Keinginan Adalah Sumber Penderitaan

Keinginan Adalah Sumber Penderitaan

Hawa nafsu merupakan suatu kewajaran karena manusia tercipta dengan membawanya. Akan tetapi jika hawa nafsu tidak dikendali dengan baik maka ia akan terbalik mengendalikan manusia. Hawa nafsu sering kali disamakan dengan keinginan atau hasrat. Sebagai manusia, kita pun mempunyai aneka keinginan, terutama keinginan yang bersifat duniawi.

Kita ingin hidup dengan berlimpah harta. Kita ingin mempunyai pasangan yang cantik. Kita ingin mempunyai mobil mewah keluaran terbaru. Kita ingin ini dan itu, semuanya semuanya dan semuanya. Banyak hal yang kita inginkan di dunia ini yang bersifat duniawi tersebut.

Jika kita tidak mengendalikan keinginan tersebut maka keinginan itulah yang akan mengendalikan kita. Itulah maksud dari hawa nafsu. Jika tidak memperoleh apa yang kita inginkan maka kita akan menderita. Karena tidak ingin menderita, kita bias berbuat hal yang melanggar hokum, seperti korupsi, mencuri, merampok, dan menipu.

Itulah jika hidup kita dikendalikan oleh keinginan. Lain halnya jika kita mengendalikan keinginan. Maka , keinginan tersebut tidak akan menguasai kita. Sungguh, keinginan adalah sumber penderitaan dalam hidup jika kita tidak bisa mengendalikannya dengan baik.

Seolah kita hidup di dunia ini hanya mengejar keinginan-keinginan yang tak kekal dan tak akan kita bawa mati.

Jika kita sederhanakan, keinginan tersebut merupakan kerjaan untuk hidup dalam kekayaa. Keinginan kita bertujuan untuk kekayaan. Padaha, keinginan tersebut adalah sumber penderitaan. Jika kita telah hidup dalam kekayaan maka kita akan merasa miskinjika kita terus mengejar kekayaan yang lebih. Dan begitu seterusnya.

Merasa cukup adalah kekayaan. Jika kita merasa cukup terhadap apa yang kita miliki maka kita sudah kaya. Sederhananya, jika kita tidak menginginkan beragam keinginan maka kita sudah kaya. Hal itu membebaskan kita dari penderitaan yang diakibatkan oleh keinginan –keinginan yang tidak berkesudahan.

Lantas, bagaimana cara agar kita bisa terlepas dari keinginan serta merasa cukup dengan adanya? Jawabannya adalah dengan segala penyakit hati, terutama keinginan-keinginan yang tak berkesudahan.

Sementara itu, syukur adalah menerima apa adanya serta merasa cukup dengan apa yang telah dimiliki.

Manusia yanb berjiwa besar dengan menekankan sikap sabra adalah manusia yang akan menerima kabar gembira. Begitulah kira-kira. Karena sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Sementara itu, manusia yang berjiwa besar dengan mengedepankan sikap syukur adalah manusia yang senantiasa bahagia karena berlimpah nikmat. Hal itu dikarenakan bahwa orang yang bersyukur akan senantiasa ditambahkan kenikmatan untuknya.

2,700 kali dilihat, 55 kali dilihat hari ini

BERKARYA DAN MENGINSPIRASI

BERKARYA DAN MENGINSPIRASI

Perempuan memiliki peran penting dalam setiap langkah kehidupan. Ia adalah sosok yang memiliki semangat hidup inspiratif. Tak lelah terus berkarya demi pengembangan diri, bahkan juga berbagi inspirasi dengan orang lain.

Di sisi lain, perempuan juga merupakan makhluk special dari masa ke masa. Secara kodrati, dia boleh dibilang “pusat kehidupan”, inti keluarga yang merupakan lingkungan terkecil kelompok social. Dari dialah tercetak generasi penerus masa depan bangsa.

Melintas abad ke-21, kemajuan zaman menghadirkan tantangan baru yang semakin kompleks. Di tengah kesibukan menjalani perannya, para pemrempuan perlu mengembangkan potensi, meraih pendidikan tinggi, dan memiliki karir yang baik.

Istilah Multi-tasking alias multiperan begitu lekat dengan kehidupan perempuan. Dia memiliki peran rangkap sebagai pribadi, istri, dan ibu. Sering kali waktu 24 jam tak pernah cukup untuk berbagai aktivitas. Beberapa keinginan kerap harus dikorbankan karena begitu banyak hal lain yang menyita keseharian.

Kemandirian

Namun, apakah mulitperan membuat para perempuan menyerah dan tak lagi mengembangkan diri? Tentu tidak.

Kemandirian menjadi kata kunci untuk menjawab dan tuntutan hidup masa kini. Dengan penuh optimis meraih mimpi, setiap perempuan dapat menemukan potensi terbaik dari diri mereka. Bahkan, tak hanya penyokong, tetap juga dapat menjadi tulang punggung keluarga untuk menopang kehidupan yang lebih baik.

Belakangan ini, banyak kesempatan yang terbuka bagi perempuan untuk mengembangkan diri. Terlebih lagi, seiring kemajuan teknologi yang semaki membuka arus informasi, mendorong munculnya beragam profesi dan bisnis kreatif yang dapat ditekuni. Slah satunya adalah Esi Saputri (23), perempuan inspiratif yang bekerja di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Selain bekerja di Kantor Urusan Internasional, dan Kantor Urusan Dalam Negeri, Esi juga mengajar BIPA dan menjadi guru les prifat di kota setempat. Bahkan hingga kini dia juga focus menekuni usaha online yang merupakan salah satu usaha yang sedang ramai dilakukan oleh anak muda jaman sekarang.

Sebelum masuk menjadi magang karyawan KUI UMP, Esi telah berhasil menjadi mahasiswa terbaik di prodinya. Setelah wisuda menjadi sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, Esi langsung ditarik untuk bekerja di kampus tempat dia belajar (UMP).

Dia bercerita, “Dulu saya sering diminta bantuan untuk bantu-bantu setiap ada acara di KUI. Sebelum wisuda pun saya sudah magang di KUI. Dan setelah wisuda magang pun terus dilanjutkan hingga sampai sekarang.”

“Dukungan dari orangtua dan keluarga sangat penting ketika mengawali kita untuk bekerja, disamping memiliki keberanian dan mimpi. Sebab dukungan itu menjadi bekal kita menghadapi banyak rintangan dalam proses mencapai imipan masa depan. Dan yang terpenting perempuan itu harus berani untuk lebih kreatif. Jadilah inspirasi yang dimulai dari lingkungan kita dlu,” tutur Esi antusias.

Berkerja dan bersyukur

Melanjutkan cerita pengalaman hidupnya, selama ini yang menjadi motivasi Esi dalam bekerjanya adalah karena ada keinginan kuat untuk terus berprestasi dalam hidup. “Sebab, kesuksesan itu bukan dating dari penilaian orang lain, tapi yang aling tahu adalah diri kita sendiri. Serta yang paling penting itu adalah kita senantiasa terus bersyukur,” tungkasnya.

Seperti Esi, magang karyawan KUI UMP lainnya yaitu Dian juga mengungkapkan pentingnya rasa syukur dalam proses bekerja dan berkarya. Sebagai Sarjana Muda yang belum lama wisuda, Dian merasa butuh untuk terus berkreasi dan berkarya.

Dia berpendapat, “Salah satu tujuannya adalah agar kelak di saat saya sudah menikah dan punya anak, dia (anaknya) tah alau yang

Memaknai dalam bekerja,,,

3,192 kali dilihat, 41 kali dilihat hari ini

Bagian  dari Seni Tuhan

Bagian dari Seni Tuhan

Ini bagian dari seni Tuhan, untuk membuat umatnya tidak cepat bosan.

Ya setiap peristiwa yang terjadi yang menimpa pada dirimu, keluargamu, orang-orang terdekatmu itu tidak terlepas dari kuasa Tuhan.

Tuhan tak mau umatnya bosan, sehingga selalu memberikan variasi dalam hidupnya.

Ada suasah, ada senang, ada hitam ada putih, ada gembira, ada susah, itulah kekuasaan Tuhan yang senantiasa kita pahami. Persoalannya tinggal apakah kita mau menerima, atau tidak bagian dari seni Tuhan tersebut.

Ya manusia diciptakan untuk menjadi pemimpin dimuka bumi ini. Kenapa bukan malaikat? Yang selalu berbuat baik. Karena manusia berada ditengah antara setan dan malaikat. Ketika manusia itu keimanannya sedang meningkat, maka kebaikannya bisa melebihi malaikat. Namun sebaliknya, ketika keimanan itu sedang menghilang, maka kejahatannya bisa melebihi Iblis.

Terkadang kita sering merasa bosan dengan rutinitas, tetapi Tuhan tahu apa yang terbaik untukmu. Karena terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurut Tuhan. Tugas kita hanya berencana, untuk hasil kita serahkan kepada yang lebih menguasai rencana, yaitu Tuhan.

Tuhan tidak beranak dan tidak pula diperanakan, seperti yang tercantum dalam dalam Quran Surat Al –Ikhlas,

“Qul huwa Allaahu ahad, Allahu shamas, lam yalid walam yuulad, walam yakun lahu kufuwan ahad.

Katakanlah: Dia-lah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakan. Dan tidak ada seseorang pun yang setara dengan dia.

Begitulah kira-kira tulisan saya hari ini tentang “Bagian dari Seni Tuhan”  saya yakin tulisan yang begitu panjang, kemungkinan besar bukan dibaca tapi malah bisa jadi di buang.

The Jayakarta Yogyakarta Hotel & SPA, 10/10/2018 23:34

1,863 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Saat Hujan Lebat Tiba

Saat Hujan Lebat Tiba

Pada satu hari hujan yang lebat membuat sejumlah orang terjebak di dalam pusat perbelanjaan. Sejumlah orang menggerombol di dekat pintu keluar sambil terus memandangi hujan yang turun dengan deras. Mereka rata-rata diam karena tidak banyak yang saling mengenal satu sama lain. Tiba-tiba ada seorang anak kecil mungil dengan licahnya berlari dari dalam, menerobos kerumunan orang dan dikejar oleh sangi ibunya sambil kerepotan membawa barang belanjaan untuk kebutuhan sehari-hari.

Menjelang pintu keluar, tangan anak ini ketangkap oleh ibunya sambil berusaha membujuk, “Jangan nak, masih hujan!,,” perintah sang ibu “Kita tunggu dulu biar hujannya sedikir mereda,” kata sang ibu.

Si anak terus berontak, “Tidak Umi, kita harus pulang sekarang, hujan tidak apa-apa, kita bisa berlari melewatinya…” paksa si Anak.

Dialog sang ibu dan anak ini mendapatkan perhatian orang-orang yang menyaksikannya, yang tadinya pandangan mereka kearah luar menunggu hujan turu, hampir seluruh mata tertuju padanya, menyaksikan perdebatan sang anak dan sang ibu ini.

Sang Umi pun berusaha terus menjelaskan pada anaknya, “Nanti kita bisa sakit nak,” ucap ibu dengan lirih, “Terus siapa yang merawat kita bila kita juga ikutan sakit,” lanjut sang ibu.

Si anak yang masih balita ini kemudian berusa memberikan jawabannya, “Umi bilang, kalau kita bisa melalui ini, kita akan bisa melalui apa saja..!!”.

Uminya terkejut, “Kapan nak Umi bilang demikian?”

Si anak menjelaskan “Tadi pagi ketika kita meninggalkan Abi dirumah, umi bilang ke abi bahwa ‘kalau kita bisa melalui ini kita bisa melalui apa saja” jawab sang anak.

Si Umi jadi ingat, tadi pagi ketika berangkat berbelanja kepada suaminya yang lagi sakit keras di rumah dia memang berbicara demikian. Persis yang ditirukan anaknya. Akan tetapi yang ia maksud sebenarnya, menyemangati suaminya melawan penyakit yang dengan dahsyat menggerogoti tubuhnya.

Si Umi sadar bahwa yang disampaikan anaknya memang betul, hujan bukan apa-apa dibandingkan dengan apa yang tehan dialami oleh suaminya di rumah. Sambil tersenyum akhirnya dia menuruti keinginan anaknya, “Baik nak, kita akan berlari hujan-hujanan sekarang,” ucap sang ibu, sambil memegang erat tangan si anak itu.

Anak yang tidak sabar, kini menarik tangan ibunya sambil berlari gembira di tengah hujan yang lebat.

Oarng –orang yang sempat tertegun menyaksikan dialog antara ibu dan anaknya tadi mulai terpengaruh. Satu demi satu ikut berlari sambil gembira di tengah hujan lebat yang memang tidak kunjung reda. Barangkali di hati orng-orang yang ikut berlari ini juga tumbuh perasaan yang sama dengan ibu dan anak tadi. Ini hanya air hujan, bila mereka bisa melalui ini, mereka bisa melalui apa saja!

Dalam kondisi basah kuyup, ibu dan anak tersebut akhirnya sampai di rumah. Mereka menjumpai suami dan ayah anak ini semakin parah kondisinya dan si Umi merasakan waktu kepergian suaminya akan segera tiba. Sang Abi kemudian melambaikan tangannya agar istrinya mendekat, sambil tersenyum kepada istrinya dia berbisik, “Umi, aku sudah mencium harumnya bau surga…”

Sambil menangis sedih karena hendak ditinggal suaminya, namun juga gembira karena nampak tanda-tanda khusnul khatimah suaminya, sang istri pun berbisik, “Ajak kami ya bi…”

Sang Abi masih sempat menjawab sekali lagi, “Bukan hanya umi dan anak anak, abi ingin megajak semua orang yang abi kenal…” setelah itu dari mulutnya lirih keluar kalimat La Ilaha Illallah, kemudian sambil tersenyum menutup dan tidak membuka lagi untuk selamanya…

Pecahlah suasana haru dalam keluarga itu… semua perasaan tercampur aduk,

***

Hari itu pun hujan tidaklah mereda, , maka jenazah si Abi dimandikan sampai dimakamkan dalam kondisi hujan yang terus turun. Si Umi yang menunggu di rumah sambil memeluk anaknya, terus meneteskan air mata karena tidak mudah untuk menghilangkan kesedihannya itu. Namun hatinya juga penuh syukur tentang tanda-tanda khusnul khatimah suaminya, tentang semangat yang dibangkitkan oleh anaknya menemani akhir hayat suaminya bisa berlari dalam kondisi hujan. Dia juga ikut bahagia, tadi ketika melihat banyaknya orang yang ikut berlari melewati hujan menirukan apa yang dia dan anaknya lakukan.

Hujan adalah anugrah, banyak rahmat Allah yang kebanyakan kita masih salah memahami hujan ini. Tidak sedikit orang yang sering mengumpat datangnya hujan. Saat hujan datang, banjir pun tiba, itu akibat ulah manusia. Namun alam yang selalu kena getahnya.

Bila kita pelajari dengan benar, kita atasi dampak buruk yang bisa ditimbulkannya, bukan karena hujannya sendiri, tetapi karena kesalahan kita juga, maka insya Allah kita akan bisa mengambil berkahnya.

Betapa banyak di antara kita baik di dalam individu mau pun negara, yang seperti kerumunan orang di pusat perbelanjaan tadi. Kita hanya memelototi hujan yang turun dan menunggunya reda. Betapa banyak kesempatan emas yang bisa jadi adalah satu satunya kesempatan, kita lewatkan dengan sikap “menunggu hujan berhenti”. Si Umi tidak mendapatkan kabar harumnya bau surga bila dia tidak berlari menerobos hujan, maka kini waktunya bagi kita untuk mulai mau berlari ‘mengelola’ hujan. Siapa tahu ‘kabar dari surga’ pun sedang menunggu kita.

Lestarikan alam sekarang juga, janganlah berbuat kerusakan di muka bumi ini, manusia diciptakan untuk memimpin alam jagad raya ini, tapi jangan kau hancurkan sendiri, mudah-mudahan kita dimudahkan untuk senantiasa berbuat dalam kebaikan, Amiin..

2,220 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Singkirkan Kebiasaan Buruk

Singkirkan Kebiasaan Buruk

“Setelah wisuda dengan symbol lebaran, terbitlah la’allakum tattaqun.”

Tegar Roli A.

Lebaran memang sudah berlalu, namun suasana Ramadan masih melekat dalam pikiran dan perilaku kita yang menjalaninya. Salah satu nilai ibadah yang diajarkan dan ditanamkan adalah pengendalian diri.

Pengendalian diri ini berlaku baik terhadap kebutuhan dasar manusia maupun terhadap berbagai perilaku dan kebiasaan diri yang dipandang buruk. Akan lebih positif apabila kita dapat mengubah kebiasaan buruk, sehingga kita dapat menjadi manusia yang lebih baik. Atau dalam istilah agama Islam mencapai titik La’allakum Tattaqun.

Psikologi Agustine Dwiputri yang dikutip pada Harian Kompas edisi Sabtu Juni 2019 Hal. 19 mengatakan kebiasaan buruk adalah pola perilaku negative yang dianggap merusak kesehatan fisik atau mental seseorang dan sering dikaitkan dengan kurangnya kontrol diri. Contohnya menunda penyelesaian tugas, menghabiskan uang, tetlalu banyak, menggigit kuku, merokok, mengumpat dengan kata kasar, ataupun menggunakan gadget berlebihan.

Sebenarnya tidak mudah menentukan mana kebiasaan yang baik dan buruk karena berbeda antar-individu. Namun, ada beberapa kebiasaan umum yang bisa diterima dan tidak diterima oleh masyarakat. Secara sederhana, kebiasaan baik adalah kebiasaan yang membantu mengembangkan diri Anda dan memberi rasa puas tanpa menyakiti diri sendiri dan sesama manusia.

Mengubah Kebiasaan Buruk

Menghilangkan kebiasaan buruk bukanlah dengan menghentikannya, tetapi menggantinya dengan perilaku lain yang leih baik. (Bob Taibbi 2017).

Sejalan dengan ini, Darius Foroux (2019) menemukan cara yang lebih efektif untuk mengubah hidup dengan mengganti berbagai kebiasaan kita. Agak berbeda dengan pandangan sebelumnya, Foroux mengatakan, semua perilaku yang tidak memberi hasil positif adalah kebiasan buruk.

Terkadang, hal yang tidak kita lakukan justru merupakan kebiasaan buruk. Misalnya, saya menganggap kemalasan sebagai kebiasaan buruk. Jika anda terlalu malas untuk bangun dari tempat tidur dipagi hari , malas membersihkan tempat tidur di pagi hari, atau berolahraga, Anda bukanlah orang yang tidak berharga. Anda hanya punya kebiasan buruk yang harus Anda singkirkan.

Bukan berarti setiap orang memiliki ide ide yang sama tentang arti hidup. Akan tetapi, jika kita yakin bahwa tujuan hidup adalah agar berguna, kita perlu kebiasan yang tepat untuk mendukungnya.

Tiga Tips Singkirkan Kebiasaan Buruk

Kita semua tahu bahwa banyak perilaku kita yang buruk. Sederhananya, apa pun yang mencegah Anda menjadi berguna adalah kebiasan buruk. Kebiasan makan junk food, minuman alcohol, mengeluh, menjelajai media social terus-menerus, atau menyerang orang adalah hal-hal buruk. Kebiasaan ini tidak memberikan hasil yang positif. Tidak ada yang merasa senang setelah melakukan hal-hal itu. Namun, kita cenderung mengulangnya, sulit sekali menghentikannya.

Mari kita simak beberapa saran dari Foroux

  1. Nasihat disalahpahami

Kita cenderung membentuk kebiasaan kita berfokus pada suatu kebiasaan sajmembentuk kebiasaan kita berfokus pada suatu kebiasaan saja pada suatu waktu. Padahal, kita memiliki kemampuan unguk membentuk diri satu kebiasaan sekaligus.

Kritik paling umum tentang gagasan “membentuk suatu kebiasaan pada suatu waktu” untuk mengubah hidup Anda. Dalam beberapa hal, itu benar mengingat kadang diperlikan waktu berbulan-bulan untuk membentuk suatu kebiasaan. Mungkin juga perlu bertahun-tahun untuk membangun fondasi kebiasaan baik yang mendukung tujuan Anda.

Kita semua memang harus lebih sabar. Hal-hal yang baik akan dating pada waktunya. Hanya saja, banyak diantara kita yang banyak menyerah sebelum kita benar-benar membentuk suatu kebiasaan baik. Jika ita menghendikan suatu kebiasan baik, kita sering kembali ke perilaku lama kita dalam waktu singkat.

 

  1. Pendekatan lebih ekstrem

Mengganti kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik bukanlah nasihat buruk. Masalahnya, kebanyakan dari kita hanya menerapkan saran itu pasa suatu kebiasaan pasa suatu waktu dan biasanya itu tidak berhasil.

Jika minum soda setiap hari dan makan makanan yang tidak sehat, apa yang akan terjadi jika ana berhenti minum? Jika anda mencoba menggantinya dengan terus makan permen, kripik kentang, atau burger, dalam waktu tidak lama kemudian Anda akan berpikir, “Soda pasti akan terasa enak dengan burger ini”.

Jika anda kecanduan mengkonsumsi berita di media social dan menonton acara televise, Anda tidak bisa “hanya” menyingkirkan aplikasi media social di ponsel Anda, lalu hanya menonton film di salah satu program televise. Sebelum Anda menyadarinya, Anda akan meng-instal ulang aplikasi tersebut dengan satu klik saja. Artinya, dengan mudah Anda akan kembali pada kebiasaan lama.

Jangan menggunakan cara itu. Sebaliknya, berkomitmenlah untuk berubah. Jika Anda benar-benar ingin menghendikan kebiassan buruk Anda, bersikaplah ekstrem pada diri sendiri. Jadi Anda harus menganggapnya lebih serius karena hidup kita adalah masalah serius.

Kita perlu mengingat bahwa jika Anda ingin menghendikan berbagai kebiasaan buruk, hentikan semuanya pada saat yang sama.

 

  1. Perlu gaya hidup yang berbeda

Semuanya bermuara pada satu pertanyaan. Seberapa serius Anda menjalani kehidupan yang bertujuan? Umumnya, kembali pada berbagai kebiasaan buruk terjadi karena suatu alasan.

Hidup itu sulit, kita mengalami kemunduran, stress, dan sakit hati sepanjang waktu. Reaksi alami kita adalah melepaskan diri dari tantangan tersebut. Kita kemudian berkata “Aku perlu bersantai dengan secangkir kopi di sofa”. Nah, di sini sebenarnya kita menipu diri sendiri.

Kita tengah berusaha melepaskan diri dari keputusan hidup. Di dalam diri kita, kita merasa kesepian dan kosong, lalu mencoba mengisinya dengan omong kosong.

Omong kosong itu berbeda untuk setiap orang. Saya mungkin membuka sekantong keriik kentang dan menonton film, Anda mungkin menelpon teman-teman sepanjang malam, dan yang lain mungkin membeli gawai terbaru.

Akan tetapi, jika kita ingin memberikan kontribusi dan membuat diri kita berguna di masa kehidupan yang singkat ini, kita sama-sama membutuhkan gaya hidup yang berbeda.

Kita perlu menjaga tubh dan pikiran kita. Kita pelu tidur nyenyak, makan sehar, berolahraga, membaca buku, merenung hidup kita, dan yang terpenting: jadilah seseorang yang dapat diandalkan orang lain. Kita tidak dapat melakukan hal ini dengan berbagai kebiasaan buruk.

 

  1. Apa berikutnya?

Pikiran tentang seberapa serius Anda menjalani kehidupan yang bermakna. Kemudian, kenali berbagai kebiasaan tidak produktif yang menghambat Anda. Setelah Anda mengidentifikasi kebiasaan itu, putuskan untuk menghentikan semuanya dan putuskan hal itu sekarang juga.

Anda tidak pelu membentuk hanya suatu kebiasaan pada suatu waktu. Jika Anda menghentikannya semua kebiasaan buruk Anda, Anda memiliki kemampuan mental untuk membentuk lebih dari satu kebiasaan sekaligus.

Hanya ada satu kebiasaan: focus pada suatu kebiasaan per area kehidupan Anda. Pembagian area tersebut adalah karir, Anda mungkin ingin tiba dikantor lebih awal setiap hari. Untuk kesehatan, Anda bisa berlari setiap hari. Untuk belajar, Anda dapat menghabiskan satu jam sehari untuk mempelajari keterampilan baru. Untuk hubungan interpersonal, Anda bisa mempraktikan perilaku menolong. Untuk uang, Anda dapat menghemat 20 persen dari penghasilan Anda.

Anda dapat melakukan semuanya dalam satu waktu tertentu. Hanya, peluang kesuksesan Anda akan berkurang ketika Anda akan mencoba untuk mengambil terlalu banyak.

Dapatkanlah Anda belajar banyak keterampilan secara bersamaan? Dapatkah Anda menyimpan uang untuk masa pensiun Anda dan membeli mobil baru? Mungkin dapat, tetapi Anda akan jauh lebih sukses jika melakukan satu hal pada satu waktu.

Selamat mencoba. Mohon maaf lahri dan batin.

1,393 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Siapkah Aku di adili oleh Tuhan yang maha adil?

Siapkah Aku di adili oleh Tuhan yang maha adil?

Ya kata itu terngiang ditelingaku saat merenung di tengah keheningan malam, dengan pertanyaan Siapkah kita di adili oleh Tuhan yang maha super adil.?

Dalam ilmu manajemen ada tiga rencana hidup. Pertama, jangka panjang, kedua jangka menengah, dan ketiga jangka pendek. Dalam rencana jangka panjang hati pun dibenturkan dengan pernyataan,

“Saat aku menghadap ilahi” [] Siapkah aku diadili oleh Tuhan yang maha adil.?

Itu yang perlu kita jawab dengan sebuah perbuatan yang nyata. Apapun itu harus dilakukan, karena sebaik-baik manusia adalah yang memiliki banyak manfaatnya.

Saat aku mati nanti” [] Apa kata orang tentang aku, baikkah?

Kita adalah apa yang kita tanam. Jika kita menanam dengan mengunakan bibit yang bagus maka tumbuh suburlah tanaman itu dengan bagus. Kita adalah apa yang telah kita lakukan selama hidup kita. Jika perbuatan kita baik kepada alam semesta, maka alam semesta pun akan menyambutnya dengan kebaikan. Baik dan buruk kita terletak pada dirisendiri mau dibawa kemana diri kita ini.

Lalu, “Saat aku menghirup oksigen/bernafas” [] Sehatkah, bahagiakah aku bermanfaatkah hidupku ini?

Ya hidup adalah hari ini, bukan hari kemarin yang telah berlalu atau masa depan yang belum tentu. Hebatnya kita adalah sudah memastikan masa depan. Jadi nikmatilah, dan berbuatlah sesuatu untuk hari ini. Karena dalam nilai –nilai Islam pun mengajarkan, Jika hari ini lebih lebih baik daripada hari kemarin, maka termasuk orang yang beruntung. Namun jika hari ini sama dengan hari kemarin itu termasuk orang yang merugi. Dan parahnya lagi, jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka celakalah. Tuhan sudah memberikan modal banyak kepada setiap insan manusia yang hidup. Bayangkan, berapa banyak oksigen yang kita dapatkan dengan Cuma2, belum organ tubuh kita, masa kita bayar dengan sedikit melakukan sesuatu. Itu makanya termasuk orang-orang yang merugi.

Maka dari itu, untuk menjadi manusia yang baik yaitu melakukan, perencanaan hidp yang matang. Dan berbuatlah baik kepada alam raya dan seisinya, karena sebaik baik mansia adalam mereka yang banyak manfaatnya.

Yogyakarta: 11 Oktober 2018

276 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini