Dakwah Kyai Bil Digital

Dakwah Kyai Bil Digital

Tulislah apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi untuk meninggalkan jejak digital, baik perbuatan, peninggalan, maupun pemberian. Karena dengan menyampaikan kebaikan melalui media sosial, maka terciptalah Kiyai Digital.

tegarroli.com

Era digital sekarang ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi syi’ar Islam. Para mubalig, aktivis dakwah, dan seluruh umat pada umumnya, selain tetap harus melakukan da’wah bil lisan (ceramah, tablig, khotbah) dan da’wah bil hal (pemberdayaan masyarakat secara nyata, keteladanan perilaku), dapat pula memanfaatkan media sosial untuk melakukan da’wah bil digital, melalui konten-konten positif serta ajakan untuk melakukan kebaikan.

Melalui konten-konten di media digital, para mubalig, ulama, kyai atau umat Islam pada umumnya sesuai dengan bidang keahlian atau keilmuan yang dikuasainya, dapat melakukan peran sebagai Kyai Digital, yakni sebagai pendidik netizen, pelurus informasi tentang ajaran dan umat Islam, pembaharu pemahaman tentang informasi yang diterima, serta pemersatu atau perekat bangsa.

Objek, mad’u, jama’ah atau netizen dakwah bil digital ini lebih banyak dan luas. Karena konten kebaikan dan informasi kebenaran dapat dinikmati oleh ratusan, ribuan, bahkan jutaan pengguna media digital dalam waktu yang hampir bersamaan.

Dakwah bil Digital merupakan senjata yang paling ampuh untuk menyasar generasi milenial. Media digital mampu merubah pola hidup mereka, bahkan mempengaruhi mereka secara kuat dan massif.

Dewasa ini kita merasakan masih minimnya pembuat konten kebaikan terkait keislaman, kita merasakan masih langkanya para kyai digital – Kyai yang mampu melakukan da’wah bil digital melalui media sosial. Lebih langka lagi para ahli agama Islam (ulama, kyai, mubalig) yang mampu melakukan da’wah bil lisan (tablig, ceramah, khutbah) sekaligus piawai membuat konten keislaman untuk media digital. Padahal konten digital adalah tamannya para generasi milenial saat ini.

Kiranya sudah saatnya digalakan pembukaan wawasan dan pemahaman bagi umat Islam tentang pentingnya dakwah melalui media digital dan menumbuhkan minat dan mengembangkan bakat untuk membuat konten kebaikan tentang keislaman di dunia digital.

Kita perlu menyadarkan umat akan pentingnya mewarisi keterampilan atau kemahiran para ulama, pemikir, cendikiawan, Muslim terdahulu yang mampu “mengabdikan” dan menyebarluaskan ilmu-ilmu dengan pemikirannya lewat buku-buku, kitab-kitab, atau tulisan-tulisannya. Untuk itu di era digital, maka perlu diciptakan jejak digital yang terkait tentang keislaman.

Tidak kalah pentingnya, adalah tugas kita bersama selalu umat Islam untuk menyadarkan para pengguna media digital Muslim yang tersebar atau bekerja di berbagai media digital, agar memiliki kesadaran dan mampu serta mau mengemban misi suci sebagai kyai digital.

Baca Juga: Wartawan “Menyakiti”

Tentang Penulis

Tegar Roli A. – Akrab disapa Tegar – Adalah alumnus Magister Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam. Terjun ke dunia jurnalistik sejak mahasiswa. Semasa kuliah ia nyantri di Pesantren Kepenulisan An Najah Purwokerto.

Tegar pernah menjadi Wartawan Jawa Pos Grup Radar Banyumas, Reporter Satelit Televisi Nusantara dan masih aktif menjadi kontributor pemberitaan dan Reporter TvMu.

Di dunia digital ia awali dengan menjadi seorang blogger, dan bazer. Kini ia selain masih aktif bergelut di bidang jurnalistik mengelola kanal www.tegarroli.com.

Di organisasi ia tercatat di Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyumas, Bidang Media Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Banyumas, dan Ketua Depatermen Pendidikan dan Media Generasi Muda Forum Kerukunan Umat Beragama (GM FKUB) Banyumas.

10,455 kali dilihat, 89 kali dilihat hari ini

Wartawan “Menyakiti”

Wartawan “Menyakiti”

Dalam pekerjaan sehari-hari wartawan memang kerap “menyakiti” orang, misalnya menulis tentang pejabat yang korup, atlet yang gagal atau aktris yang tdak sukses, pengusaha yang bangkrut, dan banyak lagi. Namun bila hal ini dilakukan demi melayani kepentingan yang lebih besar, maka hal ini masih dapat danggap sebagai efek samping yang diterima. Prinsip menyakiti ini dibatasi, bila tindakan orang itu merugikan orang banyak lannnya. Jurnalisme selalu merupakan pekerjaan bagi orang-orang etis. Kata novelis Leslie H. Whitten, dalam bukunya Luwi Ishwara mengungkapkan,

Sebab upah mereka rendah dan mereka menjalankan pekerjaan karena percaya hal itu memang baik untuk dilakukan dan juga karena nama mereka tertera sebaga penulis.

Unsur idealisme dalam pekerjaan wartawan memang sangat menonjol. Namun unsur ini harus ditopang dengan bsnis perusahaan yang sehat. Karena surat kabar yang tidak sehat dalam bisnisnya menjadi lemah dan rentan terhadap orang-orang yang ngin memanfaatkan surat kabar itu untuk kepentingan pribadi.

Mendatangkan Uang dan Berbuat Baik

Surat kabar harus mengoprasikan keduanya: “mendatangkan uang” (sedikitnya tidak rugi) dan “berbuat baik” (seperti mengungkap ketidakadilan dan dengan demikian memperbaiki masyarakat). Karena ketegangan “ antara keserakahan dan idealism”, Thomson percaya bahwa setiap surat kabar memiliki “dua budaya, atau setdaknya pandangan, yang terkadang bertentangan antara yang satu dengan yang lain: di satu pihak, wartawan dan editor, yang bisa berperan membongkar dan menyebarluaskan kebenaran dan di pihak lain, pemilik, penerbit, manajemen, yang berusaha mempertahankan bisnin dan mengusahakan keuntungan yang besar. Pimpinan Redaksi Times Miror Company, Otis Chandler percaya bahwa surat kabar yang sukses tidak akan membiarkan maduk ke arena editorial. Mereka memberikan keleluasaan pada depatermen editorial untuk sepenuhnya bebas meliput berita seperti apa yang dilihatnya.

Untuk mempertahankan keseimbangan kedua skap ini memang tidak mudah, terutama menghadapi berbaga macam godaan, sehingga terkadang harus ada yang dikorbankan. Meminjam kata Ellen Hume, Jurnalisme yang dulunya membongkar penyelewengan sekarang memberi jalan kepada pengeruk uang yang menapai popularitas dan kekayaan.

9,963 kali dilihat, 86 kali dilihat hari ini

Jurnalisme bukanlah obat, tetapi dia dapat menyembuhkan

Jurnalisme bukanlah obat, tetapi dia dapat menyembuhkan

Jurnalisme bukanlah obat, tetapi dia dapat menyembuhkan. Jurnalisme bukanlah hukum, tetapi dia dapat membawa keadilan. Jurnalisem bukanlah militer, tetapi dia dapat membantu menjaga kita aman.

Itulah apa yang diajarkan sejarah kepada kita. Ia juga mengatakan bahwa jurnalisme adalah alat yang paling pentingyang kita miliki untuk menjaga agar pemerintah jujur, menjaga agar masyarakat mendapat informasi, dan menjaga agar demokrasi tetap utuh. Inti menulis berita adalah suatu pekerjaan mulia.

Wartawan memang mempunyai ujuan mulia. Paus Johanes Paulus II berkata :”Dengan pengaruh yang luas dan langsung terhadap opini masyarakat, jurnalisme tidak bisa dipandu hanya oleh kekuatan ekonomi, keuntungan dan kepentingan khusus. Jrnalisme haruslah diserapi sebagai tugas suci, dijalankan dengan kesadaran bahwa sarana komunikasi yang sangat kuat telah dipercayakan kepada Anda demi kebaikan orang banyak.

Senang rasanya bagi seorang wartawan bila bisa menolong orang yang sedang menghadapi kseulitan dengan menyampaikan berita dan gagasan tentang dunia sekitar mereka. Dan memang inilah yang dibutuhkan masyarakat. Untuk meningkatkan kredibilitas, wartawan dianjurkan untuk menghargai khalayaknya dengan menyajikan apa yang diharapkan mereka sebagai berita. Menjadikan prioritas utama untuk tidak menyakiti.

Jurnalisme menyentuh hampir setiap kehidupan manusia.

Maka prilaku dan standar moral dalam jurnalisem layak mendapat perhatian yang sama seperti yang berlaku pada hakim, dokter, pebisnis, dan sebagainya. Kebebasan pers adalah sebuah hak, yang seperti semua maslah yang terkait moral, tanpa kecuali juga dibatasi oleh hak-hak lain, di mana pada suatu saat atau titik, mereka akan bersaing.

Pers mempunyai hak untuk mengekspresikan pendapat dan penilaiannya tentang seseorang, tetapi bila pers melanggar hak moral seseorang  untuk tidak difitnah, maka orang tersebut berhakuntuk mengesampingkan hak kebebasan berekspresi dari pers tersebut.

Purwokerto, Senin (1/7/2019) 16.06

10,117 kali dilihat, 86 kali dilihat hari ini

Buzzer Sebagai Alternatif Iklan Politik di Era Media Sosial

Buzzer Sebagai Alternatif Iklan Politik di Era Media Sosial

Seiring perkembangan teknologi komunikasi berbasis internet, terutama setelah maraknya media baru dan media social, iklan politik berkembang. Kekuatan media sosial telah menghipnotis masyarakat, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa untuk menjadi bagian dari media social. Fenomena tersebut adalah bentuk dari hadirnya internet di Indonesia yang menduduki peringkat ke kedua tertinggi di dunia dalam 5 tahun terakhir telah melahirkan kebutuhan baru pada brand untuk eksploitasi pasar ke ekosistem online khususnya media social.

Media Sosial saat ini bukan hanya sarana sosialisasi dan menciptakan hubungan atau jaringan personal, melainkan sudah berkembang menjadi salah satu sarana iklan yang sangat ampuh. Inilah yang dinamakan social buzzer, bisnis baru bagi pemilik akun media sosial yang terkenal dan mempunyai follower yang banyak sehingga mereka menjadi sarana iklan kepada khalayak atau pengikut mereka.

Ketergantungan masyarakat akan media sosial dan media baru berimplikasi pada hampir semua sektor kehidupan, baik ekonomi, social budaya, maupun politik. Dalam politik, media baru dan media sosial telah menjelma menjadi medium kekuatan baru yang tidak hanya mampu menciptakan kekuatan masyarakat, tetapi juga kekuatan yang bersifat personal. Khalayak atau follower yang menjadi pengikut akun media sosial seseorang atau sebuah lembaga menjadi peluang sosialisasi, promosi, dan kampanye yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Semakin banyak follower, semakin tinggi kemampuan jangkau ‘personal’ seseorang kepada khalayak yang menjadi follower mereka. Komunikator (yang mempunyai akun) dapat melakukan publikasi, promosi, dan kampanye dengan mem-posting atau update status media sosial mereka tanpa harus menanyakan kepada khalayak apakah mereka bersedia menerima atau tidak. Respon dapat dilihat dari balasan yang diberikan oleh follower, bahkan dapat memunculkan diskusi, kritik, dan saran antar-follower pada waktu yang bersamaan, hal ini sekaligus memperlihatkan pengaruh dan keberhasilan dari buzzer.

Follower menjadi sangat penting, namun yang menjadi faktor utama adalah impression atau keterbacaan follower. Bila ingin memanfaatkan secara maksimal uang dan investasi dalam menggunakan buzzer, mari ubah cara pandang kita tentang cara beriklan di media social dan buzzer.

  1. Membayar impression. Bukan follower. Berhentilah berkubang dalam follower game number. Ini adalah lubang utama yang sangat fatal. Benar bahwa acuan pertama memilih buzzer karena jumlah followernya yang berharap follower mereka menyaksikan iklan Anda.
  2. Menyaksikan adalah kata kunci dari tujuan Anda. Dalam periklanan, iklan yang disaksikan disebut impression atau keterbacaan, dari situ awareness Di media sosial bisa diketahui secara presisi berapa orang yang telah membaca/menyaksikan sebuah akun media social. Datanya ditampilkan dalam bentuk angka, real-time dan historical.

Kekuatan media sosial tidak luput dari kreativitas politik. Banyak kampanye politik dan politikus menggunakan media sosial karena karakteristiknya yang cepat, murah, dapat mengirimkan beragam kemasan, mampu diakses dimana saja, serta feedback yang dapat dilakukan secara langsung bahkan dapat melakukan dialog dengan berbagai anggota yang ada dalam sebuah akun. Pada pilpres 2014, misalnya, para peserta dapat menjadi sumber informasi bagi publik. Mereka menjadi gatekeeper dalam makna yang baru kepada public.

Istilah lain dari buzzer adalah influencer atau rain maker. Influencer adalah orang yang mampu mempengaruhi follower (pembaca blog-nya, teman Facebook-nya, follower akun media sosialnya) sehingga memberikan efek buzz di media social, mempengaruhi dalam aspek informasi, tren, dll. sehingga diikuti oleh yang lainnya. Semua orang bisa menjadi buzzer mulai dari artis, akun public, selebriti, akun pribadi atau mungkin aktivis, selama pengikut atau follower mereka jumlah tertentu (banyak).

Umaimah Wahid dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Politik menyebutkan bahwa bahwa buzzer berasal dari bahasa Inggris yang memiliki arti bel, lonceng atau alarm. Secara harfiah, buzzer juga dapat diartikan sebagai alat yang digunakan untuk mengumumkan sesuatu atau untuk mengumpulkan orang-orang di satu tempat. Di Indonesia, kita mengenal sebagai kentongan. Kentongan adalah salah satu peralatan tradisional yang berfungsi untuk mengumpulkan warga jika ada pengumuman dari perangkat desa atau terjadi suatu peristiwa penting.

Secara sederhana, seorang buzzer adalah pengguna akun media sosial yang dapat memberikan pengaruh kepada orang lain hanya melalui status media sosial yang ia tuliskan. Hal tersebut merupakan identitas utama dari seorang buzzer karena pada dasarnya buzzer harus mempunyai kemampuan influence atau mempengaruhi orang lain. Oleh sebab itu, ada pula yang menyebutnya dengan istilah influencer.

Para buzzer mempunyai tugas menuliskan statusnya tentang informasi atau rekomendasi sebuah even atau produk dari penyewa jasa mereka. Para penyewa buzzer kebanyakan merupakan perusahaan besar atau pemilik usaha yang ingin usahanya lebih dikenal oleh banyak orang di dunia maya.

Tidak heran dalam dunia bisnis, penyewa jasa buzzer juga datang dari organisasi atau kelompok. Mereka menggunakan jasa buzzer untuk memperkenalkan sebuah even atau mungkin sebuah pesan sosial bagi masyarakat banyak. Bahkan peluang kreatif ini nyatanya juga dilirik oleh para pelaku dunia politik untuk urusan pencitraan.

Tugas buzzer terkadang tidak terbatas hanya untuk mem-posting sebuah status, namun tidak jarang pula menjalankan campaign atau rangkaian informasi lebih lanjut kepada para follower-nya. Jadi, tugas dari seorang peserta buzzer bisa menjadi layaknya brand ambassador penyewa jasa tersebut. Untuk itu, seorang buzzer juga harus benar-benar mengerti apa yang ia sebarkan ke dunia maya.

Kekuatan para buzzer sangat ampuh dalam menciptakan opini publik dan mempengaruhi pola pikir masyarakat dengan kecenderungan dan pilihan mereka secara persuasive. Masyarakat menjadi mengikuti apa yang dianggap baik dan buruk oleh para buzzer sehingga sebagaimana beragam konten media konvensional, new media dan sosial media, unsur rekayasa dalam proses konstruksi selalu ada dalam proses konstruksi sebuah pesan politik yang dipublikasi atau di iklankan pada akun-akun akun buzzer.

Bahkan, kecenderungan manipulasi lebih tinggi dan besar melalui media sosial karena mungkin saja follower-nya tidak semuanya benar, tetapi rekayasa untuk kepentingan politik semata. Bagi akun artis, publik figure, dan tokoh masyarakat lainnya ketentuan pengaruh mereka menjadi alat kunci dalam mempengaruhi publik dengan pesan-pesan mereka. Jadi khalayak sebenarnya kembali kepada ketergantungan terhadap tokoh-tokoh tertentu yang dipercaya dan diikuti walaupun kemungkinan tidak sesuai atau tidak tepat terbuka dalam proses tersebut.

Kekuatan buzzer dipercaya ampuh di tengah pemanfaatan dan ketergantungan publik terhadap media social, terutama di kalangan anak-anak muda. Selebritas dan public figur acapkali menjadi peserta untuk kepentingan promosi atau kampanye politik atau bisnis lainnya.

Iklan buzzer dapat menjadi alternatif dalam melakukan kampanye politik dan sekaligus peluang ekonomi bagi anggota masyarakat yang mempunyai akun sosial media dengan jumlah follower yang banyak. Tingkat keberhasilan iklan buzzer dapat dinyatakan tinggi karena khalayak yang menjadi targetnya adalah khalayak yang secara sadar menjadi bagian dari komunikator dalam proses iklan buzzer. Pada pemilu 2014, banyak pihak yang memilih menjadi buzzer, baik artis, public figur, bahkan mahasiswa. Mereka bertindak sebagai sumber informasi mengenai kandidat atau ide-ide yang mereka dukung. Contohnya beberapa artis pendukung pasangan salah satu presiden menjadi buzzer yang mengkampanyekan nilai-nilai dan ideologi pasangan tersebut. Namun, komunikator buzzer merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses kampanye yang dilakukan karena buzzer cenderung terkait dengan sumber pesan politik itu sendiri.

2,180 kali dilihat, 12 kali dilihat hari ini

Informasi Merupakan Kebutuhan Pokok

Informasi Merupakan Kebutuhan Pokok

Dewasa ini informasi merupakan kebutuhan pokok masyarakat, seiring dengan kemajuan teknologi dan komunikasi. Bahkan menurut Ziauddin Sardar, informasi bukan hanya kebutuhan, melainkan juga dapat menjadi sumber kekuasaan. Maka benar kiranya apa yang dikatakan oleh John Naisbitt, seorang futurolog, bahwa kekuatan baru dewasa ini bukanlah harta karun ditangan segelintir manusia, tetapi jaringan informasi ditangan banyak manusia.

Mengingat begitu pentingnya informasi, peranan wartawan, kolomnis, sastrawan, dan lainnya yang bergerak dalam bidang kepenulisan sangatlah penting. Merekalah yang menyugukan informasi kepada khalayak. Baik berdasar fakta atau kejadian dilapangan (wartawan) atau pandangan subjektif-kritis dari seorang penulis mengenai suatu realita yang ada (opini, kolomnis).

Oleh karenanya, kemampuan menulis mutlak harus dikuasi dewasa ini. Terlebih buat mahasiswa yang menyandang julukan agen perubahan. Dengan memilki kemampuan menulis, seseorang (mahasiswa) tidak hanya mendapat penghasilan (honor), tetapi juga bisa menyumbangkan pemikirannya (opini) untuk solusi masalah yang sangat kompleks di masyarakat.

Sebuah tulisan, yang berisi kata-kata memang luar biasa. Bukankah sejarah juga mencatat, bahwa berkat tulisan peradaban sebuah bangsa bisa berubah. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh M. Fauzil Adhim, seperti yang dikutip oleh Bramma Aji, bahwa dalam setiap untaian kata terdapat sihir. Sebuah sihir yang mampu mengobati sakit fisik dan psikis sekaligus penggugah semangat. Semangat untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Menulis untuk perubahan.

1,665 kali dilihat, 12 kali dilihat hari ini

Menulis adalah Proses Kreatif yang Terus Menerus

Menulis adalah Proses Kreatif yang Terus Menerus

Menulis adalah persoalan pilihan eksistensi, yaitu kesadaran untuk berproses secara aktif-kreatif yang terus menerus. Inilah yang harus disadari mahasiswa, bahwa menulis ini membutuhkan proses yang panjang, tidak bisa secara instan, Bukankah kalau kita masak mie instan saja butuh proses? Selain itu menurut Howard dan Barton, sebagaimana dikutip oleh Etty Indriati, bahwa menulis pada dasarnya adalah kegiatan berfikir, selain berkomunikasi.

Janganlah ketiadaan ide dijadikan sebagai pembenaran untuk tidak menulis. Karena sebenarnya ide ada dimana-mana. Tinggal bagaimana kepekaan kita menangkap ide itu, dan menjadikannya sebuah karya. Beberapa tips tentang cara menumbukan ide (bab sebelumnya) bisa dijadikan referensi buat kita. Setelah itu mulailah menulis, menulis, dan menulis.

Menulis itu mengasyikan, setidaknya itulah gambaran dari kalimat motivasi yang penulis kutip dari penulis novel remaja. “Ketika menulis, kamu menggunakan berbagai otak yang berbeda. Saat proses terjadi, kamu tidak menyadarinya. Kamu tidak mengetahui dari mana asal tulisanmu. Sewaktu membacanya kemudian,  “Wow! Akukah yang menulisnya?” Itu bagaikan sebuah kejutan yang mengasyikan”. (Judi Blume, penulis novel remaja dan anak-anak).

1,313 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

5 Cara Menumbuhkan Ide Menulis

5 Cara Menumbuhkan Ide Menulis

Seorang penulis, baik itu jurnalis, novelis, cerpenis, ataupun kolomnis harus kaya akan ide-ide yang fresh, kreatif, inovatif, dan lainnya. Karenanya ide harus mutlak selalu ada dalam benak penulis. Bagaimana caranya kita menemukan ide tersebut lalu mengembangkannya menjadi sebuah tulisan yang renyah dan enak dibaca? Setidaknya ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan ide, antara lain:

  1. Rajin membaca buku.

Ini harga mati bagi siapapun yang ingin bercita-cita jadi penulis. Kenapa membaca buku? Setidaknya menurut Heru dan Sutardi ada tiga alasan mengapa kita harus membaca buku. Pertama, apa yang kita tuliskan adalah pengetahuan atau imajinasi, maka kekayaan pengetahuan menjadi syarat mutlak untuk menjadi penulis yang baik. Kedua, dengan membaca pengetahuan kosakata lebih banyak dan bervariatif. Dan ketiga, dengan membaca juga membuat kita kreatif untuk menemukan ide-ide baru.

Karena sejatinya apa yang kita tulis adalah representasi dari apa yang kita rasakan dan kita pikirkan. Jika tulisan kita “jelek” maka itu pasti berhubungan dengan pengetahuan kita yang terbatas. Jadi, sudah jelas kiranya bahwa modal menulis adalah membaca. Pepatah bijak pun mengatakan, “sebelum menjadi penulis yang baik, harus menjadi pembaca yang baik dulu”.

  1. Membaca Fenomena

Lebih lanjut, menurut Heru dan Sutardi, selain membaca buku, hal yang tidak kalah penting adalah membaca fenomena. Jika membaca buku itu untuk ilmu pengetahuan dan imajinasi (intelektual), maka membaca fenomena itu untuk kepekaan rasa (emosional) penulis.

  1. Banyak silaturahmi

Ya, untuk yang satu ini memang banyak sekali manfaatnya. Selain mendapatkan ide, juga bisa memperpanjang umur dan menambah rezeki. Dengan bersilaturahmi kita belajar banyak tentang pengalaman dan pengetahuan. Tidak jarang ide-ide segar dan kreatif muncul, hadir ketika kita berbincang-bincang dengan orang yang lebih berpengalaman dan lebih ahli dibidangnya.

  1. Berdiskusi

Untuk yang satu ini adalah hal yang biasa dilakukan mahasiswa. Bertukar pendapat, saling adu argument, mempertahankan argument, dan belajar dewasa adalah tujuan dari diskusi. Oleh karenanya sangat dianjurkan kepada penulis pemula untuk mempunyai komunitas, sebagai tempat untuk berdiskusi. Keempat adalah jalan-jalan. Setelah seharian disibukkan dengan aktifitas  yang melelahkan, tidak salah kiranya jika kita jalan-jalan di waktu sore hari untuk merefreshkan pikiran yang penat oleh kesibukan. Tidak jarang dalam jalan-jalan itu kita menemukan sesuatu yang unik untuk dijadikan ide dalam tulisan. Jadi, jalan-jalan sore yang lebih bernilai dan bermanfaat, tidak hanya hanya sebatas cuci mata belaka.

  1. Merenung

Merenung disini bukan maksdunya melamun tidak jelas. Tetapi mengajak diri kita untuk berdialog. Ini penting, karena hal sederhana ini sering dilupakan. Dengan merenung, kita bisa intropeksi diri tentang ide, cita-cita, harapan, dan lain-lain dalam menjalani kehidupan.

Selain cara-cara tersebut, Joni L. Efendi juga menjelaskan bagaimana cara mendapatkan ide.  Menurut Efendi, ide bisa didapat dari pengalaman hidup, penghayatan religius, kekayaan intelektual, pengalaman beribadah (spiritual), penderitaan, kerinduan pada kekasih, kesepian, kejengkelan pada dunia sekitar, kepekaan sosial dan politik, pandangan kritis terhadap tradisi dan modernisasi, dan apa saja yang bergejolak dalam hati seorang penulis serta reaksi batinnya terhadap berbagai fenomena di sekitar lingkungannya adalah lahan subur lahirnya sebuah ide. Dilahan itulah ide-ide bertebaran bebas. Tinggal bagaimana kepekaan (efek rasa) seorang penulis untuk mendapatkan dan mengembangkannya menjadi sebuah karya.

Setelah kita mengetahui cara atau metode dalam mendapatkan dan menumbuhkan ide, sekarang saatnya menulis. Sesuatu yang sia-sia kiranya, jika kita sudah mendapatkan ide tidak lantas ditulis. Karena pada dasarnya, pikiran dan ide yang memenuhi kepala kita, itu laksana kuda liar yang siap berlari kea rah mana saja. Karena itu, ikatlah kuda liat yang bernama ide dan gagasan itu dengan sebuah tali kuat yang bernama tulisan.

                [1] Heru Kurniawan dan Sutardi, hal 9

                [2] Joni L. Efendi, Writing Donuts… (Yogyakarta: Buku Biru) hal 92

                [3] Bramma Aji, Menembus Koran, hal. 6

938 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Setia  Pada Jurnalisme

Setia Pada Jurnalisme

Belum lama ini, Nielsen telah melakukan survey dan menyebutkan bahwa media cetak sampai sekarang masih dipilih karena beritanya dapat dipercaya dan cukup menggembirakan. Meski demikian, terlepas dari segala macam alasan, media tidak akan pernah sedikitpun untuk ditinggalkan jika tetap setia dan teguh hati pada inti jurnalisme.

Dalam Surveynya dipaparkan Nielsen menyebutkan, media cetak pada 2016 hingga 2017 terhadap 17.000 responden di 11 kota di Indonesia. Hasilnya, media cetak masih memiliki penetrasi sebesar 8 persen atau sekitar 4,5 juta orang. Artinya populasi di 11 kota mencapai 54 juta orang di atas usia 10 tahun.

Sementara pengguna media internet dan digital untuk membaca berita cukup tinggi. Disebutkan dalam Surveynya hingga triwulan III 2017, jumlah pembaca versi digital mencapai 6 juta orang dengan penetrasi 11 persen. Kondisi ini menunjukan minat baca yang tidak pernah menurun.

Jika dilihat dari profil pembaca, media cetak di Indonesia cenderung dikonsumsi oleh konsumen berusia 20 – 49 tahun (74 persen), memiliki pekerjaan sebagai karyawan (32 persen), dan mayoritas pembaca berasal dari kalangan atas (54 persen)

Sementara alasan utama pembaca masih memiliki media cetak karena nilai betianya yang didapat dipercaya dan tak mengandung unsur hoaxs atau berita palsu. Unsur kepercayaan ini tentu berpengaruh pada iklan di media cetak tersebut.

Media cetak masih akan tetap betahan lama karena pengiklan masih nyaman belanja iklan di media cetak dibandingkan media online. Kita tahu banyak iklan yang mengalir ke media online, kecuali ke beberapa media online yang sudah eksis sudah lama.

Saat ini masih saja terus mulai bermunculan media-media online dengan produksi konten mandalam dan koperehensif. Sayangnya, media-media online tersebut belum banyak mendapatkan dukungan dari industry pemasang iklan.

Hingga Saat ini Media Cetak Tetap Menjadi Pilihan

Hingga saat ini media cetak tetap masih menjadi pilihan para pembaca. Media cetak dipilih sebagai sumber informasi karena beritanya dapat dipercaya. Sebagian besar konsumen utama media cetak adalah kalangan atas.

Mengapa responden membaca media cetak, karena beritanya dapat dipercaya. Industri media cetak perlu tetap mengampanyekan atau memprmosikan bahwa mereka memiliki berita yang dapat dipercaya dan tidak mengandung unsur hoaxs atau informasi palsu.

Akan berbahaya jika media cetak sudah tidak lagi dipercaya. Terlepas kepentingan-kepentingan, sosial, ekonomi dan budaya. Namun, ramalan bahwa usia media cetak masih panjang juga sulit dipastikan kebenarannya. Rasa nyaman dan optimis yang terlalu berlebihan akan membuat pemilik media cetak tak cepat bersiap-siap menghadapi perubahan.

Memasuki generasi milenial atau era 5G (teknologi jaringan seluler generasi kelima), lompatan besar teknologi akan terjadi, kecepatan berlipat, dan video akan langsung ditemukan dengan cepat begitu di-klik. Mau tidak mau, generasi tua dipaksa akrab dengan teknologi digital.

Teknologi dan media boleh saja berubah, tetapi inti jurnalisme tetap tak akan berubah. Hanya kesetiaan dan keteguhan hati kepada inti jurnalismelah yang akan menjadikan media konvensional tetap bisa bertahan dan dipercaya.

Media cetak harus mempertahankan cara-cara penulisan berita yang sesuai dengan standar jurnalistik, termasuk ketika nanti terpaksa harus berpindah ke media baru atau New Media. Pada akhirnya orang-orang berpendidikan tinggi akan mengalami perubahan selera membaca. Mereka merasa bosan dan tidak merasa tercukupi dengan tulisan pendek dan sekedar sensasional.

Mereka akhirnya mencari berita panjang, serius, mendalam dan tidak sensasional. Atau bisa diistilahkan orang akan lebih suka mencium harumnya kertas dibanding menyentuh mulusnya layar kaca.

Sementara itu, hal lain yang akan menyelamatkan media cetak adalah masyarakat local di daerah. Meski membaca berita dering, mereka tetap setia membaca koran daerah.

Tantangan Jurnalisme pada New Media

Public barangkali masih ingat berbagai peristiwa penting terkait dinamika media dalam satu dekade terakhir. Jelang pemilihan umum 2014, misalnya, kita melihat bagaimana sejumlah media tampil bias dan tidak konsisten. Alih-alih mereka lebih mengedpankan isu-isu penting publik, media justru menunjukan keberpihakannya kepada calon presiden tertentu. Orang juga mungkin belum lupa bagaimana dia menyita frekuensi publik dengan menampilkan kehidupan pribadi selebritas yang diekspos berlebihan. Pertanyaan yang muncul kemudian, sebetulnya media mewakili kepentingan siapa.?

Pesatnya kemajuan teknologi informasi yang ditandai dengan menjamurnya media daring pun seharusnya tidak mengubah sifat yang harus dimiliki media, yaitu media yang dipercaya public. Para pelaku media di era digital atau New Media harus sadar akan dampak berita dalam jaringan atau online yang lebih besar dibandingkan media cetak karena kecepatan dan jangkauannya. Tidak boleh asal cepat, akurasi, verifikasi, cover all side, juga konteks peristiwa, tetap punya makna penting bagi khalayak. Media harus tetap menjadi pedoman bagi public.

Pedoman Mencari dan Menyiapkan Kebenaran

Tumbangnya rezim orde baru pada 1998 dan kemajuan teknologi informasi telah membawa jurnalise di tanah air dewasa ini tampil berbeda. Kini, sedikitnya ada ratusan media cetak dan radio, puluhan stasiun televisi serta kemunculan media baru (New media). Meski demikian, kita melihat jurnalisme di era digital bagaikan bola liar yang bergulir tanpa arah yang jelas. Banyaknya media massa yang muncul tidak serta merta diikuti dengan mutu pemberitaan yang baik. Hal itu diperkuat data statistic yang menunjukan dari masyarakat.

Zulkarimein Nasution, dalam bukunya yang bertajuk Etika jurnalisme: prinsip-pinsip Dasar (Rajawali Pers, 2015), mengatakan bahwa pelanggaran yang dilakukan media massa disebabkan ketidakpahaman para jurnalis akan etika jurnalisme. Padahal, etika jurnalisme dianalogikan seperti sebuah kompas di sebuah kapal. Media dan para jurnalis layaknya nakhoda yang membutuhkan navigasi agar tidak tersesat dalam melaksanakan misinya yang mulia: mencari dan menyampaikan kebenaran

Oleh : Tegar Roli A., M. Sos

Praktisi Media & Humas Universitas Muhammadiyah Purwokerto

451 kali dilihat, 10 kali dilihat hari ini

Konstruksi Realitas Pemberitaan

Konstruksi Realitas Pemberitaan

Berita adalah hasil konstruksi sosial di mana selalu melibatkan pandangan, ideologi, dan nilai-nilai dari wartawan atau media. Dengan demikian, berita yang kita baca adalah hasil dari konstruksi kerja jurnalistik. Menurut pandangan konstruksionis, berita bersifat subjektif. Hal ini dikarenakan opini tidak bisa dihilangkan karena ketika meliput, wartawan melihat dengan perspektif dan pertimbangan subjektif. Maka, media bukan merupakan saluran bebas, media mengonstruksi realitas sesuai dengan pandangan tertentu, bias, dan unsur pemihakkan. Pandangan konstruksionis memandang media sebagai agen konstruksi sosial yang mendefinisikan realitas. Dengan demikian, berita tidaklah dibentuk dalam ruang hampa.

Ekternalisasi sebagai bagian dari penyesuaian dari dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia, sedangkan obyektivasi sebagai interaksi sosial dalam dunia intersubyektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi dan internalisasi merupakan upaya individu mengidentifikasikan diri dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggota.

Pasca reformasi, media massa memegang peranan penting dalam kehidupan politik di Indonesia. Kekuasaan media dalam menyajikan atau melaporkan peristiwa-peristiwa politik dalam bentuk berita sering memberi dampak signifikan bagi perkembangan politik di tanah air. Media massa bukan saja sebagai sumber informasi politik, tetapi menjadi faktor pemicu terjadinya perubahan politik. Hal ini mengingat kemampuan dan kekuasaan media massa dalam mempengaruhi masyarakat atau khalayak dalam hal ini adalah pemirsa lewat pembentukan opini dan wacana yang diwartakan.[1]

Sejak diundangkannya Undang Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, penyiaran tidak lagi menjadi monopoli Pusat. Sebagai konsekuensinya lahir televisi lokal di berbagai daerah yang merupakan media penyiaran lokal dengan jangkauan terbatas pada wilayah dan target pemirsa lokal di tempat stasiun televisi lokal bersiaran.

Kontruksi realitas pada dasarnya adalah menceritakan, mengonseptualisasikan peristiwa, keadaan tertentu.[2] Tiap aktor sosial berperan dalam proses konstruksi realitas ini, termasuk media televisi lokal. Lebih-lebih bila objek pemberitaan atau peristiwa yang terjadi adalah masalah yang kontroversial, dan menjadi ajang pemikiran/ ideologi serta kelompok tertentu. Karena begitu banyak realitas, media harus melakukan proses filtering, mana yang akan ditampilkan dan mana yang tidak. Begitu juga dengan penayangan berita di televisi lokal, sebelum ditayangkan selalu di edit di bagian editor, mana yang akan ditampilkan dan mana yang tidak dapat ditampilkan. Setelah melalui pengeditan barulah berita itu ditampilkan di media televisi.

Proses konstruksi realitas dalam media massa dimulai dengan adanya realitas pertama berupa keadaan, benda, pikiran, orang, peristiwa, dan sebagainya.[3] Secara umum sistem komunikasi adalah faktor yang mempengaruhi seseorang dalam membuat wacana. Secara tidak langsung, dinamika internal dan eksternal sangat mempengaruhi proses konstruksi. Hal ini juga menunjukan bahwa pembentukan wacana tidak berada pada ruang vakum.

Pengaruh tersebut bisa datang dari pribadi dalam bentuk kepentingan idealis, ideologis, dan sebagainya maupun dari kepentingan eksternal dari khalayak sasaran sebagai pasar, sponsor, dan sebagainya.

Adapun fungsi dan peranan pers Berdasarkan ketentuan pasal 33 UU No. 40 tahun 1999 tentang pers, fungsi pers ialah sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial.[4] Sementara Pasal 6 UU Pers menegaskan bahwa pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut: memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui menegakkkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinekaan mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benarmelakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Berdasarkan fungsi dan peranan pers yang demikian, lembaga pers sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi (the fourth estate) setelah lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif , serta pembentuk opini publik yang paling potensial dan efektif. Fungsi peranan pers itu baru dapat dijalankan secra optimal apabila terdapat jaminan kebebasan pers dari pemerintah. Menurut tokoh pers, Jakob Oetama, kebebsan pers menjadi syarat mutlak agar pers secara optimal dapat melakukan peranannya. Sulit dibayangkan bagaiman peranan pers tersebut dapat dijalankan apabila tidak ada jaminan terhadap kebebasan pers. Pemerintah orde baru di Indonesia sebagai rezim pemerintahn yang sangat membatasi kebebasan pers. Hal satu ini terlihat, dengan keluarnya Peraturna Menteri Penerangan No. 1 tahun 1984 tentang Surat Izn Usaha penerbitan Pers (SIUPP), yang dalam praktiknya ternyata menjadi senjata ampuh untuk mengontrol isi redaksional pers dan pembredelan.[5]

Dalam membuat liputan berita politik atau kebijakan pemerintah yang memiliki dimensi pembentukan opini publik. Media massa umumnya melakukan tiga kegiatan sekaligus yang dipakai untuk mengkonstruksi realitas. Pertama, menggunakan simbol-simbol politik (langue of politic), kedua, melaksanakan strategi pengemasan pesan (framing strategies), ketiga, melakukan fungsi agenda setting media (agenda setting function). Ketika tiga tindakan dilakukan oleh sebuah media dipengaruhi oleh berbagai faktor internal berupa kebijakan redaksional tertentu mengenai suatu kekuatan politik, kepentingan politik para pengelola media, relasi media dengan sebuah kekuatan politik tertentu, dan faktor eksternal seperti tekanan pasar pembaca atau pemirsa, sistem politik yang berlaku, dan kekuatan-kekuatan luar lainnya. Dengan demikian boleh jadi satu peristiwa politik bisa menimbulkan opini publik yang berbeda-beda tergantung dari cara masing masing media mengkonstruksi berita dari kebijakan pemerintah.[6]

Menurut Fishman ada dua kecenderungan bagaimana proses produksi berita dilihat. Pandangan pertama sering disebut sebagai pandangan seleksi berita (selectivity of news). Seleksi ini dari wartawan di lapangan yang akan memilih mana yang penting dan mana yang tidak penting.

Setelah berita itu masuk ke redaktur, akan diseleksi lagi dan disunting dengan menekankan bagian mana yang perlu ditambah. Pandangan ini mengandaikan seolah-olah ada realitas yang benar-benar riil yang ada di luar diri wartawan. Realitas yang riil itulah yang akan diseleksi oleh wartawan kemudian dibentuk dalam sebuah berita.

Pendekatan kedua yakni pendekatan pembentukan berita (creation of news). Dalam perspekif ini, peristiwa bukan diseleksi melainkan dibentuk. Wartawanlah yang membentuk peristiwa.

Menurut kaum konstruktivis, berita adalah hasil konstruksi sosial di mana selalu melibatkan pandangan, ideologi, dan nilai-nilai dari wartawan atau media. Berita yang kita baca adalah hasil dari konstruksi kerja jurnalistik. Menurut pandangan konstruksionis, berita bersifat subjektif. Ini dikarenakan opini tidak bisa dihilangkan karena ketika meliput, wartawan melihat dengan perspektif dan pertimbangan subjektif.[7]

Penyampaian sebuah berita ternyata menyimpan subjektivitas penulis. Bagi masyarakat biasa, pesan dari sebuah berita akan dinilai apa adanya. Berita akan dipandang sebagai barang suci yang penuh dengan objektivitas. Tapi, berbeda dengan kalangan tertentu yang memahami betul gerak pers. Mereka akan menilai lebih dalam terhadap pemberitaan, yaitu dalam setiap penulisan berita menyimpan ideologis/ latar belakang seorang penulis.

Tegar Roli A.

*Humas UMP dan Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (MPI PDM) Banyumas

[1] Wisnu Martha Adiputra, Berkawan dengan Meida, (Yogyakarta: Yayasan TiFA dan Pusat Kajian Media dan Budaya Populer Yogyakarta, 2009) hal. 105

[2] Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Meida Massa, (Jakarta: PT Fajar Interpratama Mandiri, 2008), hal. 13

[3] Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Meida Massa, hal. 25

[4]Askurifai Baksin, Jurnalistik Televisi Teori dan Praktik, (Bandung : Simbiosa Rekatama Media, 2016) hal 47

[5] Ibnu Hamad, Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa : Sebuah Study Critical Discourse Analysis Terhadap Berita-berita Politik, (Jakarta: Granit, 2004), hlm. 38

[6] Ibnu Hamad, Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa : Sebuah Study Critical Discourse Analysis Terhadap Berita-berita Politik, (Jakarta: Granit, 2004), hlm. 2 – 3

[7] Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Meida Massa, (Jakarta: PT Fajar Interpratama Mandiri, 2008), hal. 11

62 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini