. Keinginan kita bertujuan untuk kekayaan. Padaha, keinginan tersebut adalah sumber penderitaan. Jika kita telah hidup dalam kekayaan maka kita akan merasa miskinjika kita terus mengejar kekayaan yang lebih. Dan begitu seterusnya.

Merasa cukup adalah kekayaan. Jika kita merasa cukup terhadap apa yang kita miliki maka kita sudah kaya. Sederhananya, jika kita tidak menginginkan beragam keinginan maka kita sudah kaya. Hal itu membebaskan kita dari penderitaan yang diakibatkan oleh keinginan –keinginan yang tidak berkesudahan.

Lantas, bagaimana cara agar kita bisa terlepas dari keinginan serta merasa cukup dengan adanya? Jawabannya adalah dengan segala penyakit hati, terutama keinginan-keinginan yang tak berkesudahan.

Sementara itu, syukur adalah menerima apa adanya serta merasa cukup dengan apa yang telah dimiliki.

Manusia yanb berjiwa besar dengan menekankan sikap sabra adalah manusia yang akan menerima kabar gembira. Begitulah kira-kira. Karena sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Sementara itu, manusia yang berjiwa besar dengan mengedepankan sikap syukur adalah manusia yang senantiasa bahagia karena berlimpah nikmat. Hal itu dikarenakan bahwa orang yang bersyukur akan senantiasa ditambahkan kenikmatan untuknya.

2,701 kali dilihat, 56 kali dilihat hari ini

Zakat & Pajak

Zakat & Pajak

Zakat, menurut Ibnu Manzur, seperti yang dikutip olah Supani, dari segi bahasa mempunyai arti nama (subur, tambah besar/berkembang) thaharah (kesucian), barokah (keberkahan), dan tazkiyah (pensucian). Sedangkan pengertian zakat menurut syara adalah pemberian sesuatu yang wajib diberikan dari sekumpulan harta tertentu, menurut sifat-sifat dan ukuran tertentu kepada golongan tertentu yang berhak menerimanya.[1]

Sementara itu, menurut Sayydi Sabiq dalam Fiqh Sunnah Juz I mendefinisikan zakat sebagai suatu sebutan bagi sesuatu (harta) yang menjadi hak Allah SWT yang dikeluarkan oleh manusia untuk fakir miskin. Menurut Asy-Syaukani, zakat didefinisikan sebagai memberikan suatu bagian dari harta yang sudah sampai nishabnya kepada orang fakir dan lain-lainnya, tanpa ada halangan syar’I yang melarang kita melakukannya,

Meskipun para ulama mengemukakan definisi zakat dengan redaksi yang berbeda, akan tetapi pada prinsipnya sama, yaitu bahwa zakat adalah bagian dari harta dengan persyaratan tertentu, yang Allah SWT mewajibkan kepada pemiliknya untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.

Sedangkan pajak, menurut Rohmat Sumitro seperti halnya dikutip oleh Supani, adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan UU (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal langsung, yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Selain itu, menurut Sommerfeld, bahwa pajak adalah perpindahan harta, sumber ekonomis dari sector swasta kepada pemerintah.[2]

  1. Pandangan Ulama Tentang Zakat dan Pajak

Sebagai seorang muslim yang ada di Indonesia, selain kewajiban untuk membayar zakat, juga diwajibkan untuk membayar pajak. Hal ini lumrah, karena Indonesia adalah negara hukum. Sebagai seorang muslim dan warga negara yang baik, sudah sepantasnya kita mentaati aturan yang ada dalam undang-undang. Kemudian muncul suatu pertanyaan sederhana, “Bagaimana seharusnya atau sebaiknya penunuaian dua kewajiban tersebut?”

Menyikapi hal tersebut, beberapa ulama mempunyai pandangan yang berbeda. Dari beberapa pandangan ulama yang ada, bisa dipilah menjadi tiga macam.[3] Pertama, pandangan yang menyatakan bahwa zakat dan pajak berbeda, satu sama lain berdiri sendiri dan tidak dapat disamakan. Kebanyakan ulama Indonesia menganut pandangan ini.

Pandangan kedua, berpendapat bahwa zakat dan pajak hakikatnya sama. Bagi seorang muslim yang meniatkan pembayaran pajak pemerintah Indonesia sebagai pembayaran zakat adalah sah dan ia pun dianggap telah menunaikan kewajiban sosialnya (lewat) negara. Sedangkan pandangan ketiga, prinsipnya sama dengan pandangan pertama, zakat tidak sama dengan pajak, namun pembayaran zakat dapat dipandang sebagai biaya usaha. Oleh sebab itu, zakat atas penghasilan yang telah dibayarkan oleh muzakki dapat diperhitungkan sebagai pengurang besarnya penghasilan kena pajak muzakki.

                [1] Supani, Zakat di Indonesia, (Purwokerto: StainPress) hal. 2

                [2] ibid

                [3] Ibid, hal 175

551 kali dilihat, 15 kali dilihat hari ini

Kemiskinan adalah Masalah Klasik Negeri Ini

Kemiskinan adalah Masalah Klasik Negeri Ini

Kemiskinan adalah masalah klasik negeri ini yang tak kunjung usai. Dari zaman kerajaan, penjajahan, sampai kemerdekaan yang memasuki tahun ke-67, Indonesia (lebih tepatnya pemerintah) belum menemukan formulasi yang tepat untuk bisa keluar dari jeratan kemiskinan. Islam, sebagai agama mayoritas penduduk Indonesia sebenarnya mempunyai konsep yang sangat luar biasa dalam upaya untuk mengentaskan kemiskinan. Seperti halnya kewajiban berzakat, infak, sedekah, dan yang lainnya, yang manfaatnya untuk keadilan sosial dan pemberdayaan umat. Tapi sayangnya, di negara yang mayoritas muslim ini, masih banyak masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Bertolak dari pandangan diatas, maka zakat sebenarnya mempunyai fungsi-fungsi sosial, ekonomi, dan berlandaskan keadilan yang telah digariskan dalam ketentuan nas normatif, legalistik, filosofik, dan historik, baik pada konsep teoritik maupun operasionalnya. Dan telah terbukti keberhasilannya dalam mewujudkan keadilan sosial ekonomi  pada masa-masa kejayaan Islam beberapa abad lalu.[1]

Tetapi, realita sekarang zakat (pada umumnya) dipahami dan diamalkan hanya sebatas ibadah kepada Allah SWT. Sehingga bisa hampir dirasakan bahwa ibadah zakat kehilangan vitalitas dan aktualitasnya. Alhasil, angka kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan sosial yang lainnya dikalangan umat Islam di Indonesia khususnya, masih cukup tinggi. Zakat dan pajak sebagai suatu solusi untuk memecahakan masalah kesenjangan sosial, masih belum bisa berbicara banyak dalam pemeberdayaan masyarakat.

                [1] Abdurrachman Qadir, Zakat Dalam Dimensi Mahdah  dan Sosial, (Jakarta: Raja Grafindo) hal. xviii

611 kali dilihat, 13 kali dilihat hari ini

KLASIFIKASI ILMU PENGETAHUAN

KLASIFIKASI ILMU PENGETAHUAN

Klasifikasi atau penggolongan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan atau perubahan sesuai dengan semangat zaman. Terdapat banyak pandangan yang terkait dengan klasifikasi ilmu pengetahuan yang dapat kita temui.

Ilmu pengetahuan menurut subyeknya dan obyeknya, adalah sebagai berikut :

  1. Menurut subyeknya
  2. Teoritis

a). Nomotetis adalah ilmu yang menetapkan hukum-hukum yang universal berlaku, mempelajari obyeknya dalam keabstrakannya dan mencoba menemukan unsur-unsur yang selalu terdapat kembali dalam segala pernyataannya yang konkrit bilamana dan di mana saja, misalnya adalah ilmu alam, ilmu kimia, sosiologi, ilmu hayat dan sebagainya.

b). Ideografis (ide: cita-cita, grafis: lukisan), ilmu yang mempelajari obyeknya dalam konkrit menurut tempat dan waktu tertentu, dengan sifat-sifatnya yang menyendiri (unik). Misalnya ilmu sejarah, etnografi (ilmu bangsa-bangsa), sosiologi dan sebagainya.

  1. Praktis (applied science/ ilmu terapan) : ilmu yang langsung ditujukan kepada pemakaian atau pengalaman pengetahuan itu, jadi menentukan bagaimanakah orang harus berbuat sesuatu, maka ini pun diperinci lebih lanjut yaitu :

a). Normatif, ilmu yang memesankan bagaimanakah kita harus berbuat, membebankan kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan misalnya : etika (filsafat kesusilaan?filsafat moral)

b). Positif, (applied dalam arti sempit) yaitu ilmu yang mengatakan bagaimanakah orang harus berbuat sesuatu, mencapai hasil tertentu. Misalnya adalah ilmu pertanian, ilmu teknik, ilmu kedokteran dan sebagainya.

Kedua macam ilmu pengetahuan ini saling melengkapi, jadi walaupun dibedakan tetap tidak boleh dipisahkan. Kebanyakan ilmu pengetahuan mempunyai bagian teoritis di samping bagian praktis, sehingga sering sulit diterapkan dimana suatu ilmu harus dimasukkan dalam pembagian ini, ilmu teoritis, biasanya dapat berdiri sendiri terlepas dari ilmu praktis, akan tetapi ilmu praktis selalu mempunyai dasar yang teoritis.

  1. Menurut Obyeknya (terutama obyek formalnya atau sudut pandangnya)
  2. Universal/umum : meliputi keseluruhan yang ada, seluruh hidup manusia, misalnya : teologi/agama dan filsafat
  3. Khusus : hanya mengenai salah satu lapangan tertentu dan kehidupan manusia, jadi obyeknya terbatas, hanya ini saja atau itu saja. Inilah yang biasanya disebut ”ilmu pengetahuan”

a). Ilmu-ilmu alam (natural science,) yaitu ilmu yang mempelajari barang-barang menurut keadaannya di alam kodrat saja, terlepas dari pengaruh manusia dan mencari hukum-hukum yang mengatur apa yang terjadi di dalam alam, jadi terperinci lagi menurut obyeknya. Termasuk di dalamnya adalah ilmu al;am, ilmu fisika, ilmu kimia, ilmu hayat, dan sebagainya.

b). Ilmu pasti (mathematics)

Ilmu yang memandang barang_barang, terlepas dari isinya hanya menurut besarnya. Jadi mengadakan abstraksi barang-barang itu. Ilmunya dijabarkan secara logis berpangkal pada beberapa asas-asas dasar (axioma). Termasuk di dalamnya adlah ilmu pasti, ilmu ukur, ilmu hitung, ilmu al jabar dan sebagainya.

c). Ilmu-ilmu kerohanian / kebudayaan (geisteswissen_schaften/social-sciences)

Ilmu yang mempelajari hal-hal dimana jiwa manusia memegang peranan yang menentukan. Yang dipandang bukan barang-barang seperti di al;am dunia, terlepas dari manusia, melainkan justru sekedar mengalami pengaruh dari manusia. Termasuk misalnya ilmu sejarah, ilmu mendidik, ilmu hukum, ilmu ekonomi, imu sosiologi, ilmu bahasa dan sebagainya.

Ketiga macam ilmu pengetahuan ini juga dibeda-bedakan tetapi jangan sampai dipisah-pisahkan, karena memang berhubungan satu sama lain dan saling mempengaruhi dan melengkapi.

 

Klasifikasi Ilmu Pengetahuan menurut Para Filsuf

Dalam sub tema ini, kami mangambil bebrapa contoh klasifikasi ilmu pengetahuan manurut para filsuf, antara lain :

1). Cristian Wolff

Cristian Wolff mengklasifikasikan ilmu pengetahuan ke dalam tiga kelompok besar, yakini ilmu pengetahuan empiris, matematika, dan filsafat. Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut  cristian Wolff dapat dikemaskan sebagai berikut :

  1. Ilmu pengetahuan empiris

– Kosmologis empiris

– Psikologis empiris

  1. Matematika

– Murni : aritmatika, geometri, aljabar

– Campuran : mekanika, dan lain-lain

  1. Filsafat

– Spekulatif (metafisika )

– umum : ontologi

– khusus : psikologi, kosmologi, theologi praktis

– kehendak : ekonomi, etika, politik

– pekerjaan fisik : teknologi

2). Auguste Comte

Pada dasarnta penggolongan ilmu pengetahuan yang dikemukakan Auguste Comte sejalan dengan sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri, yang menunjukkan bahwa gejala-gejala dalam ilmu pengetahuan yang paling umum akan tampil terlebih dahulu. Kemudian disusul dengan gejala pengetahuan yang semakin lama semakin rumit atau kompleks dan semakin konkret. Karena dalam mengemukakan penggolongan ilmu pengetahuan. Auguste Comte memulai dengan mengamati gejala-gajala yang paling sederhana, yaitu gejala yang letaknya paling jauh dari suasana kehidupan sehari-hari. Urutan dalam penggolongan ilmu pengetahuan Auguste Comte sebagai berikut :

  • ilmu pasti (matematika)
  • ilmu perbintangan ( astronomi)
  • ilmu alam (fisika)
  • ilmu kimia
  • ilmu hayat (fisiologi atau biologi)
  • fisika sosial (sosiologi)

Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut Auguste Comte secara garis besar dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  1. Logika (matematika murni)
  2. Ilmu pengetahuan empiris empiris (astronomi, fisika, biologi, sosiologi)

Filsafat

  1. Metafisika
  2. Filsafat ilmu pengetahuan

 

495 kali dilihat, 8 kali dilihat hari ini

Tiga Metode dalam Mencari Pengetahuan

Tiga Metode dalam Mencari Pengetahuan

 

Rasionalisme

Kaum rasionalisme mulai dengan suatu pernyataan yang sudah pasti. Aksioma dasar yang dipakai membangun sistem pemikirannya diturunkan idea yang menurut anggapannya adalah jelas, tegas, dan pasti dalam pikiran manusia. Pikiran manusia mempunyai kemampuan untuk ”mengetahui” idea tersebut, namun manusia tidak menciptakannya, maupun tidak mempelajari lewat pengalaman. Idea tersebut kiranya sudah ada ”di sana” sebagai bagian dari kenyataan dasar, dan pikiran manusia., karena ia terlihat dalam kenyataan tersebut, pun akan mengandung idea pula. Jadi dalam pengertian inilah maka pikiran itu menalar. Kaum rasionalis berdalil, bahwa karna pikiran dapat memahami prinsip, maka prinsip itu harus ”ada”: artinya, prinsip harus benar dan nyata. Jika prinsip itu tidak ’ada”, orang tidak mungkin akan dapat menggambarkannya. Prinsip dianggap sebagai sesuatu a-priori, atau pengalaman, dan karena itu prinsip tidak dikembangkan dari pengalaman : bahkan sebaliknya, pengalaman hanya dapat dimengerti bila ditinjau dari prinsrip tersebut.

Empirisme

Usaha manusia untuk mencari pengetahuan yang bersifat mutlak pasti telah berlangsung dengan penuh semangat dan terus-menerus. Walaupun begitu, paling tidak sejak zaman Aristoteles, terdapat tradisi epistemologi yang kuat untuk mendasarkan diri kepada pengalaman manusia, dan meninggalkan cita-cita untuk mencari pengetahuan yang mutlak tersebut. Doktrin empirisme merupakan contoh dari tradisi ini. Kaum empiris berdalil bahwa adalah tidak beralasan untuk mencari pengetahuan mutlak dan mencakup semua segi, apalagi bila di dekat kita, terdapat kekuatan yang dapat dikuasai untuk meningkatkan pengetahuan manusia, yang meskipun bersifat lebih lambat namun lebih dapat diandalkan. Kaum empiris cukup puas dengan mengembangkan sebuah sistem pengetahuan yang mempunyai peluang yang besar untuk benar, meskipun kepastian mutlak takkan pernah dapat dapat dijamin.

Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan menusia dapat diperoleh lewat pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkan seorang empiris bahwa sesuatu itu ada, dia akan berkata ”Tunjukkan hal itu kepada saya”. Dalam persoalan mengenai fakta maka dia harus diyakinkan oleh penglamannya sendiri. Jika kita mengatakan kepada dia bahwa ada seekor harimau di kamar mandinya, pertama dia minta kita untuk menceritakan bagaimana kita sampai pada kesimpulan itu. Jika kemudian kita terangkan bahwa kita melihat harimau itu dalam kamar mandi, baru kaum empiris akan mau mendengar laporan mengenai pengalaman kita itu, namun dia hanya akan menerima hal tersebut jika dia atau orang lain dapat memeriksa kebenaran yang kita ajukan, dengan jalan melihat harimau itu dengan mata kepalanya sendiri.

Kombinasi antara Rasionalisme dan Empirisme

Terdapat suatu angaapan yng luas bahwa ilmu pada dasarnya adalah metode induktif-empiris dalam memperoleh pengetahuan. Memang terdapat beberapa alasan untuk mendukung penilaian yang populer ini, karena ilmuwan mengumpulkan fakta-fakta yang tertentu, melakukan pengamatan, dan mempergunakan data inderawi. Walaupun begitu, analisi yang mendalam terhadap metode keilmuwan akan menyingkapkan kenyataan bahwa apa yang dilakukan oleh ilmuwan dalam usahanya mencari pengetahuan lebih tepat digambarkan sebagai suatu kombinasi antara prosedur empiris dan rasional. Epistemologi keilmuwan adalah rumit dan penuh kontroversi, namun akan diusahakan di sini, untuk memberikan analisa filosofis yang singkat dari metode keilmuwan, sebagai suatu teori pengetahuan yang terkemuka.

Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa metode keilmuwan adalah satu cara dalam memperoleh pengetahuan. Suatu rangkaian prosedur yang tertentu harus diikuti untuk mendapatkan jawaban yang tertentu dari pernyataan yang tertentu pula. Mungkin epistemologi dari metode keilmuwan akan lebih mudah dibicarakan, jika kita mengarahkan perhatian kita kepada sebuah rumus yang mengatur langkah-langkah proses berpikir, yang diatur dalam suatu urutan tertentu. Kerangka dasar prosedur ini dapat diuraikan dalam enam langkah sebagai berikut :

  1. Sadar akan adanya masalah dan perumusan masalah
  2. Pengamatan dan pengumpulan data yang relevan
  3. Penyusunan atau klasifikasi data
  4. Perumusan hipotesis
  5. Deduksi dan hipotesis
  6. Tes dan pengujian kebenaran (verifiksi) dari hipotesa.

847 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini