Petani Digital, Tarik Pekerja Muda Milenial

Petani Digital, Tarik Pekerja Muda Milenial

Tegarroli.com – Saat ini pertanian harus mengarah pada modernisasi atau mekanisasi, pasalnya mencari tenaga pertanian untuk bekerja di lapangan sudah sangat sulit. Untuk menarik para pekerja muda milenial, maka pertanian harus menggunakan teknologi masa kini atau menerapkan mekanisasi. Penerapan teknologi pertanian ini diharapkan akan menggairahkan sektor pertanian, khususnya dikalangan anak muda.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga Mukodam saat memberikan sambutan pada acara Hari Temu Lapang Petani dan Panen Padi di area persawahan dukuh Karangpinggir Desa Bukateja Kecamatan Bukateja, Senin (11/11).

Dikatakan Mukodam, saat ini para petani harus lebih cepat dalam mengolah tanah. Upayakan usai panen, langsung digarap kembali untuk percepatan masa tanam. Paling tidak dalam satu tahun dapat ditanam tiga kali tanam, dengan metode padi, padi, palawija.

“Harapannya agar tanah menjadi semakin produktif, kalo bisa, ayo sistim petuk. Artinya pada saat padi sudah siap panen, petani sudah mulai menyemai benih, agar segera dioleh tanahnya. Jangan sampai menunggu padi yang di lumbung habis, baru mengolah lahan,” jelas Mukodam.

Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi dalam sambutannya mengatakan, apresiasi yang tinggi kepada para petani, termasuk para penyuluh pertanian. Karena sampai hari ini ketahanan pangan di Kabupaten Purbalingga tidak ada masalah. Sejak tahun 2016 sampai tahun 2018, Kabupaten Purbalingga selalu mengalami surplus beras. Bahkan surplus beras terakhir di Kabupaten Purbalingga mencapai 69.000 ton.

Sampai detik ini desa Bukateja membuktikan, ditengah-tengah musim kemarau yang berkepanjangan yang melanda Kabupaten Purbalingga, akan tetapi hari ini dibuktikan bahwasannya Bukateja masih bisa panen padi. Terlebih bukateja merupakan salah satu lumbung padi di Kabupaten Purbalingga.

“Oleh karena itu, saya titip kepada bapak ibu, para kadang tani, kelompok tani, Gapoktan termasuk para penyuluhnya untuk bagaimana ketahanan pangan di Kecamatan Bukateja di Kabupaten Purbalingga, mari bersama-sama kita pertahankan,” pinta Tiwi.

Dijelaskan Tiwi, Gross Domestic Product maupun Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB), sektor pertanian masih menjadi sektor yang dominan. Saat ini ada 27-28% sektor pertanian memberikan kontribusi terhadap PDRB Kabupaten Purbalingga. Bahkan kebanyakan masyarakat di Purbalingga bekerja di sektor pertanian. sehingga pemerintah daerah maupun pusat memberikan perhatian lebih terhadap sektor pertanian di Indonesia, karena ketahanan pangan adalah bagian dari ketahanan nasional.

Tiwi menuturkan, dalam tahun-tahun belakangan ini, pemerintah Kabupaten Purbalingga banyak mendapat bantuan dari Kementrian Pertanian Republik Indonesia. Seperti UV Driyer, dimana Purbalingga mendapatkan 3 unit, yakni di desa Mipiran Kecamatan Padamara, desa Meri Kutasari dan desa Bukateja. UV Driyer ini merupakan alat pengering, baik untuk padi maupun jagung.

Kegiatan temu lapang panen padi di Desa Bukateja diawali dengan peresmian UV Driyer oleh Bupati Purbalingga, dilanjutkan panen padi dengan menggunakan mesin Combain Harvester. Dalam acara tersebut juga diserahkan bantuan 40 traktor, 1 unit mesin treser, 1 unit pompa air dan 10 unit sprayer elektronik.(u_humpro)

935 kali dilihat, 152 kali dilihat hari ini

Lenggak-Lenggok Batik Purbalingga

Lenggak-Lenggok Batik Purbalingga

tegarroli.com – Acara ‘Lenggak-Lenggok Batik Purbalingga 2019’, Sabtu (26/7) di Taman Usman Janatin menjadi salah satu ajang pembuktian bahwa kain batik juga sangat cocok untuk keperluan non formal. Sebanyak lebih dari 200 motif batik yang dirancang disainer dan pembatik lokal Purbalingga ditampilkan peragawan/peragawati Forkopimda, ASN dari OPD dan BUMD Pemkab Purbalingga.

Batik dikemas dengan berbagai jenis tema pakaian, mulai dari ready to wear, mall, millenial, arisan, baju hamil, pantai, travelling, kantor dan kondangan. “Biasanya di Purbalingga batik dikenal untuk digunakan keperluan formal, namun hari ini kita melihat batik itu ready to wear, bisa digunakan untuk berbagai keperluan yang semuanya ternyata bagus-bagus, dan ditampilkan seru di luar dugaan,” kata Ketua Dewan Kerajinan Nasional daerah (Dekranasda) Kabupaten Purbalingga, Rizal Diansyah SE.

Rizal berharap kegiatan ini terus berkesinambungan, disainer lokal terus berkreatifitas dan bisa membuat batik Purbalingga menasional. Sementara itu Disainer kondang Samuel Wattimena, mengaku kagum pada penyelenggaraan acara kali ini. Mulai dari kagum pada partisipasinya, kagum pada kerjasamanya, gotong royong dari pada OPD, pembatik, disainer maupun anak SMK.

“Menurut saya itu special dan sangat patut untuk dikembangkan, khususnya sikap kerjasamanya, jadi nggak melihat lagi yang satu lebih menonjol dari yang lain tapi totaliatas dari kerjasama. Itu menjadi contoh yang baik bagi generasi ke depan,” katanya.

Menurut Samuel, disain-disain yang telah ditampilkan tadi sangat emosional, dan sangat menjual. Terlebih populasi penduduk Indonesia saat ini kurang lebih ada 370 juta jiwa merupakan pasar yang sangat besar. “Disainer sini yang mau berkecimpung di dunia kreatif harus punya mimpi besar untuk untuk bisa mengambil bagian,” katanya.

Samuel juga berpesan agar para disainer maupun para pembatik mempu meneropong selera fashion kekinian maupun masa depan. Karena kita sadari, 10 tahun yang akan datang pasar terbesar batik adalah generasi milenial saat ini. “Dengan pendekatan itu, harus sudah mulai ditunjukan saat ini,” katanya,” katanya.

Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi SE BEcon MM menyampaikan acara ini dalam rangka memeriahkan Hari Batik di Purbalingga. Kegiatan ini juga sekaligus memberikan apresiasi pada perajin dan disainer lokal.

“Dalam kegiatan ini terjual sekitar 200 pcs batik dari para pengrajin selama persiapan 1,5 minggu ini. Ternyata Purbalingga memiliki potensi-potensi yang luar biasa termasuk 25 disainer yang berperan kali ini,” ungkapnya.

Acara ini juga bagian upaya untuk mempromosikan batik sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia. Bupati juga memotivasi, jika batik Pekalongan saja bisa maju, maka Purbalingga juga memiliki kesempatan yang sama. Oleh karenannya Bupati juga meminta agar Disainer Samuel Wattimena senantiasa bisa terus mendampingi disainer maupun pembatik di Purbalingga.

“Sehingga mimpi batik Purbalingga untuk bisa go nasional dan go internasional bisa terealisasi,” katanya.

Pada acara ini juga diumumkan para juara Lomba Disain Batik Khas Purbalingga dengan Tema Pesona Gunung Slamet. Untuk tingkat SD/SLTP dimenangkan oleh Juara I Yashika Sahda Safriyana (SMP Muh 5 Purbalingga), Juara II Jenita Eka Lestari (SMPN 3 Pengadegan), Juara III Farid Hidayat (SDN 1 Pagerandong). Tingkat SLTA, Juara I Inayah Al Fatikhah (SMAN 1 Rembang), Juara II Eva Fitriyani (Sman 1 Rembang) dan Farida Nur Azizah (SMAN 1 Rembang). Tingkat mahasiswa dan umum, Juara I Muhammad Aminudin (Losari), Juara II Mulyono (Karantalun) dan Juara III Arih Oviana Putrikusuma (Karangreja).

Sementara lomba ‘Lenggak-lenggok Batik Purbalingga Tahun 2019’, dimenangkan, Juara I dari RSUD Goeteng Taroenadibrata yang mengusung tema millenial dengan disainer Siswati dan Pembatik dari Mewek; Juara II diraih oleh Satpol PP dengan tema mall dengan disainer Lilis Kurnia dan pembatik dari Forum Batik; Juara III diraih oleh Sekretariat Daerah (Setda) dengan disainer Koko Tio dan pembatik dari Karangtalun.(Gn/Humas)

1,797 kali dilihat, 149 kali dilihat hari ini

Peragaan Batik dalam Goa

Peragaan Batik dalam Goa

tegarroli.com – Peragaan batik di dalam goa sukses diselenggarakan Pemkab Purbalingga, Minggu (27/8). Peragaan busana yang berlangsung di goa vulkanik dari lahar beku ini berlangsung di Objek Wisata Goa Lawa Purbalingga (Golaga) dengan menampilkan busana batik buatan pembatik dan disainer lokal.

Disainer kondang Samuel Wattimena yang juga sekaligus pengarah dalam acara Batik In The Cave Amazing Golaga ini, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan pertama di Indonesia bahkan mungkin dunia. “Ini langka banget, goanya ternyata bagus sekali, nggak bau, nggak pengap dan lighting juga keren,” katanya.

Pada peragaan ini, Ia berusaha merespons goanya sendiri. Yakni bukan memindahkan ballroom ke dalam goa, akan tetapi memindahkan model ke dalam (menyesuaikan) ekosistem goa. Tujuan acara ini adalah menggugah masyarakat Indonesia secara luas untuk melihat berbagai potensi di daerah masing-masing yang mereka miliki untuk kemudian diangkat secara bersama-sama.

“Sensasinya adalah kita bisa meilihat dimensi antara ruang, model dan disain yang dihadirkan. Kalau kita sering show di Jakarta, di panggung fashion yang dilihat hanya dimensi pakaiannya dan gedungnya diabaikan. Sebaliknya di sini gedungnya (goa) menjadi latar yang mengidupkan karya-karya karya disainer,” ungkapnya.

Peragaan motif batik kali ini masih menggunakan hasil produksi pembatik yang sudah ada, atau belum ada perancangan motif khusus. Samuel Wattimena batik yang ditampilkan kali ini sudah cukup bagus untuk standard Purbalingga dan punya potensi untuk dikembangkan lagi agar lebih menasional.

Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi SE BEcon MM mengatakan melalui acara ini Pemkab Purbalingga ingin menyuguhkan konsep yang berbeda yakni fashion show dan pameran batik di dalam Goa. Termasuk di dalamnya juga melibatkan disainer dan pembatik lokal, demikian sebanyak 38 peragawati dari lokal khususnya dari kalangan milenial.

“Event ini selain untuk mempromosikan batik Purbalingga, ini juga dalam rangka mempromosilan event wisata di Purbalingga. Terlebih akan hadirnya Bandara JB Soedirman, kita harus bisa lebih banyak menawarkan attraction yang berbeda,” katanya.

Fashion show ini juga melibatkan 4 peragawati dari nasional. Mereka adalah Dessy Mulasari, Dining, Mungky, dan Enci. Mereka mengaku pertama kali mengikuti peragaan busana di dalam goa. Pada kesempatan ini, mereka menampilkan baju dari disainer nasional seperti Dimas Mahendra, Audrey, Nindi dan juga Samuel Wattimena.

“Semuanya menggunakan batik Purbalingga, makanya ada motif kelelawar-kelelawarnya. Jadi benang merah dari batik Purbalingga juga muncul dari disainer-disainer dari Jakarta,” kata Dessy Mulasari.

Mereka juga merasakan sensasi yang berbeda, pada peragaan kali ini. Menurutnya kalau gedung adlah hal biasa, terlebih gedung adalah bangunan buatan manusia, sedangkan goa adalah buatan alam.

“Jadi perasaan bahwa kita bagian dari alam itu makin terasa, terutama batik juga bentuk pengejawantahan alam dalam bentuk kain. Jadi ini merupakan satu kesatuan,” katanya.(Gn/Humas)

1,457 kali dilihat, 77 kali dilihat hari ini

Semangat Persatuan, Momentum Sumpah Pemuda

Semangat Persatuan, Momentum Sumpah Pemuda

tegarroli.com

Bupati Purbalingga menegaskan, peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 91 tyahun ini dijadikan sebagai momentum  untuk  meningkatkan semangat persatuan, semangat juang, semangat cinta tanah air dan semangat mempertahankan NKRI sampai titik darah penghabisan. Hal ini disampaikan Bupati Tiwi saat menjadi pembina upacara memperingati hari Sumpah Pemuda ke 91 tingkat Kabupaten Purbalingga, di alun-alun Senin (28/10).

Momentum Sumpah Pemuda harus menjadi semangat untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan menjaga kebhinekaan bangsa. Senantiasa peringatan Sumpah Pemuda memotivasi para generasi-generasi muda Purbalingga untuk terus berbuat dan berkarya serta berprestasi bagi masyarakat, bagi daerah serta bagi bangsa. “Para pemuda pemudi Purbalingga, kalian kompak, kalian hebat dan kalian keren luar biasa,” seru Tiwi disambut tepuk tangan para peserta upacara.

Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia DR. Zaenudin Amali SE., M.Si dalam sambutan yang dibacakan Bupati Tiwi mengungkapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada tokoh pemuda tahun 1928 yang telah mendeklarasikan Sumpah Pemuda sehingga menjadi pelopor pemuda untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia sekaligus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Thema Hari Sumpah Pemuda ke 91 tahun ini “Bersatu Kita Maju” yang diambil untuk menegaskan kembali komitmen yang telah dibangun oleh para pemuda yang diikrarkan pada tahun 1928 dalam sumpah pemuda. Hanya dengan persatuan dapat mewujudkan cita-cita bangsa.

Sebenarnya thema “Bersatu Kita Maju” sesungguhnya diperuntukkan bagi seluruh elemen bangsa, tapi bagi pemuda menjadi keharusan karena ditangan pemudalah, Indonesia bisa lebih maju. Pemuda harus memiliki karakter, kapasitas, kemampuan inovasi, kreatifitas yang tinggi, mandiri, inspiratif serta mampu bertahan dan unggul dalam menghadapi persaingan dunia.

Di semua belahan dunia telah lahir generasi muda yang memiliki pola pikir yang serba cepat, serba instan, lintas batas, cenderung individualistik dan dramatik. Canggihnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta mudahnya akses sosial media telah menjelma menjadi tempat favorit berkumpulnya anak-anak muda lintas negara, lintas budaya, lintas agama.

Teknologi informasi ibarat dua mata pisau, satu sisi yang memberikan jaminan kecepatan informasi, sehingga memungkinkan para pemuda meningkatkan kapasitas pengetahuan dalam pengembangan sumberdaya serta daya saing. Pada sisi lain, perkembangan ini menimbulkan dampak negatif, informasi-informasi yang bersifat destruktif mulai dari pornografi, narkoba, pergaulan bebas, hingga radikalisme dan terorisme juga masuk dengan mudahnya. Oleh karena itu, para pemuda harus mempunyai ilmu pengetahuan dan karakter yang positif dalam berbangsa dan bernegara untuk membentuk pengaruh negatif tersebut.

Usai upacara, Bupati Tiwi menyerahkan penghargaan pemenang lomba bercerita atasnama Hesyam Muhamad Anugerah dari SDN 1 Bodagkarangjati, pemenang lomba desain stiker kreatif  Destyana Nur Azidah dari SMAN 1 Bukateja, stand pameran terbaik  yakni MKKS SMA.

Diberikan juga penghargaan bagi atlet berprestasi, atas nama Anindya Zahra Okta dari cabang olahraga renang, Shilla Aprilista cabang olahraga pencak silat, Reza Rasendriya Wijaya cabang olahraga Taekwondo. (u_humpro)

1,112 kali dilihat, 78 kali dilihat hari ini

Rantang Berkah Kaligondang

Rantang Berkah Kaligondang

tegarroli.com – Penerima manfaat program rantang berkah di Kecamatan Kaligondang yang berjumlah 44 orang lansia terpantau baik. Hal tersebut diketahui saat tim monitoring dan evaluasi (Monev) yang dikomandoi Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) menyambangi rumah penerima manfaat rantang berkah di Kecamatan Kaligondang, Kamis (19/9/2019).

DKPP bersama perwakilan dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Purbalingga, Dinkominfo, Bagian Kesra Setda Purbalingga memantau perkembangan kualitas hidup para lansia di Kaligondang. Diantara indicator yang dipantau adalah tentang kualitas kesehatan. Kualitas kesehatan para lansia penerima manfaat tersebut meningkat karena selalu dipantau oleh tim kesehatan serta pengawasan nutrisi dari Puskesmas Kalikajar Kaligondang.

Nutrisi para lansia penerima manfaat rantang berkah di Kaligondang memang terpenuhi karena penyuplai rantang berkah di Kaligondang memenuhi semua makanan yang mengandung nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Menu yang disediakan juga menyesuaikan selera makan para lansia sehingga makanan tersebut tidak terbuang sia-sia.

Sumini, penyedia rantang berkah yang ditunjuk DKPP untuk melayani 7 Desa di Kaligondang mengaku akan menanyakan terlebih dahulu menu yang disukai para lansia. Makanan pedas dan bersantan banyak dihindari oleh para lansia dan Sumini akan menyesuaikan kebutuhan tersebut.

“Saya akan menanyakan terlebih dahulu apa yang diinginkan lansia. Biasanya mereka akan minta untuk tidak pedas dan bersantan. Sayuran, daging baik ayam atau sapi juga saya tanyakan terlebih dahulu keinginan mereka,” kata Sumini.

Apa yang telah dilakukan dibenarkan oleh Emut Kurniasih, salah satu anggota tim Monev dari unsur DKK Purbalingga. Menurutnya, kualitas kesehatan lansia penerima rantang berkah di Kecamatan Kaligondang meningkat karena terjadi komunikasi yang baik antara penerima dan penyuplai. “Tadi dicek tekanan darahnya, kolesterolnya dan asam uratnya juga baik,” ujarnya.

Tepat Sasaran

Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan DKPP, Sunarto menandaskan, penyaluran program rantang berkah sudah tepat sasaran. Kriteria berupa lansia sebatang kara, tidak bisa bekerja lagi, diatas enam puluh tahun sudah bisa dipenuhi.

“Sudah. Sudah bisa tepat sasaran dan terus kita evaluasi agar penyaluran ini tetap tepat sasaran,” ujarnya Sunarto.

Dia menambahkan, tahun depan 2020 jumlah 305 akan ditingkatkan menjadi 497 penerima manfaat diperuntukan untuk lansia yang tersebar di 18 Kecamatan. Menurutnya, peningkatan jumlah tersebut agar persebaran penerima manfaat merata di setiap Kecamatan yang saat ini baru ada tujuh Kecamatan yang menerima manfaat itu.

“Di tahun 2020 mendatang akan ditambah menjadi 497 penerima,” pungkasnya. (KP-4).

1,931 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Pemanfaatan Tanah Pekarangan

Pemanfaatan Tanah Pekarangan

tegarroli.com – TP PKK Kabupaten Purbalingga bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Purbalingga memberikan pelatihan pemanfaatan tanah pekarangan bagi TP PKK Kecamatan di wilayah Kabuapten Purbalingga. Sasaran dari pelatihan pemanfaatan tanah pekarangan tersebut yakni Pokja 3 TP PKK yang membidangi pangan, sandang dan tata laksana rumah tangga.

“Pada hari ini merupakan program dari Pokja 3 yakni Program Tata Laksana Rumah Tangga,” kata Ketua TP PKK Kabupaten Purbalingga, Ny. Indri Annas Sumarjo (Ny Annas) dalam sambutannya pada Pelatihan Pemanfaatan Tanah Pekarangan di Graha Srikandi, Kamis (19/9).

Menurut Ny. Annas pelatihan pemanfaatan tanah pekarangan penting bagi para kader PKK. Pelatihan tersebut dilaksanakan guna menambah pengetahuan bagi kader TP PKK khussunya bagi Pokja 3.

“Memang pada setiap tahun kita selalu mengevaluasi, kegiatan seperti ini masih perlu dibutuhkan dalam rangka untuk menambah kader khusus, khususnya di Pokja 3,” ujarnya.

Ia menuturkan sebelumnya TP PKK Kabupaten Purbalingga telah melaksanakan pembinaan di wilayah. Karena bertepatan dengan musim kemarau sehingga perlu diberikan materi pemanfaatan tanah pekarangan bagi para kader TP PKK.

“Memang di Kabupaten Purbalingga masih banyak lahan-lahan yang istilahnya tidur yang tidak dimanfaatkan, sebetulnya itu kita evaluasi lahan yang tidur itu biasanya penghuninya dari luar daerah,” jelas Ny. Annas.

Untuk itu sebagai upaya untuk memanfaatkan lahan pekarangan, TP PKK Kabupaten Purbalingga terus melakukan koordinasi dengan kecamatan maupun desa untuk dapat memaksimalkan lahan-lahan yang kosong. Oleh karena itu, TP PKK Kabupaten Purbalingga bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk memberikan materi mengenai pembuatan kompos dari bahan rumah tangga.

“Terutama untuk sampah organik, kemudian diharapkan juga pembuatan untuk pupuk organik cair,” imbuhnya.

Sedangkan untuk Dinas Pertanian, memberikan pelatihan terkait dengan pemanfaatan barang bekas yang dijadikan sebagai wadah tanam dan teknik penanaman. Kemudian untuk TP PKK Kabupaten Purbalingga memberikan materi terkait dengan administrasi pelaksanaan lomba dan pembuatan profil untuk lomba.

“Sehingga kita harapkan setiap ada pelaksanaan lomba itu Ketua TP PKK di semua tingkatan dapat membuat profil secara mandiri,” lanjut Ny. Annas.

Ia menjelaskan selama ini TP PKK di wilayah Kabupaten Purbalingga sudah mulai mengolah limbah dan sampah sendiri. Beberapa diantaranya yakni pembuatan tas dan sebagainya sebagai bentuk kegiatan keterampilan di desa.

“TP PKK dalam hal ini akan selalu berusaha untuk mengolah limbah sampah sesuai dengan bidang atau pokja dalam PKK,” terangnya.

Ia pun menyampaikan terkait dengan lingkungan setiap Pokja dalam PKK mempunyai tugas masing-masing. Seperti halnya Pokja 3 mengolah limbah untuk dijadikan sebagai tempat sampah, kemudian untuk Pokja 2 kerjasama dengan Pokja 3 untuk memanfaatkan sisa-sisa hasil sampah untuk dimanfaatkan menjadi kerajinan yang bernilai dan lebih produktif.

“Hal ini tentu akan menambah income keluarga dan insya allah TP PKK selalu berusaha untuk meningkatkan pengelolaan limbah sampah sesua dengan bidangnya,” kata Ny. Annas.

Nantinya, berbagai keterampilan dari limbah sanpah tersebut dapat ditampilkan dalam berbagai pameran yang ada di desa, kecamatan, kabupaten hingga tingkat nasional. Bahkan dari TP PKK desa hasil kerajianan yang ada semuanya hampir dari limbah rumah tangga seperti sisa dari bungkus kopi, permen yang tentunya dapat dimanfaatkan menjadi hasil keterampilan atau kerajinan yang bernilai tinggi.

“Jadi itu dari TP PKK mudah-mudahan ke depannya sisa-sisa bahan yang ada di rumah tangga itu bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya. (PI-7)

1,971 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Unik, Mengenal Komunitas BisMania yang Bersinggah di UMP

Unik, Mengenal Komunitas BisMania yang Bersinggah di UMP

Mungkin bagi sebagian orang hobi yang satu ini sangat tidak biasa bahkan banyak yang bilang hobi ini hanya untuk orang aneh. Bagaimana tidak, jika seseorang memiliki hobi gemar memandangi sesosok alat transportasi yang bernama “BUS” dan semakin terpesona jika bisa menikmati perjalanan dengan menggunakan bus tersebut baik untuk touring maupun pergi ke suatu daerah.

Kegemaran ini semakin berlanjut ketika mereka melihat berbagai macam bus mulai dari karoseri maupun type mesin yang menjadi dapur pacunya, maka tidak heran kalau para penggemar bus ini sering mendiskusikan bus yang mereka idolakan mulai dari karoseri yang dipakai hingga mesin yang digunakannya.

Keren kan, saya tau komunitas ini karena suatu ketika datang bis ini di kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Layaknya seorang artis, bis tersebut datang memasuki gerbang, sudah disambut para fotografer para bis mania ini.

Bis Mania merupakan suatu komunitas yang terkenal sebagai wadahnya para pecinta bus. Di sinilah traveler juga bisa ikut bergabung dan jadi tahu lebih banyak soal bus. Banyak info tiket bus murah lho!

Salah satu komunitas pecinta bus terbesar di Indonesia adalah Bis Mania. Komunitas ini pun bisa jadi tempat bagi traveler dalam mengetahui segala jenis bus dan tipenya untuk traveling.

Komunitas unik satu ini tidak hanya menjadikan bus sebagai alat transportasi yang paling digemari saja, namun juga menyalurkan hobi fotografinya lewat bus. BisMania Community merupakan komunitas yang mendeklarasikan dirinya sebagai komunitas penggemar bus di Indonesia.

Selain berbagai pengetahuan mengenai bus dan teknologi yang digunakan, para anggotanya juga bisa bertukar informasi mengenai serba-serbi bis yang ada di seluruh Indonesia. Tidak sedikit anggota BisMania Community menjadi guide dadakan saat anggota dari kota lain ada yang berencana ingin traveling ke kota lain.

Adapun kegiatan rutin yang dilakukan komunitas penggemar bus ini adalah kopi darat di mana mereka akan saling berbagi etika memotret bus agar tidak mengganggu kenyaman supir dan penumpang lain, bakti sosial, kampanye agar semakin banyak orang menggunakan bus untuk transportasi harian hingga Jambore Nasional.

3,186 kali dilihat, 82 kali dilihat hari ini

Tiga Motor Untuk SMK

Tiga Motor Untuk SMK

tegarroli.com – Bupati Purbalingga menyerahkan bantuan hibah tiga unit sepeda motor eks kendaraan dinas kepada SMK Islam Al Yusufiyah yang berada dibawah naungan Yayasan Al Yusufiyah  desa  Cipawon Bukateja, Rabu (18/9).

Tiga unit sepeda motor yang diserahkan bupati merupakan alat praktik Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM),  untuk siswa SMK yang berada di dalam lingkungan pondok tersebut. Ketiga sepeda motor ini sebelumnya merupakan motor dinas, setelah masa pakai habis dan melalui proses penghapusan aset negara yang dilakukan Badan Keuangan Daerah (Bakeuda), diserahkan ke SMK Islam Al Yusufiyah.

Kehadiran Dyah Hayuning Pratiwi disambut langsung ketua Yayasan Al Yusufiyah, KH Yusuf Mahrusudin bersama istri. Dijelaskan  ketua yayasan Kyai Yusuf, saat ini SMK Islam Al Yusufiyah memiliki 6 orang guru dengan jumlah rombongan belajar 6 kelas. Jumlah siswa laki-laki sebanyak 37 anak dan siswa perempuan 32 anak.

Saat menyerahkan bantuan alat praktik TBSM, bupati Tiwi menuturkan, kehadiran ke ponpes Al Yusufiyah adalah untuk silaturahmi dengan para santriwan santriwati. Kedatangannya ke pondok juga untuk menepati janji yang sebelumnya sempat diutarakan oleh yayasan akan kebutuhan sepeda motor untuk praktik. Pondok pesantren yang mengelola sebuah SMK membutuhkan sepeda motor bekas untuk praktik para siswa.

“Motor ini mau dilelang, sebelum dilelang ini saya ingat karena bu Nyai ini pernah pesen jadi mbok wonten motor yang sudah tidak terpakai di pemda untuk diberikan ke pondok pesantren karena kebetulan para santriwan santriwati sedang butuh motor untuk praktik, jadi langsung saya komunikasikan ke Bakeuda. Alhamdulilah ada tiga unit sepeda motor ini, mudah-mudahan motor ini, walaupun kelihatannya sudah lama, tapi mudah-mudahan ini berguna untuk praktik santriwan santriwati,” ungkap Bupati Tiwi.

Disamping bantuan motor, bupati juga memberikan bantuan dari Dinas Sosial untuk pondok pesantren Al Yusufiyah. Bupati berharap bantuan yang diberikan dapat membawa manfaat dan juga bisa membawa berkah barokah bagi semuanya.

Usai menyerahkan bantuan ke pondok pesantren Al Yusufiyah DEsa Cipawon Bukateja, bupati beserta rombongan menuju rumah embah Marsani di RT 02 RW 02 desa Wanogara Kulon Kecamatan Rembang.

Rumah kayu yang hanya dihuni embah Marsani (80) terbakar pada Rabu (18/9) pukul 09.30 wib. Kebakaran disebabkan tungku yang menyambar kayu dan dinding rumah yang kesemuanya terbuat dari kayu.

Bupati Tiwi sempat bertemu langsung dengan embah Marsani yang sudah berkurang pendengarannya. Bahkan bupati sempat mengambil gelas berisi teh manis dan memberikan minum kepada korban, karena menurut tetangga, paska kebakaran yang menghabiskan seluruh rumahnya, korban tidak mau makan dan minum.

Camat Rembang Revon Haprindiat dalam laporan tertulis menjelaskan, kebakaran menghabiskan rumah berukuran 4 X 7 meter yang dihuni embah Marsani. Kronologis kejadian, rumah dalam keadaan kosong, sementara di dapur sedang digunakan untuk memasak air. Karena kurang pendengaran, sehingga kondisi rumah yang sudah terbakar, korban tetap tenang. beruntung ada tetangga yang mengetahui, langsung menyelamatkan korban. akibat kebakaran tersebut, ditaksir korban menderita kerugian senilai Rp. 15 juta. (u_humpro)

339 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Pegiat Perpustakaan

Pegiat Perpustakaan

tegarroli.com – Ada sebuah cerita inspiratif dari perhelatan perpus fest 2019 yang diselenggarakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Purbalingga. Seperti yang terpantau pada hari ketiga atau hari terakhir gelaran Rabu (18/9/2019), pegiat perpustakaan yang ada di Purbalingga sudah mulai memberdayakan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) yang ada di sekitar mereka.

Para pegiat perpustakaan tersebut terpantau membawa hasil pemberdayaan yang mereka lakukan mulai dari makanan hingga kerajinan tangan yang sampai dengan saat ini sudah memperoleh pangsa pasar yang potensial. Hasil pemberdayaan tersebut juga dipasarkan melalui griya UMKM Kabupaten Purbalingga yang semakin memudahkan untuk dikenal masyarakat luas.

Ditemui saat menjaga stand perpustakaannya, pengelola taman baca “Sinar Cerah” Desa Prigi Kecamatan Padamara, Taufik Nur Hidayat mengatakan, taman baca yang dia kelola memberdayakan 20 orang dari warga sekitar seperti dilatih membuat jamur krispi, sabun pencuci piring, kotak perhiasan serta produk-produk lainnya.

“Kami telah memberdayakan sekitar 20 orang untuk membuat berbagai macam produk seperti membuat jamur krispi, sabun pencuci piring dan produk-produk lainnya,” kata Taufik.

Lain lagi dengan limbah pustaka. Perpustakaan yang dikomandoi Roro Hendarti ini mampu memberdayakan pelaku UMKM berbasis stimulus. Artinya, limbah pustaka hanya menyediakan tempat dan model pelatihan dan ketika pelaku UMKM sudah bisa berjalan sendiri, limbah pustaka akan melepas bimbingan terus agar pelaku UMKM mandiri. Tercatat ada berbagai macam produk seperti manisan terong, stik tahu dan berbagai macam minuman yang sudah sangat diminati konsumen.

“Produknya sudah punya pasar dan sangat diminati konsumen. Ini seperti manisan terong dan stik tahu stoknya selalu habis diburu konsumen,” pungkasnya. (KP-4).

330 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Literasi Purbalingga

Literasi Purbalingga

tegarroli.com

Ekspo Dinarspus berlangsung selama tiga hari  mulai hari Senin sampai hari Rabu. Pada hari ketiga diisi dengan kegiatan berupa bedah buku yang dihadiri para kepala SD, pelatihan menulis bagi guru TK dan lomba desain stiker untuk pelajar SMA.  Bupati Purbalingga hadir di hari terakhir Ekspo, Rabu (18/9).

Dalam sambutannya Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi mengatakan, acara bedah buku merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan angka literasi melalui budaya membaca dan menulis. Saat ini mulai kementrian, perpustakaan baik dari tingkat provinsi sampai kabupaten, sedang giat membudayakan literasi atau gemar membaca. Hal ini dilatarbelakangi survei yang menunjukan  angka literasi Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara lain.

Kabupaten Purbalingga juga lagi giat meningkatkan angka literasi atau gemar membaca, baik melalui ekspo maupun perpustakaan keliling. Termasuk mendorong sekolah-sekolah dan desa memiliki perpustakaan sendiri. Karena Kabupaten Purbalingga sudah memiliki payung hukum berupa perda terkait perpustakaan.

Bupati juga memberikan apresiasi kepada penulis buku Teka Teki Warisan Kakek, Rohmat Giyo Rahmadita  seorang guru GTT SD 4 Pengadegan. Buku fiksi terbitan Indifa Media Kreasi saat ini sudah tersebar di toko-toko buku se Indonesia.

“Kalo mas Rohmat saja bisa, saya yakin bapak ibu para guru yang memiliki kompetensi serupa, saya yakin bisa. Karena di tahun 2018 lalu, PGRI juga sudah meluncurkan 125 judul buku karya guru-guru yang ada di Kabupaten Purbalingga. Nanti, tahun ini di bulan November pada saat ulang tahun PGRI, juga akan mengadakan peluncuran buku, ada sekitar 200 judul buku. Harapannya bedah buku ini bisa menginspirasi, agar para guru memiliki karya tulis yang hebat,  serta bermunculan penulis-penulis hebat asal Purbalingga, ”pinta Bupati.

Usai membuka bedah buku, bupati sempat melihat lomba desain stiker yang diikuti pelajar SMA/SMK se Kabupaten Purbalingga. Sebelum meninggalkan lokasi Ekspo Dinarspus, bupati mengajak menyanyi lagu “Tanah Airku” bersama para siswa TK dan SD yang ada di lokasi tersebut.

Sementara Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Jiah Palupi mengatakan, pada hari pertama Ekspo, pihaknya bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) mengundang siswa MTs untuk bersama mengikuti sosialisasi bahaya Narkoba,  kegiatan lain berupa “BI Mengajar dengan melibatkan siswa SMAN 1 Pubalingga dan MA Sambas. Pada hari kedua bekerjsama dengan Dinas Kominfo mengundang siswa SMPN 2 Purbalingga untuk mengikuti sosialisasi Etika Bermedia Sosial. Dilanjutkan lomba mendongeng bagi siswa SD/MI.

Puncak kegiatan Ekspo Dinarpus dilakukan hari Rabu ini, kegiatannya berupa bedah buku yang diikuti oleh perwakilan kepala SD se Kabupaten Purbalingga dan guru bahasa Indonesia SMP se Kabupaten Purbalingga, dan bekerjasama dengan Persatuan Wartawan Indonesia  mengadakan pelatihan menulis untuk guru-guru TK se Kabupaten Purbalingga.

Ditambahkan Jiah Palupi, untuk menggaet peminat baca para remaja atau kaum milenial, Dinarspus meluncurkan program baru bernama D’Ars Bangga atau Digital Arsip Purbalingga yang berisi napak tilas bukti-bukti arsip sejarah masa lalu Purbalingga, ditambah juga arsip di era sekarang dan arsip masa depan. (u_humpro)

 

246 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini